Aisha Maharani: Menggerakkan Gaya Hidup Halal

Aisha Maharani: Menggerakkan Gaya Hidup Halal

Beberapa tahun lalu, Aisha Maharani sudah memulai Halal Lifestyle dari akun media sosial Halal Corner. Tak disangka, makin hari respons yang didapat semakin banyak. Kesadaran untuk menggunakan produk halal pun terus meningkat.

Sebelum mendirikan Halal Corner, Aisha bekerja sebagai staf di Lembaga Pengkajian Pangan dan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) selama 13 tahun. Selama itu pula Aisha yang berada di Tim Halal MUI pengetahuannya bertambah seputar gaya hidup halal. Ia kemudian memanfaatkan fanpage Facebook di 2009 untuk mengedukasi seputar halal.

Tahun 2011, Aisha juga membuka akun Halal Corner di Twitter. Dari banyaknya pengikut di akun itu yang aktif, mereka berinisiatif untuk kopi darat. Dari situ pula Aisha  membentuk Komunitas Halal Corner.

Tak lama setelah itu, ibu lima anak ini kemudian mengundurkan diri  dari pekerjaannya karena ingin fokus mengasuh anak-anaknya yang beranjak remaja. Dari situ pula ia putuskan membesarkan Halal Corner. Sejak 2013, Aisha tak sendiri, ia memiliki tim yang rata-rata ibu rumah tangga dan memiliki kesamaan, peduli dengan halal. Dua tahun belakangan ini Aisha membuka jasa konsultan halal dan mentoring untuk UKM.

Saat ini, Instagram Halal Corner memiliki sekitar 50 ribu pengikut dan rutin mengadakan sesi tanya jawab. Momen itu dikatakan Aisha termasuk yang ditunggu-tunggu pengikut akun Halal Corner.

“Artinya, target edukasi halal tercapai, mereka tidak takut lagi, justru merasa perlu informasi,” tambah wanita bernama lengkap Dunianti Hinda Maharani ini.

Beberapa informasi yang disampaikan di antaranya seputar sertifikasi halal yang belum diketahui masyarakat dan informasi mencari produk halal.

“Saya membuat materi informasi halal yang sederhana. Jadi orang tidak takut karena caranya menyenangkan dan bahasanya populer. Selama ini kita kalau denger kata halal itu seolah berat, jadi saya bikin metode belajar halal itu asyik, karena segmennya di media sosial untuk mama-mama muda, disesuaikan bahasanya,” papar wanita kelahiran 31 Mei 1979 ini.

Selain itu, di Halal Corner ada beberapa kegiatan seperti kelas kecantikan untuk membahas seputar kehalalan produk kecantikan dan kelas memasak untuk mengedukasi seputar kuliner sehat dan halal. Ada pula program Sebakul atau sebar kuas halal yang ditujukan ke pedagang kaki lima yang menggunakan kuas dalam proses masaknya agar memakai kuas yang halal, bersih dan terbebas dari najis.

“Kuas itu ada yang terbuat dari bulu hewan, kalau hewannya bukan hewan halal kan tidak boleh, jadinya najis sehingga harus ganti kuasnya. Kuas-kuas halal itu kami bagikan, dananya dari sedekah, kadang diterima kadang ditolak,” kisah Aisha.

Ketika menyampaikan ke masyarakat, Aisha menjelaskan aspek halal atau haram itu luas. Ia mencontohkan, material haram bisa dari mana saja dan haramnya babi bukan hanya dagingnya. Dengan kemajuan teknologi, bisa menjadi bentuk lain seperti dalam bentuk makanan, kosmetik dan obat-obatan.

“Sebagai muslim, kita wajib cari yang halal, ketika sadar cari yang halal maka harus knowing atau pelajari ilmu tentang halal-haram, lalu finding atau cari produk yang halal, selanjutnya keeping halal lifestyle dan mulai dari keluarga, karena seorang ibu itu ibarat ‘penjaga gawang’ makanan di rumah, jadi harus tahu dan siapkan yang halal untuk keluarganya,” pesannya.

Aisha juga sudah meluncurkan buku pertamanya Halal is My Way di 2013 yang mengulas seputar pemahaman dasar tentang halal dan dibuat agar dimengerti semua umur. Mengerjakan segala hal yang berkaitan dengan halal lifestyle akhirnya menjadi passion Aisha.

“Mulai dari bangun tidur, sampai mau tidur lagi pasti itu yang dipikirkan, dibayar atau tidak dibayar, tidak pengaruh, tetap menyenangkan dan ada kepuasan tersendiri apalagi sudah ada peningkatan kesadaran untuk ‘melek’ halal dari masyarakat,” tutupnya. (AR)

---
Foto: Dok. Pribadi

wanita inspiratif, halal lifestyle, ramadan

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments