Echa Tidur 13 Hari, Dokter: Mirip Sleeping-beauty Syndrome

Echa Tidur 13 Hari, Dokter: Mirip Sleeping-beauty Syndrome

Serangkaian pemeriksaan dijalani Echa. Seperti darah, magnetic resonance imaging (MRI) dan elektroensefalografi (EEG). Dokter anak, dokter ahli saraf dan psikiater dilibatkan untuk memeriksa kondisi gadis berusia 12 tahun itu. Apa hasilnya?

 

Dokter Yulizar Darwis adalah psikiater yang turut menangani Echa. Menurutnya perlu ada sekumpulan gejala yang seharusnya diperlihatkan untuk bisa menyebut pasiennya mengidap sleeping-beauty syndrome.

”Salah satunya gangguan tidur, perubahan emosi, cepat menjadi marah saat melihat matahari atau mendengar suara. Tapi untuk gejala yang terakhir tidak dialami Echa,” jelas dr. Yulizar.

Berdasarkan evaluasi yang dilakukan dr. Yulizar bersama dokter spesialis penyakit dalam dan saraf, tidak ditemukan gangguan organik yang bisa memicu sleeping-beauty syndrome. Dia pun berasumsi bahwa penyebab Echa tertidur panjang terkait dengan kondisi psikologisnya.

Diketahui sebelum tertidur panjang, Echa sedang fokus berlatih untuk mengikuti kompetisi di Pekan Olahraga Pelajar Provinsi Kalimantan Selatan (Porprov) 2017 untuk kategori hip hop dance.

”Kemungkinan itu menyebabkan kelelahan fisik dan psikologis yang kita duga mencetuskan gangguan seperti ini,” duga dr. Yulizar.

Kemungkinan jika Echa mengalami stres jelang Porprov dibenarkan oleh sang ibu, Siti Lili Rusita, 37 tahun. “Mungkin dia tegang karena baru pertama kali tanding di kejuaraan daerah, namun saya rasa bukan karena capek latihan karena intensitas latihannya jarang,” paparnya.

Terkait reaksi yang ditunjukkan sebagai dampak dari kelelahan fisik dan psikologis, menurut dr. Yulizar dapat muncul dalam berbagai gejala. Dalam kasus Echa, reaksi itu ditunjukkan melalui tidur.

Selain mengalami masalah waktu tidur yang berlebihan, ternyata Echa juga sempat tidak bisa tidur selama 3 hari. Tepatnya sebelum dia mulai tidur panjang untuk pertama kalinya.

”Kita juga menduga kenapasaat itu Echa tidak bisa tidur karena faktor beban psikologis yang mungkin tak pernah diutarakan olehnya,” imbuh dr. Yulizar.

Mereka Butuh Dukungan

Tim medis mendiagnosa tidur panjang Echa lebih dipicu oleh stres. Untuk menghadapi orang yang sedang mengalami stres (ketegangan) ini, menurut dr. Yulizar dibutuhkan dukuangan orang-orang terdekatnya.

1. Beri rasa aman

Untuk menurunkan ketegangan seseorang, buatlah dia merasa aman. Aman bisa dengan beberapa cara, salah satunya mendengarkan. Jadilah tempat curhat yang siap mendengarkan. Dengan begitu, beban psikologis yang terbendung akan terkurangi, kecemasannya berkurang, tentu gejalanya juga akan berkurang

2. Jangan berfokus pada dampak

seseorang sedang memiliki beban, sedapat mungkin buatlah dia agar jangan selalu berfokus pada dampak-dampak dari kejadian itu. Semakin suatu kejadian dipikirkan terus, hal tersebut akan membuatnya merasa lebih berat dan akhirnya akan menyerang aspek psikologis. Maka, upayakan untuk punya aktivitas-aktivitas yang bisa mengalihkan pikiran.

3. Beri dukungan untuk lakukan aktivitas keagamaan

Cara ini diharapkan dapat memberi ketenangan di dalam diri. Dengan begitu, seseorang dapat berpikir, segala sesuatu terjadi atas kehendak Yang Maha Kuasa, maka sudah seharusnya kita sampaikan segala masalah dalam doa.

Teks: Lucia Vania   I   Foto: Lucia, Dok. Pribadi