Puasa Justru Membuat Kadar Gula Dalam Tubuh Terkontrol

Puasa Justru Membuat Kadar Gula Dalam Tubuh Terkontrol

Memasuki bulan ramadan, penderita diabetes tidak harus menghindar dari ibadah berpuasa. Karena justru dengan berpuasa, gula darah seseorang dapat terkontrol dengan baik.

Ironisnya lagi, saat ini diabetes tidak saja menyerang orangtua, namun juga anak-anak. Maka dari itu orang tua memegang peranan penting dalam melindungi keluarga dari diabetes. Faktor gaya hidup tidak sehat menjadi pemicu diabetes tipe 2, antara lain jumlah asupan energi yang berlebih. Kebiasaan mengonsumsi jenis makanan yang tinggi lemak dan gula juga jadi pemicu.

Penyebab lain adalah makan tidak teratur, tidak sarapan, kebiasaan mengemil, teknik pengolahan makanan yang salah (banyak menggunakan minyak, gula, dan santan kental).  Ditambah lagi kurangnya aktivitas fisik yang diakibatkan kemajuan teknologi dan tersedianya berbagai fasilitas yang memudahkan.

Bagaimana penderita diabetes mengatur pola makannya selama berpuasa?  Penyintas diabetes, dr. Astrina Yulda atau biasa disapa dr. Ririn mengatakan tak ada kendala sama sekali bagi penderita diabetes dalam menunaikan ibadah berpuasa di bulan Ramadan.

“Pengalaman saya  puasa Senin – Kamis, gula darah saya bisa drop banget. Bisa 110-115, selalu di angka tersebut sih,” ungkap wanita 64 tahun itu.

Ia hidup dengan diabetes sejak 32 tahun lalu, atau bersamaan dengan kelahiran putri keduanya. Awalnya, ia tak mengetahui bahwa dirinya mengidap diabetes. Baru setelah melahirkan bayi dengan bobot 4,5 kg, ia menyadari hal ini.

“Tapi karena saat proses persalinan kan nggak tahu kalau diabet, jadi waktu itu secara normal lah. Ketika itu memang nggak ada pemeriksaan kadar gula sama sekali. Kalau tahu, pasti sudah dirujuk untuk operasi Caesar ya” kenang dr. Ririn.

Namun lucunya, meski ayahnya memiliki riwayat diabetes, kala itu dr Ririn juga tak kunjung percaya dirinya menderita penyakit tersebut. Ia baru percaya ketika suatu ketika sangat merasa kelelahan yang luar biasa.

“Tiba-tiba setelah minum air teh kemasan, saya langsung nggak sadarkan diri. Seketika saya dibawa ke rumah sakit. Dari situ baru ketahuan saya diabet,” ujar mantan ketua Persadia Kota Depok, Jawa Barat itu.

Dr. Ririn  baru menyadari bahwa pola hidupnya saat itu memang sangat buruk. Ia yang sangat menyukai the kemasan manis dan dapat mengonsumsinya hingga 4 kota per hari, kini harus tergantung pada obat.

Agar kadar gula darahnya stabil, dr. Ririn berusaha keras. Ia tak mau mati sia-sia. Sejak saat itu pula, ia memulai diet dan rutin minum obat diabet.

“Diet yang saya terapkan adalah diet 5:2. Artinya 2 hari puasa Senin dan Kamis. Yang 5 harinya tetap makan biasa dengan komposisi sayur , buah dan protein lebih besar ketimbang nasi,” urai dr. Ririn.

Hingga saat ini ia masih mengonsumsi nasi, walaupun hanya 2 sendok makan saja. Bahkan dalam kurun waktu 5 tahun ini, nasi digantinya dengan bubur gandum atau oatmeal.

“Walaupun awalnya terasa aneh, tapi lama-lama jadi terbiasa. Selebihnya banyakin lauk, sayur dan buah. Jangan lupa untuk pola makan orang diabetes itu tidak sama dengan orang normal. Yang diabetes pola makannya kan 5 kali, maksudnya 3 makan besar, 2 snack. Biasanya untuk snack saya makan pada jam 10.00-11.00 pagi dan sore hari di jam 16.00,”  katanya.

Ia mengaku termasuk orang yang sangat khawatir akan penyakitnya. Itulah mengapa ia benar-benar menjaga pola makan dan gaya hidupnya yang berbuah dengan kadar gula yang kini terkontrol dengan baik.

“Bahkan seperti  pengalaman saya, saat berpuasa gula darah malah normal. Kalau makannya sudah dijaga, jangan lupa rutin olah raga dan doa pada Allah SWT,” tutup wanita murah senyum ini.

-----
Teks: Dewi Muchtar
Foto: Istimewa