Sophie Navita Puasa Gadget Agar Tidak Kena Penyakit Kritis

Sophie Navita Puasa Gadget Agar Tidak Kena Penyakit Kritis

Setelah sempat hidup dengan myom yang bersemayam di rahimnya beberapa tahun silam, presenter sekaligus penyanyi Sophie Navita  seketika mengubah gaya hidupnya.

 

Begitu  dinyatakan sembuh hingga sekarang Sophie dan keluarga kecilnya yang belakangan menetap di Bali. Mereka juga memilih menerapkan pola living food atau raw food yaitu memperbanyak konsumsi makanan mentah berupa buah, biji-bijian dan sayur mayur saja setiap hari. Hasil yang dirasakan signifikan, badan  jadi lebih ringan dan dirinya jarang mengalami  sakit.

Memang awalnya tak mudah untuk berubah. Namun selama didukung oleh kesadaran diri sendiri, menurut Sophie gaya hidup agar terhindar dari penyakit kritis dapat dimulai kapan pun. Yang membuat dirinya bersemangat karena untuk sehat itu  tidak butuh biaya besar.

Selain konsumsi makanan sehat, yang tak kalah penting adalah  istirahat yang cukup. "Persoalan kita adalah tidak mengerti cara istirahat. Bayangkan bagaimana bisa kita hidup  dengan handphone terus dipegang dan mempengaruhi seluruh kehidupan kita, tanpa istirahat. Padahal kesehatan itu semua dimulai dari pikiran," kata Sophie saat menjadi pembicara pada kegiatan bertema Avrist Insurance Day: Healthy Self, Healthy Future di Jakarta, belum lama ini.

Di tengah gempuran teknologi  Sophie mengaku memiliki waktu dimana ada saatnya dia sama sekali tidak bersentuhan dengan gadget. Hal tersebut penting menurut ibu dua anak laki -laki, yakni Rangga Namora Putra Barata dan Radya Tuaro Putra Barata itu.

"Jadi ada satu hari dimana kalau mau hubungi saya lewat Hp  anak-anak. Itu berlaku ke semuanya, termasuk suami atau manajemen saya. Karena saya nggak mau diperbudak oleh benda kecil itu. Terkadang tanpa disadari ketika bangun tidur kita bukannya mengucap syukur pada Sang Pemberi Hidup, tapi yang kita lihat duluan malah HP," renung Sophie.

Padahal kata penulis buku Hati yang Gembira adalah Obat, banyak penyakit yang dapat ditularkan oleh smartphone. Karena  benda kecil itu seolah berubah status menjadi dewa. Sehingga kemana pun kita berada dia  tidak boleh lepas dari genggaman kita, bahkan sekalipun kita ke kamar kecil.

"Sampai-sampai mau tidur dia juga kita bawa. Padahal ibarat rumah ya, kan kalau mau tidur, semuanya kita kunci. Tapi HP yang bisa mengusik kedamaian kita, nggak kita kunci. Saat kita mau istirahat saja masih pegang HP. Makanya sering kali ada orang mengalami nyeri sendi,  karena jari jemari tangannya nggak pernah istirahat dari gadget.  Yang paling parah, pengaruhnya adalah karena kelamaan pegang HP bisa mengubah struktur tangan kita. Terus kalau anak-anak remajanya mengalami muka berjerawat karena tanpa sadar usai pegang HP yang kotor, langsung pegang muka," papar Sophie.

Lebih Banyak Waktu Untuk Keluarga

Bersyukur Sophie apa yang kini diterapkannya juga diikuti oleh suami dan kedua buah hatinya. Menurutnya pola makan living food sebenarnya tak jauh berbeda seperti makannya orang Sunda yang tak pernah ketinggalan sayuran mentah yang difungsikan sebagai lalap.

Efek ke anak-anaknya, kata Sophie, mereka tidak mudah sakit. Kalaupun sakit, recovery-nya pun lebih cepat. Anak-anaknya pun tumbuh menjadi anak yang kuat secara fisik.

Begitu pula dengan Pongki, ketika menikahi dirinya, pria asal Yogyakarta itu sama sekali tak suka sayur, sekalipun sudah matang. “Sekarang justru terbalik. Kalau nggak ada sayur nyariin. Begitu pula anak-anak melihat apa yg dilakukan orangtuanya. Kita nggak mungkin teriak 'ayo makan sayur,  tapi orang tuanya nggak makan. Tapi sebagai makhluk sosial,  sekali waktu nak-anak saya tetap saya biarkan untuk  tetap makan fastfood,” lanjut wanita berdarah batak ini.

Sophie mengatakan sejak dulu sering melakukan shock theraphy untuk dirinya. Minimal 6 bulan sekali selalu ada perubahan yang terjadi.

"Sampai saya menemukan cara makan seperti ini (raw food) saya merasa ini yang paling cocok untuk diri saya. Saya melihat nggak ada ruginya. Karena semua orang tahu, makan sayur itu menyehatkan. Saya merasa selalu punya energi dalam kehidupan saya. Nggak mudah capek, nggak mudah sakit karena badan sudah terbiasa menyembuhkan diri sendiri," ungkap Sophie.

Sebagai orangtua, Sophie menyadari bahwa dia  dan Pongki memiliki tanggung jawab  terhadap masa depan kedua putranya. “Saat ini anak-anak homeschooling, jadi waktu  bersama mereka lebih banyak. Saya dan Pongki terbiasa membicarakan  banyak hal dengan mereka. Termasuk menyiapkan dan melindungi masa depan mereka. Bagaimana agar mereka selalu  sehat, cerah  dan  dapat meraih prestasi yang saya harapkan dapat melebihi yang saya sudah raih saat ini,” ucapnya.

Sophie belakangan ini juga  memilih menepi sejenak dari ingar bingar dunia hiburan tanah air. Meski begitu aktivitasnyasama sekali tidak berkurang karena sering diminta menjadi pembicara dalam kelas-kelas untuk sharing seputar pola living food. Tak hanya itu, dia juga tercatat sebagai konselor ASI.

“Saat ini waktu saya lebih banyak untuk anak-anak. Saya pikir  dalam hidup itu tidak selamanya kita menikmati musim mangga. Tentu  setiap saat selalu ada pergantian musim. Kini saya memutuskan kini adalah masa dimana saya harus lebih banyak dengan anak-anak saya. Karena mereka sudah beranjak remaja. Mungkin setelah mereka sudah dewasa, saya baru akan kembali lagi muncul di televisi. Itupun kalau ada teve yang mau menghire saya. Kalau sekarang saya sudah puas dengan menjadi presenter atau pembicara saja di acara-acara off air seperti ini,” pungkasnya.

Foto: instagram @sophienavita

sophie navita, artis , presenter, penyanyi, konselor asi, kelas row food, living food, agar terhindar penyakit kritis, puasa gadget, avrist insurance day, pongki barata, musisi indonesia, 2017

Artikel Terkait

Comments