Resa Boenard: Menolak Gaji 42Juta Rupiah Demi Wisata Sampah

Resa Boenard: Menolak Gaji 42Juta Rupiah Demi Wisata Sampah

Kurang pahit apa kehidupan Resa Boenard kecil hingga remaja. Ia dibawa merantau dari Padang Sumatera Barat ke pembuangan sampah Jakarta di Bekasi untuk merintis jual beli sampah plastik dan rongsokan. Namun usaha itu bangkrut karena ayahnya berpoligami. Di tengah keputusasaan tak bisa kuliah, seseorang membantunya. Begitulah semangat kebaikan menular dan terus menyala dalam dirinya.

Berawal dari kegiatan belajar bersama di Sanggar Satu untuk Semua, kini Resa demikian sapanya, mengembangkan BGBJ (baca biji biji – kependekan dari Bantar Gebang Biji). Filosofinya biji-biji yang tumbuh dan berkembang di Bantar Gebang. Namanya berkibar di berbagai belahan dunia sebagai Putri Sampah penyelamat pendidikan anak-anak Bantar Gebang.
    
Konsep baru yang dikembangkannya adalah ‘wisata sampah’ yang menawarkan Bantar Gebang experience, yakni ‘keseruan’ menginap di tengah gunungan sampah dan berkeliling kerajaan sampah Jakarta dengan segala kegiatan di dalamnya. Antara lain menyaksikan atau terlibat dalam kegiatan belajar anak-anak Bantar Gebang serta makan bersama.
Untuk menjaga keberlangsungan BGBJ, Resa rela melepas berbagai kesempatan emas yang singgah padanya.

Salah satunya tawaran bekerja sebagai manajer sebuah restoran Asia di Jerman dengan iming-iming gaji 2500 euro atau sekitar Rp 42 juta per bulan. Bukan itu saja, pemilik restoran juga berjanji akan mencarikannya beasiswa jika Resa ingin kuliah lagi di sela waktu kerja. Jujur Resa mengakui sempat tergoda.
    
“Siapa yang tidak tergiur?” tanya Resa sembari tersenyum. Ia ingat selepas SMA dulu harus mengubur mimpi kuliah kedokteran lantaran usaha sampah ibunya bangkrut sementara ayahnya menikah lagi. Jika kemudian ia bisa kuliah di jurusan Teknologi Informasi Universitas Gunadarma adalah karena kebaikan seseorang yang tak mau disebut namanya.

Selalu Ada Jalan

Karena kebaikan itu Resa ingin memberikan harapan yang sama bagi anak-anak di Bantar Gebang. Bahwa jangan takut bermimpi, karena selalu ada jalan.  
     
“Makanya saya terpaksa merelakan kesempatan emas itu. Teman-teman tim saya mengatakan, ‘jangan egois, hanya karena kamu menginginkan sesuatu jadi melupakan semua mimpi besar yang ingin kamu wujudkan di sini. Beasiswa, suatu saat pasti ada lagi dan kamu mudah mendapatkannya. Karena kamu sudah mendapatkan pengalaman lebih, paling tidak 10 tahun dalam community development. Banyak universitas dan kedutaan serta lainnya akan kasih kamu beasiswa.’,” tutur Resa menirukan perkataan temannya.


 

Rekan Resa juga meyakinkan, bukan tidak mungkin suatu saat akan datang tawaran lebih dari 2500 euro.
“Karena BGBJ ini kan konsepnya masih baru. Ketika orang baru mengenal dengan konsep pariwisata yang cukup unik, kalau saya tinggalkan pasti mati suri. Apalagi yang datang pasti mencari saya. Diakui atau tidak, saya sudah menjadi semacam ikon di tempat ini,” katanya.
    
Tentang konsep baru BGBJ Resa mengatakan dirintis sejak 2014 atas inisiatif John Devlin, seorang pengunjung dari Australia. John mulanya datang hanya ingin mengumpulkan data tentang orang-orang yang hidup di antara sampah sebagai bahan tesisnya. Salah satunya dia menjumpai Resa dan mewawancarainya.
    
“Saya cerita padanya soal kesulitan mendatangkan pengajar. Katanya, ‘Aku tidak sabar untuk mengembangkan konsep bersamamu, sehingga nantinya bukan kamu yang mencari pengajar melainkan mereka.’ Akhirnya muncul hospitality tourism, pemasarannya secara online,” kisah Resa.(TR)

---
Foto: Dok. Pribadi

profil, kisah, Resa Boenard, wisata Sampah

Artikel Terkait

Comments