Bahaya Mengenalkan Gadget Kepada Balita

Bahaya Mengenalkan Gadget Kepada Balita

Anak-anak di bawah usia 5 tahun menurut Psikolog Anak & Keluarga Amanda Margia Wiranata, belum siap dengan paparan cahaya gawai lama-lama. Itulah mengapa dengan tegas ia menyarankan para orang tua untuk tak mengenalkan gawai pada mereka.

“Mungkin tujuan awalnya hanya demi menenangkan anak. Tapi ingat efek buruknya dalam jangka waktu panjang. Selain terganggu kesehatan penglihatannya, bisa jadi saat sekolah nanti anak kesulitan memusatkan perhatian,” ungkap Amanda, demikian sapanya.

Hadir sebagai narasumber dalam seminar Peran Orang Tua di Era Digital oleh Standard Chartered Bank Indonesia pekan lalu Amanda menjelaskan, pergerakan gambar yang sangat banyak dan cepat yang biasa tersaji melalui gawai membuat anak mendapat terlalu banyak stimulasi dari berbagai sisi. Hal ini dapat mengakibatkan kebosanan pada anak saat berhadapan dengan dunia nyata.

“Begitu datang ke sekolah dan gurunya lebih banyak ngomong misalnya, dia akan bosan. Bahkan menjadi tidak sabaran,” lanjut Amanda menyontohkan.

Lebih jauh tentang perbandingan dunia maya dan nyata Amanda menyontohkan game atau aneka permainan yang diunduh melalui gawai.

“Dalam game, ketika satu babak permainan gagal dia bisa mengulang lagi dan lagi. Tapi di kehidupan nyata kan tidak begitu mudahnya. Ada proses dan perjuangan yang harus dijalani jika seseorang mengalami kegagalan,” katanya mengingatkan.

Efek terburuknya dari kekecewaan ini menurut Amanda, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang mudah marah dan depresi.

Menjauhkan yang Dekat

Sebuah keluarga makan bersama namun sibuk dengan gawai masing-masing, mungkin itu menjadi pemandangan jamak belakangan ini. Maka Amanda mengajak para orang tua untuk merenungi kebiasaannya. Apalagi jika sudah terlanjur mengenalkan, bahkan mungkin membelikan gawai khusus untuk anak-anak balita.

“Jangan sampai anak menjadi kecanduan sehingga kurang bersosialisasi karena kebanyakan nonton dan bermain gawai,” pesan Amanda.

Lantas bagaimana langkahnya? “Kalau anak minta bilang saja baterainya habis. Sebagai gantinya mainlah bersama anak dan ciptakan permainan-permainan menarik sehingga anak lupa dengan gawai. Sebab bagi anak yang penting adalah kehadiran kita sebagai orang tua. Terlebih lagi, anak-anak di bawah lima tahun memang harus banyak berkembang motorik kasarnya,” tegasnya.

Banyak hal yang menurut Amanda bisa dilakukan. Misalnya memainkan sumpit untuk mengambil bola-bola kecil dengan kategori warna-warna tertentu. Permainan ini selain melatih motorik kasar dan ketangkasan tangan, anak juga belajar mengenal dan mengingat warna. “Kuncinya orang tua jangan malas mikir,” Amanda mewanti.

Bisa juga sekedar bermain masak-masakan atau guling-guling dan panjat-panjat. Kegiatan yang terlihat sepele ini nyatanya membuat anak terlatih mengendalikan badannya.

“Survei membuktikan saat ini banyak anak kurang bermain secara nyata.Jadi jangan dibatasi aktivitas fisiknya. Jatuh juga nggak masalah, supaya dia belajar lebih hati-hati. Sehingga seiring waktu anak akan berpikir, ‘Ooo ternyata banyak hal lain yang lebih menarik ya.’,” ucapnya.

Agar langkah-langkah di atas dapat berjalan, orang tua atau siapapun yang berada di sekeliling anak setiap harinya harus punya kesepakatan sama.

“Komandonya harus satu. Kalau eyang kakung atau eyang putri (kakek-nenek) dan pengasuh melanggar, bahkan mungkin agak ngeyel, jelaskan bahwa ini demi kepentingan anak ke depan,” tutur Amanda berbagi trik.

 
Jika Terlanjur Jadi Kebiasaan

Menghilangkan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan memang sulit. Termasuk di antaranya memisahkan anak dari gawai. Menurut Amanda bisa dilakukan secara bertahap. Misalnya dimulai dengan mengurangi durasi memegang gawai, dari satu jam menjadi setengah jam per hari. Dari setiap hari menjadi 2-3 hari sekali dan lama-lama seminggu sekali hingga tidak sama sekali.

“Beri pengertian pada anak bahwa untuk usianya tidak perlu gawai. ‘Lari-lari saja.’ Sebab usia balita memang masanya anak gemar berlarian atau manjat memanjat,” tandas Amanda mengingatkan.

Satu yang tak boleh dilupa, keteladanan orang tua. Sebab anak adalah peniru ulung. “Kalau anak tak ingin bermain gawai, orang tua janganlah memegang gawai di hadapan mereka. Anak mana tahu orang tua ada urusan pekerjaan atau tidak,” pungkasnya.

-----
Teks: Kristina Rahayu Lestari
Foto: Istimewa

ibu anak, toddler, gadget, bahaya, balita, gawai, kenalkan

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments