Anne Regina Nancy Toar : Tantangan Terbesar Pada Diri Sendiri

Anne Regina Nancy Toar : Tantangan Terbesar Pada Diri Sendiri

Menekuni bidang Teknik Informatika (TI) memiliki kesan tersendiri bagi Anne. Keahliannya itu juga membuatnya mendapat banyak pengalaman baru dan bisa berbagi pada sesama.  
 
Keahliannya di bidang TI membuat Anne sering diundang sebagai pembicara di berbagai seminar dan pelatihan. Seperti ketika dijumpai WI awal pekan lalu, Anne baru pulang dari Semarang usai jadi pembicara di sebuah kampus. Awal bulan ini ia juga menjadi salah satu pembicara pada perhelatan dunia, Facebook F8 di California. Saat itu ia menyampaikan tentang peran wanita di bidang teknologi yang membangun ekosistem.

Anne menjelaskan, usai menyelesaikan S1 di Universitas Klabat Manado, dia bekerja sebagai staf TI di Badan Pertanahan Nasional. Kemudian pernah pula bekerja di beberapa tempat untuk mendesain situs web, desain grafis, programmer, trainer sampai konsultan.

“Aku selalu merasa kurang jadi ingin terus mengembangkan diri dan dunia TI juga kan selalu muncul hal baru,” jelas wanita 27 tahun ini.

Kini hampir 1,5 tahun wanita asal Manado ini menjadi manager engineer di perusahaan e-commerce Bukalapak. Anne bertanggung jawab mendukung perkembangan dan pertumbuhan karier para engineer di tempatnya bekerja.

“Di sini lebih fleksibel, orangnya berbagai macam dan aku harus melayani para engineer yang rata-rata introvert jadi harus mendekatinya secara personal,” kata wanita yang sedang menyelesaikan tesis ini.

Dunia TI memang identik dengan pria. Untungnya Anne terbiasa dan dia memang lebih nyaman berteman dengan laki-laki. Malah ia merasa diuntungkan karena sering didahulukan. Untuk para wanita yang lingkup kerjanya didominasi pria, menurut Anne sikap yang terpenting ada pada diri sendiri.
    
“Tantangan terbesar bukan lingkungan tapi diri sendiri. Suka merasa nggak bisa atau ada yang nggak mau coba dulu. Jadi harus lebih percaya diri dan biar tahu kemampuannya coba dulu, kalau nggak bisa baru tanya,” pesan wanita berambut panjang ini.

Kembangkan Diri

Perjalanan Anne bisa sampai di titiknya saat ini juga salah satunya berkat penyesuaian dirinya dengan lingkungan. Anne mengenang, dulu ia termasuk pendiam. Saat kuliah pun lebih senang duduk di belakang.

“Sekarang harus duduk di depan dan bicara dihadapan banyak orang. Jadi harus bisa menempatkan diri lebih baik,” ujarnya.

Selama ini pun Anne lebih sering menerima tawaran pekerjaan ketimbang melamar pekerjaan. Menurutnya hal ini tak lepas dari networking dan hasil kerja kerasnya selama ini. Hingga saat ini berbagai pencapaian sudah diraihnya. Misalnya bersama teman-teman di komunitasnya pernah menjuarai LINE Developer Challenge 2017 untuk kategori gim.  

“Pencapaian itu bagiku sebagai milestone dan harus bikin lebih lagi, tidak berhenti di situ saja,” sambungnya.

Untuk para wanita Anne berpesan agar terus mengembangkan diri.

“Lakukan sebaik mungkin karena apapun yang kita lakukan, kalau kita berusaha yang terbaik pasti dapat yang terbaik juga,” pungkasnya.

Bukan Karena Tidak Mau

Anne juga aktif di beberapa kegiatan sosial. Di antaranya, ia mendirikan Komunitas FemaleGeek dan turut serta di gerakan sosial Blind Coding yang membantu teman-teman dengan keterbatasan penglihatan untuk belajar coding.

Sudah dua tahun ini Anne mendirikan Komunitas FemaleGeek sebagai tempat bagi para wanita yang berkecimpung di dunia TI untuk berbagi ilmu, berbagi cerita dan saling menguatkan. Sekitar 700 wanita dari 13 kota bergabung di komunitas ini. Mereka biasanya berkomunikasi melalui media sosial atau aplikasi chatting.
    
Sedangkan di gerakan sosial Blind Coding, Anne mengajari teman-teman tunanetra sebagai pelatih untuk kemudian membagi ilmunya lagi ke teman-teman sesama tunanetra lainnya. Walaupun secara teknis ada sedikit kesulitan, tapi Anne senang melihat semangat juang mereka.
    
“Mereka fokus dan semangat belajar. Bahkan mereka menyiapkan diri dengan belajar dulu di rumah sebelum kami latihan,” ungkap Anne.
    
Wanita yang hobi menggambar ini pun berharap lebih banyak orang yang mau berbagi. Seperti yang ia lihat di komunitasnya, tidak mudah mencari yang bersedia berbagi ilmu dan pengalaman walau banyak yang pintar dan berprestasi.

“Yang aku lihat bukan karena nggak mau, tapi malu. Padahal kalau kita berbagi malah kita akan dapat banyak pelajaran juga. Bukan hanya orang lain yang menerima tapi kita sendiri juga,” tutupnya.
 
----
Teks: Arimbi Tyastuti
Foto: Zulham