Generasi Tanpa Ayah

Siti Wulandari, Lepas dari Jerat KDRT, Pilih Jadi Orang Tua Tunggal

Siti Wulandari, Lepas dari Jerat KDRT, Pilih Jadi Orang Tua Tunggal

Jangankan berperan dalam pengasuhan anak, suami Siti Wulandari yang kecanduan judi dan alkohol bahkan kerap melakukan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Parahnya lagi, anak sulung mereka menjadi saksi mata. Tak ada pilihan selain mengakhiri pernikahan.

 

Wulan mengenang, meski suaminya tipe lelaki yang bergantung pada ibunya dalam setiap keputusan, pernikahan mereka mulanya baik-baik saja. Gejolak mulai terasa ketika memasuki tahun ketiga.

Dengan penghasilan mereka yang lebih dari cukup dari sebuah perusahaan asuransi, suami Wulan mulai bermain-main dengan judi. Seiring dengan itu juga kecanduan alkohol. Perilakunya di rumah pun mulai berubah.

”Awalnya saya masih pertahankan karena mengingat anak-anak. Yang sulung baru kelas 1 SD, nomor 2 masih TK dan si bungsu 6 bulan,” kisah Wulan memberi.

Dia mengajak suaminya pindah ke Surabaya dengan harapan dapat mengubah perilakunya. Pertimbangan Wulan, Surabaya lebih dekat dengan Tulungagung, kota asal dan tempat tinggal orangtuanya. ”Ternyata bukannya berubah malah makin jadi. Bahkan berkembang ke KDRT,” katanya tercekat.

Anak sulung mereka bahkan kerap menyaksikan langsung kekerasan itu. Mulai dari ibunya disundut api rokok karena tidak memberi uang untuk judi, hingga puncaknya disekap di lemari baju.

”Dia berlari mencari pertolongan pada tetangga. Bayangkan, anak umur 7 tahun harus melalui pengalaman seperti itu!” kenang Wulan.

Akibat berbagai kejadian itu, jiwa si sulung terguncang. Dia harus ditangani psikiater selama beberapa waktu. 

Peristiwa ini membobol pertahanan Wulan. Dia lantas melakukan salat istikarah. Hasilnya, berpisah menjadi pilihannya.

”Anak-anak masih kecil belum bisa diajak diskusi. Saya mengandalkan Tuhan untuk membuat keputusan. Selanjutnya saya sampaikan keputusan itu dengan bahasa anak-anak,” tutur Wulan.

Berat dan Pahit

Masa-masa awal perpisahan dirasa Wulan sangat berat dan pahit. Apalagi keluarga suaminya sempat tidak terima.

”Bagi mereka perceraian aib keluarga. Dalam sebuah rapat keluarga besar diputuskan mereka tidak mau bertemu dengan saya dan cucu-cucunya,” kisah Wulan.

Soal mencari nafkah Wulan sudah terbiasa sejak suaminya kenal judi. Bersyukurnya lagi dia diangkat menjadi pegawai negeri di sebuah sekolah dasar. Dia juga dipercaya mengajar Ilmu Pendidikan di suatu universitas. Pemasukan lainnya dari lembaga bimbingan belajar yang dibukanya.

”Alhamdulillah rezeki ada saja. Lebih berat menghadapi situasi sosial karena janda  dianggap miring. Terlebih saya harus tetap memperhatikan penampilan karena tuntutan pekerjaan,” keluhnya.

Baca juga: Penting! Peluk dan Canda Ayah

Bagaimanapun beratnya, Wulan harus memberikan contoh pada anak-anak bahwa kegagalan tidak selalu berdampak kehancuran. ”Sebisa mungkin saya menjalani banyak peran, jadi ibu sekaligus ayah. Kadang pula menjadi anak-anak supaya bisa menjadi teman mereka,” tandas Wulan.

Peran ayah dia praktikkan antara lain dengan menemani anaknya salat Jumat hingga bermain sepak bola. ”Saya juga berbaur dengan teman-teman mereka,” katanya. Jika ada hal-hal yang tetap harus dilakukan oleh laki-laki, dia meminta bantuan kawannya yang seorang guru bimbingan konseling. 

Wulan tak memungkiri semua itu butuh perjuangan luar biasa. Di satu sisi dia harus banting tulang mencari uang, di sisi lain harus mendampingi tumbuh kembang anak-anak dengan segala persoalannya.

”Sementara saya bukan tipe orang yang mudah curhat ke luar. Ketika anak-anak sudah tidur, saya baru curhat sama Tuhan dalam salat. Mungkin ini kuasa Allah, saya jadi orang tua tunggal tapi selalu ada petunjuk. Alhamdulillah anak pertama sudah semester 5 di Fakultas Psikologi Universitas Brawijaya, nomor dua di kampus yang sama namun jurusan Akuntansi, sementara anak ketiga masuk kelas 10. Alhamdulillah raport pertama memuaskan sehingga ini sedang rencana ambil akselerasi. Itulah hadiah dan hiburan saya,” syukur Wulan.

Dilema Lagi

Meski kenangannya pada sang suami tidak baik, sebagai ibu, Wulan menyadari tak boleh mengatakan yang jelek tentang ayahnya anak-anak. ”Saya bilang ke anak-anak untuk memaafkan ayahnya. Yang cewek bisa memaafkan, namun cowok yang sulung tak sanggup,” ungkapnya. ”Walau mama bilang harus memaafkan, saya katakan dia tidak layak jadi ayah,” ujar Wulan menirukan kalimat anak sulungnya.

Tak mudah pula bagi si sulung memberi restu ketika dua tahun lalu Wulan memutuskan menikah lagi setelah belasan tahun bertahan menjadi orangtua tunggal.

”Saya sebenarnya tak ingin menikah lagi. Tapi suatu saat saya drop dan dirawat di rumah sakit selama berminggu-minggu. Karena anak-anak yang besar sudah kuliah di luar kota, hanya sesekali mereka menemani. Jadi saya lebih banyak sendirian di rumah sakit. Nah seorang dokter merasa simpati,” cerita Wulan

Baca juga: Banting Tulang, Jadi Ibu Sekaligus Ayah 

Awalnya Wulan menolak pinangan si dokter. ”Eh dia datang menemui putra saya yang pertama dan kedua. Yang pertama menyampaikan keberatannya, dia berterus terang masih trauma, takut ibunya akan disakiti lagi. Nah anak yang kedua, cewek mengizinkan. Dia berpesan supaya ibunya dijaga. Jangan sampai kesedihan yang dialami terulang lagi,” ungkap Wulan.

Akhirnya suatu hari setelah salat isya, tiga anak Wulan menghadapnya. ”Mereka menyatakan ikhlas saya menikah lagi,” ungkap Wulan.

Rupanya pernikahan kedua Wulan ini tidak berjalan mulus. ”Ada kalanya sangat baik, ada kalanya kasar dengan kata-kata tidak mengenakkan hati. Mungkin karena trauma pernikahan sebelumnya. Saat itu istrinya selingkuh dengan temannya sendiri, di rumah mereka pula,” ceritanya. ”Jadi sekarang dilema lagi,” pungkasnya seraya menarik napas panjang.*

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: pixabay, Dok. Pribadi