Generasi Tanpa Ayah

Penting! Peluk dan Canda Ayah

Penting! Peluk dan Canda Ayah

Bertepatan Hari Ayah, 12 November , tepat untuk mengingatkan kembali, ayah bukan sekadar mencari nafkah atau ’polisi’ dalam rumah. Perhatian dan kasih sayangnya bahkan dibutuhkan sejak anak dalam kandungan. Bagaimana jika kemudian ayah tidak ada karena berbagai alasan?

 

”Jika bercerai, apapun alasannya ayah tetap harus hadir dalam pengasuhan. Bagaimanapun tak ada mantan anak. Jika meninggal, kehadirannya bisa digantikan kakek atau saudara lelaki lainnya,” jawab Psikolog Keluarga, Rose Mini.

Bunda Romi, demikian Rose Mini akrab disapa menekankan, kehadiran laki-laki yang memerankan tokoh ayah dalam keluarga wajib ada. Apalagi jika ada anak lelaki. Pasalnya anak-anak belajar lebih banyak dengan mencontoh. Maka ’ayah’ harus melengkapi dan bekerjasama dengan ibu dalam mendampingi tumbuh kembang anak-anak.

Sayangnya akibat budaya patriarki di berbagai tempat banyak laki-laki tak memahami persoalan ini. Sampai-sampai banyak pihak mengatakan Indonesia tengah mengalami darurat peran ayah dalam pola pengasuhan anak. Sebabnya, kebanyakan ayah dalam sebuah keluarga hanya berperan sebagai pencari nafkah. Pengasuhan diserahkan sepenuhnya kepada ibu.

”Kalau menurut saya, yang namanya darurat harus jelas seperti apa dan berapa persentasenya. Musti survei seluruh Indonesia dan saya nggak punya data tentang itu. Tapi kalau melihat dari sisi ilmu Antropologi, dari dulunya bapak adalah breadwinner (pencari nafkah, red.) di mana posisinya di luar, sementara ibu di rumah jaga anak, mungkin saja terjadi,” terang Romi.

Menurut Romi akan sulit mengubah paradigma jika tidak ada sosialisasi yang jelas. Di kota metropolitan yang masyarakatnya kebanyakan sudah berpendidikan, memang muncul banyak gerakan melibatkan ayah dalam pengasuhan. Bahkan dalam kelas-kelas parenting yang kerap diselenggarakannya banyak ayah turut serta.

”Tapi bagaimana dengan desa-desa yang secara populasi lebih banyak di negeri ini?” tanyanya mengajak merenung.

Kalaupun pemerintah kemudian mengambil langkah untuk sosialisasi ke desa-desa, Romi menyarankan penjelasannya harus detail. ”Kalau hal itu (peran ayah dalam pengasuhan, red.) dilakukan apa keuntungannya sebagai ayah dan seperti apa dampaknya ke anak,” saran Romi.

Harus Fleksibel

Yang harus diingat oleh para orang tua, menurut Romi, adalah bahwa anak-anak lahir dari kerjasama ayah dan ibu. Maka pengasuhannya pun harus dilakukan berdua.

”Apalagi pertumbuhan anak dipengaruhi dua hal, nature (alam) dan nurture (lingkungan). Nah nurture itu tidak hanya ibu tapi juga bapak. Simulasinya harus dua-duanya!” tegas Romi.

Nah peran ayah harus dipraktikkan sejak seribu pertama kehidupan anak. Yakni sejak dalam kandungan.

”Perannya dimulai dengan memberikan dukungan psikologis. Misalnya memberikan kehangatan, empati dan sebagainya. Kalau istri uring-uringan karena perubahan hormon yang mempengaruhi mood ibu hamil, ayah harus mendampingi,” urainya.

Selanjutnya ayah juga harus berperan dalam penggantian popok, menidurkan dan segala pengasuhan lainnya.

Proses pengasuhan itu menurut Romi harus fleksibel, seimbang dan kompak. Tidak bisa spesifik kegiatan tertentu dengan ayah saja atau ibu saja. ”Apa yang tidak bisa dilakukan ibu dilengkapi oleh ayah, begitupun sebaliknya. Dengan begitu anak terbiasa melihat orangtuanya bekerjasama,” jelas Romi

”Tidak bisa misalnya kalau belajar matematika hanya dengan bapak. Atau kalau anak melanggar ini itu nanti dibilangin ke ayah lho! Jadinya bapak kayak polisi saja,” imbuhnya mencontohkan sekaligus mengingatkan.

Survei membuktikan, anak-anak yang tumbuh dalam kehangatan dan empati akan memiliki kepribadian yang simpatik. Seperti hukum alam saja, kalau ayahnya hangat empati anak juga hangat. Jika hubungan dalam rumah baik, maka hubungan sosial anak juga baik. Keuntungan lainnya, anak menjadi percaya diri.*

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Dok. Pribadi, pixabay