Evi Andarini: Menyeimbangkan antara Profesi, Anak dan Suami

Evi Andarini: Menyeimbangkan antara Profesi, Anak dan Suami

Evi Andarini sempat kesulitan membagi waktu antara bekerja dan mengurus putrinya yang masih berusia 10 bulan. Tapi, kini ia  bisa mengatasinya, ditambah dukungan dari suami dan tempatnya bekerja.

 

Evi Andarini menyadari, perhatiannya sebagai ibu tidak boleh berkurang meski di sisi lain juga tidak boleh menelantarkan pekerjaannya. Karenanya, dia berusaha memaksimalkan waktu kerjanya di kantor.

”Bekerja efektif dan efisien biar cepat pulang dan urus anak. Saya nggak  biasakan bawa kerjaan ke rumah. Itu juga yang saya terapkan ke tim, lembur pun sesekali aja,” jelas istri Ilwan Pradipta ini.

Sebagai ibu bekerja, menurutnya harus lebih pintar dan kreatif. Untuk memantau anak yang ditinggal di rumah bersama pengasuh, Evi memasang CCTV. Tak hanya itu, dia juga memastikan meninggalkan anak dengan pengasuh yang tepat.

”Seorang ibu juga harus pintar dan berpendidikan tinggi karena ibu adalah pendidik utama bagi anak dan anak itu refleksi ibunya. Pendidikan tinggi nggak harus bertitel, tapi tahu perkembangan zaman biar bisa melarang dengan benar dan bijak karena ibu yang menentukan ke anak dalam mengatur regulasi di rumah,” papar Evi.

Evi merasakan dukungan dari suaminya sangat penting untuknya sebagai ibu bekerja. Sudah menjadi komitmen dari awal pula, dia menjadi ibu bekerja selama tidak menggangu waktu bersama keluarga.

Untuk itulah Evi bersyukur tempatnya bekerja termasuk fleksibel untuk urusan waktu. Dia pun tetap bisa mengikuti tumbuh kembang putrinya.

”Alhamdulillah, di sini sangat meng-empower perempuan bekerja. Bahkan ada yang tadinya mau resign tidak jadi karena pekerjaannya bisa dikerjakan dari rumah. Semua masih bisa terpantau,” kata Evi.

Baca juga: Evi Andarini: Agar Wanita Tidak Diremehkan

Ada kalanya wanita membutuhkan waktu untuk diri sendiri di sela kesibukan bekerja atau mengurus rumah tangga. Tapi, bagi Evi waktu bersama keluarga kecilnya adalah me time untuknya.

”Waktu saya untuk sendiri itu sudah cukup di 30 tahun saya dulu. Sekarang saya di usia harus yang bersama keluarga. Jadi tidak menuntut me time,” ungkapnya.

Mendidik dan Mengasuh Bersama

Karena sama-sama bekerja, Evi dan suami biasa menikmati akhir pekan mereka bersama si kecil. Momen akhir pekan juga dimanfaatkannya memasakan untuk keluarga.

Selanjutnya, mereka bersama-sama menjalankan peran sebagai orang tua. Termasuk sejalan untuk menjalankan penerapan pola pendidikan yang sudah disepakati.

”Kalau malam kami juga kerja sama. Misalnya anak pengen nyusu, saya yang menyusui, suami menghangatkan ASI yang sudah saya pompa. Harus sama-sama, kan besarkan anaknya bareng-bareng,” kata Evi.

Soal pendidikan untuk anak, menurut Evi tidak semua orang tua memiliki pola yang sama. Hal ini juga tantangan baginya untuk menjadi orang tua yang baik untuk anak.

”Sebagai orang tua harus observe ke anak, minatnya apa. Antara ayah dan ibu harus punya komunikasi yang baik dan tahu kebutuhan anak. Apalagi mungkin saat anak kita besar nanti, teknologi sudah semakin canggih. Nah, tugas orang tua sekarang lebih berat, jangan sampai anak terlalu terpapar kemajuan teknologi,” kata Evi.

Evi dan pasangannya sepakat untuk mendidik anak mereka menjadi anak yang berguna. Dalam hal ini,  berguna menurutnya memiliki definisi yang luas. Selain itu, mengajari anaknya bersosialisasi. Termasuk menerapkan norma-norma yang diajarkan orang tuanya dulu.

”Anak sekarang kebanyakan fokus ke gadget, saya nggak mau seperti itu. Makanya, kalau lagi dekat anak, saya dan suami biasakan untuk tidak pegang gadget. Anak sekarang kalau udah pegang gadget kan bisa anti sosial dengan sekitarnya,” ungkapnya.

Meski kemajuan teknologi semakin pesat, Evi menyadari sebagai orang tua tidak bisa sepenuhnya skeptis. Justru dia harus tahu perkembangan teknologi.

”Gimana kita mau kasih batasan kalau kita sebagai orang tua nggak mengerti teknologi. Kita harus tahu yang kita larang itu apa. Batasan seperti apa yang mau dibuat. Jadi anak nggak merasa terkungkung, tapi dia juga tahu batasan-batasannya,” pungkas Evi.*

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto: Zulham dan Dok. Pribadi