Niken D. Maharani: Menerjemahkan Marketing

Niken D. Maharani: Menerjemahkan Marketing

Saat kuliah Niken D. Mahanani mendalami teknik industri. Karenanya saat itu ia berpikir, suatu saat hidupnya bakal berkutat dengan mesin dan membaur dengan para buruh pabrik. Ternyata perjalanan karier membawanya mendalami dunia marketing.
    
Nama Niken D. Mahanani kini tercatat sebagai Marketing Manager di PT Standardpen Industries. Tugasnya, memikirkan strategi pemasaran sebuah produk  agar laku terjual di pasaran.
    
“Sebenarnya saya lebih ke marketing strateginya sih. Jadi mulai dari produk itu belum ada nama, belum tahu mau dikasih warna apa. Jadi benar-benar masih baby product,” ungkap Niken, demikian sapanya.
    
Adalah tugas Niken bersama timnya melakukan survei untuk mengetahui saingan dan sebagainya. Niken juga harus memastikan kualitas produk sebelum diterjunkan ke pasar. Beruntunglah dia pernah menimba ilmu teknik industri.
    
“Ya, ternyata di teknik industri dulu diajari basic-nya. Tentang market survey, perencanaan kerja dan lainnya. Jadi blessing in disguise aja sih,” syukurnya.

Jujur Niken mengaku, sewaktu lulus kuliah tidak tahu harus kerja di mana. “Bayangan saya kerjanya di pabrik. Karena dulu kan waktu kuliah ada praktikum mengelas. Tapi ternyata teknik industri itu ekonominya orang teknik. Jadi semua bidang saya pelajari. Jadi ketika disini turun ke pabrik melakukan pengecekan ini itu lebih paham. Ketika bawahan saya bilang ‘ Bu, klip ini nggak bisa, warnanya begini, saya ada gambaran. Saya juga tahu mesin molding dan mesin injection seperti apa cara kerjanya,” papar Niken panjang lebar.  

Ia merenungi, tak ada suatu kebetulan dalam hidup ini. “Kadang-kadang rencana Tuhan itu panjang, tapi sampai juga. Memang agak unik sih ketika sampainya kerja di bidang ini,” katanya dengan pandangan menerawang.

Jalan panjang yang dimaksud Niken, salah satunya ketika dia menjajal kerja di dunia perbankan.

“Tidak bertahan lama karena di perbankan, marketingnya sangat-sangat jualan. Bukan ke strategi,” ujar Niken yang sewaktu kecil bercita-cita jadi dokter.

Santai Di Usia 40
    
Meski tidak kesampaian menjadi dokter, Niken bersyukur jiwa sosialnya sedikit tersalurkan ketika bersinggungan dengan dunia anak dan pendidikan.
Sebagai salah satu produsen oil pastel, Niken memang kerap menggelar aktivitas yang bertujuan mengasah kreativitas anak.

“Sebagai contoh, melalui menggambar atau mewarnai kita ingin membangun empat kecerdasan pada anak, yaitu cerdas gerak, cerdas gambar, cerdas diri, dan cerdas bahasa. Dalam kesempatan beberapa waktu lalu, sekitar  10.000 anak Pascola berhasil mencatatkan Rekor Muri sebagai lomba mewarnai kaligrafi asma ‘ul husna terbanyak lho,” ujar Niken bangga.

Tertarik pada dunia anak dan pendidikan, adakah keinginan untuk membangun lembaga pendidikan? Niken berandai-andai, seandainya itu terjadi dia pasti akan lebih memikirkan strategi pemasarannya.

Tidak mengajar? Niken dengan cepat menggeleng.
“Saya lebih ahli dan menikmati mengatur strateginya. Kalau ngajar nggak ada basicnya. Mungkin kalau ada bisnis sendiri , akan related dengan alat-alat tulis. Tapi bukan mengajar. Karena saya nggak punya lisensi kesana. Tapi kalau diminta membuat strategi produk berkualitas  biar bisa laku, serahkan ke saya deh,” ucap wanita yang hobi memasak dan nonton film action ini.

Memiliki karier bagus, di usia 40 tahun nanti Niken berkeinginan sudah sedikit lebih santai. Minimal Niken membayangkan sudah memiliki bisnis pribadi.

“Hidup kan harus punya margin. Jangan pas-pasan terus.mau nggak mau harus ada margin ekstra. Jadi target di usia 40 tahun sudah harus lebih santai. Punya usaha sendiri, sehingga ada waktu luang untuk merawat diri, anak dan suami. Saya ingin menularkan pemikiran ini juga pada bawahan saya. Mereka juga bisa berada di posisi saya sekarang,” ujar Niken.

Triknya, menjaga profesionalisme kerja. “Kita juga harus tahu kekuatan kita yang sesungguhnya dimana. Apakah kita jago presentasi atau jago hitung-hitungan. Itu kan lebih ke profesional. Kalau passion adalah apa yang kita suka banget. Anak-anak ‘jaman now’ terkadang nggak mau kerja diluar zona nyaman mereka. Nah kalau saya lebih tertantang dengan pekerjaan yang diluar zona nyaman saya,” katanya memberi jeda.

Niken mengaku pantang mengatakan tidak bisa. “Minimal coba dulu deh. Kalau sudah nggak kuat, baru saya akan bilang. Memang sih di usia-usia kuliah dulu, saya juga berpikir maunya kerja sesuai passion. Tapi begitu bekerja moto saya langsung berubah,” lanjut Niken.

Penyeimbang Hidup

Lepas dari profesionalisme kerja, Niken menyeimbangkan hidupnya dengan beberapa hobi. Antara lain olahraga muaythai dan zumba.

Lewat dua olahraga ini, Niken ingin meraih kehidupan yang sehat di hari tua nanti. Niken juga merasa olahraga menjadi penyeimbang hobinya berwisata kuliner.

“Saya orangnya suka makan. Tapi kalau sudah usia sepiring kan, olahraga harus lebih dikencengin. Karena makan sepiring aja, lemak di tubuh nggak luntur-luntur. Nah, bagaimana agar metabolisme tubuh jadi lancar, hajar pakai olahraga. Saya pilih zumba karena lagunya up to date. Sementara muaythai lebih ke booster, bagus untuk jantung,” pungkas Niken yang melakukan olahraga muaythai dengan sang suami. (TR)

Profil, Niken, Marketing

Artikel Terkait

Comments