Cek Tekanan Darah Di Rumah

Cek Tekanan Darah Di Rumah

Saat ini penyakit hipertensi sangat  berkaitan erat dengan  stroke, jantung dan gagal ginjal. Bahkan tren prevalensi ketiga penyakit yang disebabkan oleh  hipertensi ini terus meningkat.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan gangguan pada system peredaran darah yang dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah di atas nilai normal. Yaitu melebih 140/90 mmHg.  Hipertensi juga meningkatkan risiko stroke.

Untuk menekan risiko tersebut, kampanye edukasi masyarakat dengan slogan CERAMAH atau cek tekanan darah di rumah, terus dilakukan. Melalui metode ini, maka pasien  dapat menjaga tekanan darahnya sehingga tidak terjadi risiko stroke berulang.

“Dengan mengukur tekanan darah di rumah, akan didapatkan informasi besarnya variasi tekanan darah. Sehingga penting pada setiap individu dengan hipertensi untuk melakukan pengukuran sendiri tekanan darah di rumah,” ungkap Dr. dr. Yuda Turana, SpS.

dr. Yuda menambahkan, di Asia, beban hipertensi sangat tinggi, dengan beberapa negara terus mengalami tingkat kematian yang meningkat akibat penyakit kardiovaskular ini. Dari data penelitian survey yang dilakukan InaSH selama bulan Mei di seluruh Indonesia, dengan subyek sebanyak 71.894 orang, menunjukkan bahwa hipertensi meliputi semua tingkat pendidikan. Pada survei ini pun ada beberapa fakta menarik bahwa hampir 25 % subjek hipertensi laki-laki tidak mengukur tekanan darah dalam satu tahun terakhir dan yang telah terdiagnosis hipertensi hanya 61 % yang meminum obat hipertensi dan 30 % diantaranya masih merokok.

Ubah Pola Hidup Sehari-Hari

Sementara itu, mengenai hipertensi sebagai salah satu faktor risiko penyakit Kardiovaskular (KV), dr. Arieska Ann Soenarta, SpJP, FIHA, FAsCC menjelaskan, tiga puluh persen kematian di dunia disebabkan adanya kelainan KV.

Faktor risiko yang menyebabkan kelainan KV ada banyak dan akan semakin bertambah. Namun dari seluruh faktor risiko yang ada, hipertensi menduduki peringkat teratas. Oleh karena itu, penting bagi pasien hipertensi untuk memperhatikan juga faktor risiko KV yang dialami.  Faktor risiko yang tidak dapat dihindari adalah faktor keturunan.

“Pada pasien hipertensi, jantung dapat mengalami pembengkakan saat tekanan darah pasien tinggi. Selain itu, gangguan aliran pembuluh darah koroner juga dapat terjadi akibat adanya penyumbatan aliran darah pembuluh darah koroner, dan apabila tidak ditindaklanjuti dapat menimbulkan penyakit jantung koroner  dan berujung kematian,”katanya.

Dr. Ann menambahkan, selain faktor risiko kelainan KV, konsumsi garam juga patut di perhatikan bagi pasien hipertensi.

“Konsumsi garam yang berlebih dapat menyebabkan kelebihan cairan dalam tubuh sehingga menambah beban kerja pembuluh darah. Garam yang dimaksud adalah Garam Natrium seperti yang didapat dalam garam dapur, soda kue, baking powder, bahan pengawet makanan, dan Vetsin,” lanjut dr. Ann.

Masih dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua InaSH, ahli ginjal hipertensi dr. Tunggul D. Situmorang, SpPD-KGH, mengungkapkan sebagian besar penderita hipertensi yang tidak diketahui sebabnya, dikategorikan sebagai hipertensi Primer (Essensial Hypertension). Penyebab utamanya adalah konsumsi garam berlebih atau gangguan pengolahan asupan garam pada orang tertentu (salt sensitive).

Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang diketahui penyebabnya misalnya penyempitan pembuluh darah ginjal (hipertensi renovasculer), penyakit parenkim ginjal, Obstructive Sleep Apnea (OSA) faktor hormonal misalnya Hyperaldosteronisme, Feokromasitoma, Koartasio Aorta, Sindroma Cushing. Pada hipertensi sekunder umumnya bisa disembuhkan dengan mengobati penyebabnya.

“Hipertensi yang tidak terkendali dapat merusak semua organ yang memiliki pembuluh darah, salah satunya gangguan fungsi ginjal yang menimbulkan GGK (Gagal Ginjal Kronik). Untuk pengobatan, dapat dilakukan TPG (Terapi Pengganti Ginjal) berupa dialisis seperti cuci darah, CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialisis) atau transplantasi ginjal,” ujar dr. Tunggul.

“Pengendalian hipertensi masih menjadi hal yang penting.  Tentunya didukung dengan perubahan pola hidup sehari-hari, seperti berhenti merokok, mencegah kegemukan (overweight/obese), olah raga teratur (3-4X dalam 1 minggu) selama 40 menit dan pengendalian faktor risiko diabetes dan kolestrol. Dianjurkan juga untuk melakukan diet DASH (Diet Against Systolic Hypertension) dengan asupan garam tidak melebihi 2,4 g/hari dan rutin mengonsumsi buah dan sayuran,” tutupnya.

---
Teks: Dewi Muchtar
Foto: Istimewa