Medina Kamil: Menghilangkan Trauma Yang Membekas

Medina Kamil: Menghilangkan Trauma Yang Membekas

Bagi Medina Kamil, travelling bukan lagi sekadar mencapai puncak lanskap gunung atau laut yang membentang indah, tapi juga merajut momen indah bersama keluarga terutama kedua anaknya yang sedang lucu-lucunya. Sederhana, tapi sudah cukup bagi Medina Kamil.

Terlepas apapun profesi yang dilakoni, melahirkan adalah kodrat utama kaum wanita. Begitu juga dengan Medina Kamil, mantan presenter acara petualang salah satu TV swasta yang kini tengah menikmati masa-masa menjadi ibu rumah tangga dengan dua buah hati yang sedang memerlukan perhatian darinya.

“Kesibukan saya sekarang jadi ibu rumah tangga dan pengusaha barang-barang outdoor kecil-kecilan,” tutur Medina ditemui di rumahnya.

Baginya, dunia petualang telah menjadi jiwanya. Tak ayal ia memilih barang-barang outdoor sebagai bisnis. Ditanya apakah ia tak merindukan masa-masa di mana ia aktif berpetualang, ia tak menampik bahwa saat ini sudah masuk ke tahap sangat rindu.

“Rindu banget, cuma ini prioritasnya sudah beda dengan dulu pas belum jadi emak-emak,” ujar Medina, sapaan akrabnya.

Itulah mengapa ia tak lalu meninggalkan dunia traveling. Sesekali wanita berdarah Padang ini mengajak suami dan kedua anaknya untuk bepergian.
 
“Kalau pergi nggak bawa anak malah rasanya beda. Tapi pas saya ingin naik gunung ke tempat-tempat  tertentu agak ribet juga soalnya anak-anak masih kecil-kecil banget. Mau nggak mau harus ditinggal beberapa hari. Kebetulan ada saudara yang jagain,” papar istri Deska Anugerah ini.

Biasakan Anak-anak

Ia sengaja membiasakan anak-anaknya traveling. Meski demikian ia tak memaksa anaknya harus menjadi traveller seperti dirinya. Ia hanya ingin anaknya menjadi lebih mandiri dan tidak mudah mengeluh dengan traveling.

“Sarana pendidikan juga buat mereka agar nggak gampang mengeluh sih kalau berada di berbagai tempat. Jadi dibiasakan sedari kecil dibawa di tempat panas mau, di tempat dingin juga. Mungkin kalau udah dididik dari kecil ke tempat-tempat yang gak ada WC, adanya hanya semak-semak, tidur di tenda pula. Jadinya mereka nggak banyak mengeluh dan manja,” seloroh Medina.

Medina sempat bercerita pengalaman bepergian bersama dua putrinya untuk camping di Cibodas. Tak disangka, dua putrinya yang belum genap berusia 3 tahun ini malah excited. Padahal suhu udaranya sangat dingin.

“Jangan salah, mereka malah tahan dingin. Pas tengah malam saya kedinginan eh mereka malah keringetan tuh,” papar Medina disertai tawa.

Terlahir di ibukota tak lantas membuat anak-anak Medina Kamil manja. Medina menjelaskan bahwa ia masih mengajak anak-anaknya main di mal. Tapi ia mengusahakan agar dua buah hatinya selalu bermain berbagai permainan di mal.
“Seperti perosotan atau panjat-panjatan. Itu melatih motorik anak juga,” imbuhnya.

Beberapa minggu lalu, ia juga memboyong dua putrinya ke Pulau Seribu.

“Sempat ke Lombok juga sebulan yang lalu,” tutur pemilik Gudang Alam Store ini.

Bagi Medina travelling adalah kebebasan. Tiga tahun sudah ia melepas masa-masa menjadi traveler. Berbagai kenangan kerap menghampirinya. Salah satu kenangan yang tak terlupakan adalah ketika ia liputan di Timika, Papua.

Trauma Yang Membekas
Kejadian itu tepat sekitar tahun 2006 di bulan Juni ketika akan syuting di Asmat, Papua. Pada saat itu untuk memesan pesawat sangat susah apalagi tempat syuting berada di pedalaman. Akhirnya ia bersama empat anggota tim acara petualang sepakat untuk naik longboat. Diperlukan waktu 12 jam untuk menempuh perjalanan. Tiba-tiba di tengah perjalanan, badai kencang menerpa longboat yang ditumpanginya hingga perahu terbalik.

“Saya bersama produser dan satu juru kamera, tim lain serta tiga awak kapal, semua terapung-apung di laut selama 24 jam,” ungkapnya.

Beruntung, menurut Medina mereka berhasil menepi ke sebuah pulau. “Itu adalah pulau Tiga, pulau kecil yang tak berpenghuni, kami bertahan hidup di situ,” paparnya.

Menurut Medina segala cara ia lakukan untuk bertahan hidup. Termasuk mengais-ngais makanan dari hutan mangrove tersebut. Mereka terpaksa makan kepiting atau ikan-ikan kecil. Dikatakan Medina untung saja salah satu tim ada yang membawa lighter sehingga mereka bisa membakar ikan dan kepiting tersebut.

“Jadi selama empat hari kami mengusahakan untuk bertahan hidup, minum air hujan dan makan segalanya yang bisa dimakan,” ungkap presenter kelahiran Jakarta ini.

Untungnya selama empat hari itu, ada tim SAR dari Pulau Asmat yang patroli. Medina sangat bersyukur ketika tim SAR tiba dengan boat dan mereka semua diselamatkan.

Medina diselamatkan dalam keadaan lemas dan tak berdaya. Ditambah pula kulit tubuhnya gosong akibat terpapar sinar matahari setiap hari. “Saya sempat terpukul karena ada juru kamera dari tim kami dan tiga awak kapal yang hilang. Sampai sekarang tidak bisa ditemukan,” ungkapnya sedih.

Trauma yang mendalam dirasakan Medina paska peristiwa besar itu, bahkan sempat akan berhenti travelling. Menurut Medina bukan perjuangan menghadapi kondisi alam yang ia takutkan. Tapi kejadian tragis yang menimpa teman satu tim itulah membuatnya sangat terpukul.

Traveling Adalah Pembuktian ke Keluarga

Tidak sampai di situ. Kesedihan berlanjut karena tak selang lama bapak Medina meninggal dunia. Ada beberapa keluarganya yang menyalahkan Medina karena ia telah membuat keluarga panik hingga bapaknya terkena serangan jantung. Namun ia tidak terima, karena baginya kematian adalah merupakan takdir Tuhan. Bukannya mundur dengan berbagai cobaan dalam hidupnya, wanita tangguh ini malah bangkit untuk melanjutkan travellingnya.

“Hal pertama yang mendasari keputusan untuk lanjut (travelling) adalah karena ini pembuktian saya pada bapak,” ungkapnya sambil meneteskan air mata.

Masih tergambar jelas dalam ingatannya bagaimana ia sebagai anak paling terakhir sering kali dianggap sebelah mata. Medina selama ini dianggap sebagai anak yang cengeng dan apa-apa serba dilarang.

"Bapak yang bilang kalau memang bisa, ya dibuktikan saja," imbuh Medina.

Alhasil keputusan itu ia tanamkan dalam hatinya untuk tetap terus travelling. Tapi keputusan itu agaknya harus bergeser ketika Medina menikah dan kini memiliki buah hati.

“Ketika hamil itu niat kalau udah lahiran mau jalan. Eh ternyata pas udah 6 bulan isi lagi tuh. Ya sudah sekarang travellingnya bareng-bareng saja deh,” ujarnya lantas tertawa.(DAN)

---
Foto: Zulham & IG @medinakamil