Bantu Anak Terhindar Dari Radikalisme

Bantu Anak Terhindar Dari Radikalisme

Maraknya kasus teror bom akhir-akhir ini membuat banyak orang tua merasa resah. Bagaimana jika akhirnya anak kita terpengaruh paham radikal? Langkah apa yang harus dilakukan oleh orang tua?
    
Sebelum mencapai usia di mana ia dapat memilah mana yang baik dan yang buruk, anak terlebih dahulu akan melewati fase di mana ada banyak sekali pertanyaan di kepalanya. Segala hal yang terjadi di sekitarnya akan melahirkan rasa penasaran yang luar biasa, dan ingin mempelajarinya.
    
Itulah mengapa psikolog Adib Setiawan, M.Psi., menekankan bahwa penting untuk menyeleksi segala media belajar maupun hiburan yang diberikan pada si kecil, sedini mungkin. Perhatikan apa saja yang ditonton oleh anak di televisi, gawai, atau media lainnya. Kalau bisa, Adib pun menyarankan agar orang tua selalu memberikan pendampingan pada anak, sehingga ketika ada sesuatu yang membuatnya penasaran, orang tua selalu bisa menjadi tempat untuk bertanya.

“Sebaiknya anak lebih banyak menonton film yang sifatnya edukatif, yang tidak ada unsur kekerasan. Lalu ketika anak sudah usia 9 tahun ke atas sampai usia remaja sebaiknya sering didampingi ketika melihat berita, supaya anak bisa mendapatkan keseimbangan dalam melihat suatu masalah atau agar tidak dipengaruhi oleh media yang menyesatkan,” papar psikolog dari www.praktekpsikolog.com, Bintaro, Jakarta Selatan, ini.

Latih Anak Berpikir Kritis Namun Realistis

Salah satu cara yang juga dapat dilakukan oleh orang tua, agar anak terhindar dari paham radikalisme adalah dengan melatihnya untuk berpikir kritis namun tetap realistis. Perbanyak komunikasi dan diskusi dengan anak, setiap ia mengalami suatu permasalahan, hingga terbangun mindset bahwa setiap masalah bisa diselesaikan dengan jalan komunikasi. Latih juga ia untuk selalu mengungkapkan kekecewaannya secara sehat, bukan dengan cara kekerasan. Karena anak seringkali menjadikan orang tua sebagai panutan, maka dalam hal ini, Adib juga menyarankan orang tua untuk selalu bersikap netral akan segala permasalahan yang ada di masyarakat.

“Latih anak untuk assertive, mengungkapkan kekecewaan secara sehat dan jangan biarkan anak kesal pada situasi kondisi politik atau pemerintahan, karena bisa memicu paham radikalisme. Sebisa mungkin orang tua bisa menilai secara fair setiap situasi, serta berusaha menolak serta mengecam segala bentuk kekerasan yang dilakukan oleh siapapun.Biasakan juga orang tua berkomunikasi dengan anak dan memecahkan sesuatu dengan jalan komunikasi,” terang Adib.
    
Lebih lanjut, Adib menambahkan, anak sebaiknya juga diajarkan tentang konsekuensi. Contoh sederhana, misalnya ia tidak mengerjakan PR, maka esoknya tentu ia akan menerima hukuman dari guru, sebagai konsekuensinya. Begitu pula dengan perbuatan radikal yang merugikan banyak orang, beri penjelasan padanya bahwa itu bukanlah hal yang baik. Ada konsekuensi buruk yang akan diterima, dari setiap perbuatan yang tidak baik.

Pentingnya Tanamkan Toleransi Beragama
    
Mengajarkan tentang toleransi pada anak sejak dini adalah hal yang sangat penting. Menurut Adib, orang tua harus bisa memberi pemahaman bahwa manusia di dunia ini terdiri dari beragam suku dan agama, sehingga wajar  jika ada orang yang memiliki pandangan dan keyakinan yang berbeda dengan Ajarkan ia untuk selalu menghargai perbedaan itu dengan cara  menghormati sesama manusia.

“Sebaiknya anak diajarkan sikap toleransi sejak dini, dengan cara melatih anak untuk menghargai dirinya, menghormati orang tua dan guru, serta menghargai teman dan seluruh umat manusia. Sejak dini, larang anak untuk mengejek orang lain, terutama mereka yang dari suku dan agama yang berbeda. Dengan membiasakan tidak menghina orang lain, maka toleransi seorang anak akan meningkat,” jelas Adib.

Terakhir menurut Adib, orang tua juga harus menjelaskan pada anak bahwa tidak ada agama yang mengajarkan tentang kekerasan. Jika ada agama yang mengajarkan aksi kekerasan, maka orang yang memeluk agama tersebut memiliki pandangan yang salah. Oleh sebab itu jika ada orang mengajarkan kekerasan maka sebaiknya dijauhi. Minta anak untuk berhati-hati dalam bergaul.

----
Teks: Nydia Jannah
Foto: Istimewa