Generasi Tanpa Ayah

Wulandari Putriningrum Tekan Ego, Redam Kemarahan Pada Mantan Pasangan

Wulandari Putriningrum Tekan Ego, Redam Kemarahan Pada Mantan Pasangan

Sekitar 10 tahun lalu, saat anak-anaknya berusia 12 dan 10 tahun, Wulandari Putriningrum terpaksa membuat keputusan sulit, bercerai. 

 

Agaknya karena hampir setiap hari menyaksikan ketidakharmonisan ayah dan ibunya, kedua putri Wulandari Putriningrum, Ajeng Nabila dan Ayu mengangguk setuju.

Wulan demikian sapanya bercerita, sejak empat tahun sebelum memutuskan berpisah, anak-anak memang lebih sering bersamanya. Pagi hari sebelum berangkat sekolah, ayah mereka belum bangun. Sedangkan malam harinya, sering pulang larut. Mereka sudah terbiasa tidak selalu bersama ayahnya.

Walau saat itu masih SD, anak-anak Wulan mampu bersikap dewasa. ”Terserah mama, yang  terbaik untuk mama terbaik aja,” ujarnya menirukan ucapan anak-anaknya.

Masa awal perpisahan dan penyesuaian menjadi single parent diakui Wulan bukan hal mudah. ”Bukan karena yang tadinya berdua menjadi sendiri, tapi lebih pada perasaan kecewa. Kok pernikahan saya jadi begini ya?” sesalnya.

”Tidak ada kan orang menikah yang mau bercerai? Tapi sudah berulang-ulang diusahakan baik-baik kok nggak ketemu juga jalannya. Down-nya saat itu aja. Setelah berjalan, ya ngak apa-apa,” imbuh Wulan.

Baca juga: Penting! Peluk dan Canda Ayah

Mereka sepakat anak-anak berada dalam pengasuhan Wulan. Namun dia selalu berusaha mengingat yang bermasalah adalah orang tua, jangan sampai anak terkena dampaknya. Maka sekesal apapun pada mantan suami, Wulan berusaha tak memutus komunikasi. Terutama yang berkaitan dengan anak-anak.

Jadi meski tidak ada jadwal khusus, Wulan dan mantan suami sepakat anak-anak bisa tetap bertemu ayah mereka. Harapannya, mereka tidak kehilangan figur seorang ayah.

”Misalnya kita lagi sebel dan pas anak rewel, jangan sampai anak kena marah. Kita harus bisa redam kejengkelan pada mantan pasangan demi mereka. Jangan sampai mereka dapat efek yang tidak baik, misalnya membatasi ayahnya bertemu anak-anak. Biar gimana pun mereka tetap butuh papa mamanya,” renung Wulan sekaligus mengingatkan.  

Tidak Minder

Ada penyesuaian yang harus dilalui pasca perpisahan. Tak mudah, tapi juga tak sesulit yang dibayangkan. Anak-anak memahami posisinya sebagai orang tua tunggal yang harus mencari nafkah untuk kehidupan mereka bertiga.

”Alhamdulillah dengan sendirinya mereka jadi nggak manja, nggak lembek dan nggak cengeng. Mereka lihat saya ganti bohlam sendiri, mereka akhirnya bisa. Mungkin karena saya juga nggak ngeluh, selama masih bisa lakukan sendiri, ya lakukan,” ungkap Wulan.

Wulan bersyukur anak-anaknya juga tidak minder meski cap broken home melekat. Nyatanya tetap berprestasi di sekolah.

Si bungsu Ayu saat ini tercatat tengah menyelesaikan S1-nya di Fakultas Ilmu dan Budaya Universitas Indonesia. Sedangkan si sulung Ajeng juga sudah menunjukkan prestasi akademiknya sejak SD. Ketika di SMP, Ajeng bahkan masuk dalam kelas akselerasi sehingga sekolahnya lebih cepat dibanding teman-teman satu angkatannya.

Ajeng sudah lulus S1 Filsafaat dari Universitas Gadjah Mada dan kini mendapat beasiswa S2 dari Western Michigan University Amerika Serikat.

Dewasa Sebelum Waktunya

Perpisahan orang tuanya mengajarkan Ajeng banyak hal. Termasuk memahami jika sebuah hubungan tidak selalu berjalan mulus.

Ajeng mengaku keterbukaan mamanya membuat dia paham dengan keputusan mereka untuk berpisah. ”Sedih sih ada, tapi biasa saja dengan keadaan seperti itu,” ungkap wanita 21 tahun ini.

Ketika sang ayah turut menyampaikan jika keadaan mereka nanti akan berbeda setelah berpisah, Ajeng dan adiknya tidak kaget lagi. ”Papa kasih tahu pelan-pelan sesuai umur kami saat itu. Tapi di sisi lain kami sudah tahu dan mengerti melebihi umur kami saat itu,” jelasnya.

Keterbukaan ibunya secara tidak langsung juga memberi pelajaran tentang sebuah hubungan pada Ajeng. ”Aku seperti dewasa sebelum waktunya dan jadi tahu jika menjalin sebuah hubungan itu tidak gampang,” tuturnya.

”Itu membantu aku melihat hubunganku sendiri dengan pacar kalau misalnya ada yang nggak bener. Mengajarkan aku untuk tidak menyerah dan menekan ego,” imbuh Ajeng.

Baca juga: Banting Tulang, Jadi Ibu Sekaligus Ayah

Ajeng kerap mendengar cerita tentang anak-anak broken home dengan situasi yang kurang mendukung. Dia bersyukur berada di lingkungan yang mau menerima kondisinya dan tidak membuatnya minder. Menurutnya, penting pula mencari orang yang bisa menjadi tempat untuk berbagi cerita.

”Biar tidak merasa sendiri dan tahu kalau banyak juga yang lebih buruk kondisinya dibanding kita,” pungkasnya.*

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Dok. Pribadi