Kisah Saman Gunan - Penyelam yang Gugur Ketika Misi Penyelamatan Gua Tham Luang Thailand

Kisah Saman Gunan - Penyelam yang Gugur Ketika Misi Penyelamatan Gua Tham Luang Thailand

Selamatnya 13 orang tim sepak bola remaja Thailand yang terjebak di Gua Tham Luang selama hampir dua pekan, menjadi kabar baik yang disambut sukacita oleh seluruh dunia. Namun di balik kabar bahagia itu, ada duka mendalam yang dirasakan keluarga Saman Gunan, salah satu tim penyelamat yang tewas ketika menjalankan misi.

Saman Gunan, 38 tahun, adalah seorang mantan penyelam Angkatan Laut Thailand yang terakhir berpangkat Sersan Mayor. Walau sudah tidak lagi aktif di angkatan laut, Saman secara sukarela bergabung dengan tim penyelamat, begitu mendengar kabar hilangnya tim sepakbola remaja Wild Boars.

Namun ketika ditugaskan untuk mengirim bantuan untuk anak-anak yang terjebak di dalam gua, Saman kehabisan oksigen lalu hilang kesadaran dan tenggelam saat hendak keluar dari Gua Tham Luang itu.

"Tugasnya adalah mengirim oksigen. Sayangnya ia tidak membawa cukup oksigen untuk dirinya sendiri saat keluar gua," kata otoritas tim penyelamat, seperti yang dilansir dari BBC.

Gua Tham Luang sendiri merupakan gua yang cukup panjang, seperti labirin dengan banyak celah, berlumpur dan sebagian besar bagian tertutup oleh air, yang akan naik volumenya ketika hujan deras turun. Hal itu pula yang membuat tim sepakbola Wild Boars terjebak di dalam gua.

Pahlawan di Hati Keluarga

Di keluarganya, Saman dikenal sebagai orang yang berhati hangat, yang selalu memancarkan energi positif kepada setiap orang di sekelilingnya. Istri Saman, Waleeporn Gunan mengungkapkan bahwa mendiang suaminya selalu berpesan untuk selalu menikmati hidup, karena kematian merupakan hal yang tidak bisa diprediksi.

Waleeporn pun mengakui bahwa Saman adalah orang yang suka membantu orang lain. Ia kerap terlibat dalam berbagai kegiatan amal. Kini Saman pun dikenal dunia sebagai seorang pahlawan, yang begitu berani menembus bahaya untuk menyelamatkan mereka yang membutuhkan.

"Ia dipuji sebagai pahlawan atas apa yang sudah dilakukan. Ia suka membantu orang lain dan melakukan kegiatan amal. Saya menggunakan kebanggaan itu untuk mengatasi rasa sedih saya. Ia adalah pahlawan di hati saya, sekarang dan selamanya," ucapnya.

Sang ayah, Wichai Gunan pun tak bisa menutupi kesedihannya. Meskipun sebagai ayah, ia mengaku bangga atas apa yang telah dilakukan anaknya.

"Saya sangat bangga, tapi juga sangat sedih karena kehilangan anak tersayang saya. Semoga kamu tenang. Ayah mencintaimu," kata Wichai.

Kini jenazah Salman telah dimakamkan di sebuah kuil di provinsi Rot Et. Sebagai bentuk penghormatan terakhir, bendera Thailand pun diletakkan di atas peti matinya.

---
Foto: AFP Photo/Thai News Pix