Annisa Rahmania: Tuna Rungu Perwakilan Indonesia di Festival Seni di UK

Annisa Rahmania: Tuna Rungu Perwakilan Indonesia di Festival Seni di UK

Dari aktif berorganisasi, Nia mengukir prestasi lainnya. Tahun 2016 dia mendapat kesempatan ke London menghadiri festival seni Unlimited Disability Arts UK dan menjadi satu-satunya tuli yang mewakili Indonesia di sana.

Nia mengisahkan, saat itu dia masih menjabat Liaison Officer di Komunitas Disabilitas Muda (Young Voices Indonesia). Dalam kunjungan Jo Verrent yang merupakan pencetus Unlimited Festival Disability Arts ke kantor British Council di Jakarta, Nia menceritakan situasi masyarakat Indonesia masih terperangkap dalam pemikiran yang mengategorikan disabilitas sesuai kedisabilitasannya. Ketika percakapan semakin melebar, ternyata hal itu menarik keputusan mereka untuk merekomendasikannya sebagai salah satu delegasi Indonesia.

Sepulang dari Unlimited Festival Disabiliti Arts di London, Nia mempelajari tarian kontemporer di bawah arahan Candoco Dance Compani untuk acara Gala Balet Inklusif diselenggarakan Ballet.ID. Itu menjadi pengalaman baru karena sebelumnya dia yang biasa mengikuti gerakan koreografer, tiba-tiba harus mengeksplorasi gerakan sendiri lebih variatif.

Sebelumnya, masih di tahun yang sama, Nia terpilih sebagai salah satu delegasi program pertukaran USA-Indonesia Deaf Youth Leadership Program ke Amerika. Sesuai dengan target USA-Indonesia Youth Leadership, Cultural Exchange and Human Rights Program, Nia dikatakan unggul karena aktif berpartisipasi di bidang disabilitas sebagai aktivis dan punya komitmen berkontribusi mengawali implementasi UU Disabilitas di Indonesia.

Di antara banyak tempat, yang paling menarik baginya saat bertemu 4 dari 15 pekerja Tuli di NASA, mengunjungi White House karena salah satu delegasi adalah resespionis tuli untuk Presiden Obama di West Wing-White House dan terlibat dalam pertemuan di UN dengan para aktivis hak disabilitas.  
    
Mahasiswa Terinspiratif

Tak selalu lancar, berbagai kegiatan yang dia ikuti di komunitas selama ini sempat diragukan orang tuanya yang takut kuliahnya terlantar. Sesekali Nia memang pernah mengajukan izin pada dosen untuk mengganti waktu ujian demi mewakili Young Voices Indonesia berpidato di Parlemen UK dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional tahun 2013.

Keluarga dan dosennya sempat menuduh Nia kurang memprioritaskan pendidikan. Namun, Nia tetap bersikukuh dapat membagi waktu antara berkomunitas dan kuliah. Terbukti, dia masuk dalam peringkat terbaik tiga besar di Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Trisakti.

“Bahkan saya dapat gelar mahasiswa terinspiratif,” ungkapnya senang.

Karenanya, Nia berpesan untuk teman-teman tuli yang masih menutup diri dari dunia luar dan cenderung menyesali keadaan mereka saat ini.

“Menyesali keadaan diri sebagai disabilitas atau berpura-pura menjadi orang dengar itu membuang-buang waktu. Keluarlah dari zona nyaman, tunjukan passion tanpa menyembunyikan identitas sebagai disabilitas dan tularkan sisi positif pada orang-orang di sekitar “ pungkas Nia.

Buka Pikiran dan Hati

Saat ini Nia juga memimpin organisasi disabilitas muda, Young Voices Indonesia yang merupakan perkumpulan disabilitas seperti tunanetra, tuli, tuna fisik dan tunadaksa di bawah Yayasan Wisma Cheshire.

Di komunitas ini mereka mempelajari kepimpinan, mengenal hak-haknya sebagai disabilitas, dan memanfaatkan media sebagai wadah advokasi. Dari komunitas ini banyak pula peluang untuk ikut berbagai lokakarya ramah disabilitas dan memperluas networking dengan komunitas kepemudaan lainnya seperti Sinergi Muda, SSEAIP (Ship for South East Asian and Japanese Youth Program) dan lainnya.

“Kami secara tidak langsung mendorong mereka agar semakin terbiasa menciptakan pembauran disabilitas dan non disabilitas dan menjadikan suatu aktivitas yang ramah disabilitas. Sebagian dari anggota Young Voices juga berpotensi mewakili Indonesia dalam program atau kompetisi dari tingkat nasional sampai internasional,” jelasnya.

Sebagai tuli sekaligus kelompok minoritas bahasa (pengguna bahasa isyarat), menurut Nia ada beberapa permasalahan yang biasa mereka hadapi, seperti kesulitan membujuk penyelenggara acara untuk menghadirkan dua juru bahasa isyarat agar saling tandem demi menjaga efektifnya komunikasi dua arah. Rupanya, penyelenggara acara mempermasalahkan kendala bujet dan masih menganggap satu juru bahasa isyarat bisa “on” terus, padahal perlu bergantian.

Permasalahan lain soal aksesibelnya media informasi visual pada transportasi yang belum merata dan tak jarang membingungkan tuli. Selain aktif di komunitas, Nia saat ini menjadi pekerja lepas di kantor Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia dan bekerja sama mengerjakan proyek pembuatan buku ilustrasi tentang Undang-Undang Disabilitas yang mudah dipahami oleh disabilitas intelektual.
Untuk itu Nia berharap masyarakat mau mengubah stigma negatif menjadi positif terhadap disabilitas. Minimal, mereka mau membuka pikiran dan hati untuk terus mendukung suara disabilitas dan kebutuhannya.

“Kami akan bersama menciptakan pembauran disabilitas dan non disabilitas dalam aktivitas lengkap dengan akomodasi yang layak” tegas Nia.

----
Teks: Arimbi Tyastuti
Foto: Dok. Pribadi