Seperti Surga, Megah dan Mewahnya Kremasi Raja Thailand

Seperti Surga, Megah dan Mewahnya Kremasi Raja Thailand

Prosesi kremasi jenazah Raja Thailand Bhumibol Adulyajej begitu mewah. Bahkan menjadi prosesi termegah dalam sejarah Thailand.

 

Raja Thailand Bhumibol Adulyajej wafat pada 13 Oktober 2016 lalu. Setahun kemudian, tepatnya 26 Oktober 2017 sang raja dikremasi. Prosesi kremasi ini pun berlangsung mewah dan megah sepanjang sejarah Thailand yang menghabiskan biaya USD 90 juta atau sekitar Rp 1,2 triliun. 

Sebagai penguasa kerajaan di dunia terlama, sampai akhir hayatnya setahun lalu di usia 88 tahun, Raja Bhumibol Adulyajej memegang takhta kerajaan selama 70 tahun. Tak heran, raja kesembilan dari Dinasti Chakri ini sangat dicintai rakyatnya. Raja Bhumibol juga dianggap simbol perdamaian dan kesejahteraan.   

Sejak sang raja mangkat setahun lalu, berbagai persiapan dilakukan untuk upacara kremasi tahun ini. Mulai dari membangun kompleks kremasi dan desain untuk bagian dalam bangunan.

Seperti pada 27 Februari 2017 lalu, Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-O-Cha, meletakan batu pertama krematorium di Sanam Luang yang terletak di luar komplek Istana Kerajaan di Bangkok. Seorang biksu Budha pun memimpin doa yang dihadiri rakyat Thailand, para penari tradisional Thailand juga mengisi acara hari itu.

Para arsitek, perancang, seniman dan pengukir bekerja untuk pembangunan krematorium ini. Dua desainer dari Kementerian Budaya Thailand yang membuat konsepnya. Beberapa jam setelah Raja Bhumibol wafat tahun lalu, ahli bangunan Theerachat Weerayuttanon dan teknisi seniman Korkiat Thongphut ditawarkan proyek tersebut.

Ini bukan tugas yang mudah. Tak jarang air mata mereka bercucuran kala merancang karena saat itu rasanya tak percaya raja kesayangannya sudah tidak ada lagi. Tapi, di sisi lain mereka harus menyelesaikan tugas tersebut karena hanya diberikan waktu 18 jam untuk merancang konsep.

Sampai akhirnya mereka terinspirasi Gunung Phra Sumeru yang dianggap pusat alam semesta Hindu dan tempat suci karena percaya raja mereka avatar dari Dewa Narayana. Pada bagian paviliun, dipasang patung 600 dewa dengan ukiran tangan di setiap permukaannya. Menurut Korkiat, proyek besar seperti ini biasanya membutuhkan waktu sampai tiga tahun, tapi mereka harus bisa menyelesaikannya kurang dari setahun.

Gunung Emas

Tak hanya itu, 85 replika krematorium sudah didirikan di seluruh penjuru negeri yang juga membutuhkan biaya tidak sedikit. Replika kreamtorium ini ditujukan bagi warga yang tidak bisa datang langsung ke lokasi kremasi,

Besarnya biaya yang digunakan untuk pemakaman tersebut, sebelumnya tidak pernah terjadi di Thailand. Seperti untuk pembangunan krematorium itu saja dilaporkan menelan biaya sekitar Rp 364 miliar.

Ribuan musisi dan artis juga dilibatkan dalam upacara tersebut dan mengerahkan hampir 80 ribu petugas juga mengamankan jalannya upacara yang dihadiri ratusan ribu rakyat Thailand.

Usai disemayamkan di Istana Kerajaan lebih dari setahun, jenazah Raja Bhumibol menjalani proses kremasi di Sanam Luang, Bangkok yang disebut Rew Khabuan yang berlangsung dalam enam tahap. Termasuk dalam rangkaian acara, pertunjukan teater topeng, wayang golek dan musik seremonial dengan mengangkat banyak cerita dari kisah Ramayana.

Tampak hiasan patung naga setengah manusia dan setengah kobra menjadi hiasan. Pemerintah Thailand juga membangun sembilan paviliun dari emas yang dihiasi ribuan patung, karya seni dan cendana.

Rakyat Thailand meyakini, para raja yang meninggal akan hidup kembali di Gunung Meru yang menurut mitologi hindu adalah gunung emas. Karenanya, lokasi kremasi digambarkan sangat indah seperti surga.

Untuk membangun situs kremasi itu, para perajin mengerjakannya selama 10 bulan. Setelah selesai dibangun, jadilah paviliun kerajaan setinggi 50 meter yang berhiaskan sembilan menara berlapis emas, payung putih dan sepasang patung anjing peliharaan favorit raja.

Raja dari Seluruh Dunia

Dinilai sebagai raja paling berpangaruh, sehari mejelang prosesi kremasi, puluhan raja dan petinggi negara dari seluruh dunia tiba di Thailand memberikan penghormatan terakhir. Di antaranya, Pangeran Andrew (Inggris Raya), Ratu Sofia (Spanyol) dan Pangeran Khalifa bin Salman Al Khalifa (Bahrain) yang tiba sehari sebelum proses kremasi.

Mendekati hari kremasi sebagai bentuk penghormatan terakhir, 25-29 Oktober 2017 dinyatakan sebagai masa kremasi kerajaan. Pada masa-masa berkabung itu, rakyat Thailand hanya diperbolehkan menggunakan pakaian dengan warna-warna lembut seperti abu-abu, atau hitam. Sedangkan pada 26 Oktober, semua rakyat harus mengenakan warna hitam sampai 30 Oktober.

Sehari sebelum proses kremasi, dilakukan upacara keagamaan Buddha yang dihadiri anggota senior kerajaan. Di hari itu pula, Raja Maha Vajiralongkorn Bodindradebayavarangkun, putra Raja Bhumibol datang memimpin kremasi ayahnya dengan menyalakan lilin di depan peti. Turut hadir 119 biksu Buddha yang membacakan doa dengan bahasa Pali kuno hari itu.

Tepat di hari kremasi, dilakukan pembakaran batu bara yang dinyalakan Raja Maha Vajiralongkorn di kompleks kremasi paviliun emas depan Istana Kerajaan di Bangkok. Guci besar untuk menyimpan abu Raja Bhumibol juga sudah disiapkan. Pada hari itu Raja Bhumibol dipindahkan dari istana ke lokasi kreamtorium.

Ketika guci dilepaskan, Raja Maha Vajiralongkorn melantunkan doa dan guci ditempatkan para pasukan kerajaan ke kereta yang beratnya hampir mencapai 13 ton. Butuh lebih dari 200 orang untuk menarik kereta.

Alunan musik dari drum dan seruling mengiringi ketika guci dibawa. Beberapa orang memegang foto hitam putih Raja Bhumibol, sementara anggota kerajaan lainnya mengikuti di belakang. Saat kereta melintas, rakyat yang sudah menunggu serentak bersujud.

Masih dipimpin Raja Vajiralongkorn, di bawah payung lebar berwarna putih emas, usai dikremasi abu Raja Bhumibol dibawa kembali ke istana keesokan harinya. Saat musik klasik Thailand dimainkan, abu kremasi disirami air suci dan sudah diberkati pemimpin tertinggi biksu Buddha Thailand.

Dibawa ke Dua Kuil

Prosesi pengumpulan abu Raja Bhumibol sudah dilakukan sejak pagi. Sore harinya, abu dibawa ke Istana Kerajaan dan keesokan harinya diadakan upacara kerajaan. Di hari terakhir, 29 Oktober, abu Raja Bhumibol dibawa dan disemayamkan di Kuil Wat Rajabipidh dan Kuil Wat Bovaranives.

Televisi lokal Television Pool menayangkan prosesi kremasi dan ditayangkan juga di layar raksasa kima gerbang Bandara Suvarnabhumi. Tujuannya, untuk menunjukkan tradisi kuno proses kremasi kerajaan pada bangsa asing.

Ratusan ribu rakyat Thailand turut mengiringi proses kremasi sang raja yang mendapat sebutan, ‘Bapak Semua Orang Thailand’ itu selama lima hari. Walaupun diguyur hujan deras, mereka berbaris rapi sejak sehari sebelum hari kremasi. Mereka juga telah melipat lebih dari 10 juta bunga yang terbuat dari kayu cendana. Mereka meyakini wewangian bunga akan membimbing jiwa orang-orang yang meninggal menuju surga.

Bukan hanya persiapan untuk upacara kremasi, ditinggal sang raja membuat negara yang terkenal dengan julukan gajah putih ini dirundung kesedihan setahun terakhir. Ribuan ucapan bela sungkawa dipasang pada papan reklame tersebar di penjuru kota. Poster raja pun dipasang di mana-mana.*

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto:  Reuters