Evi Andarini: Agar Wanita Tidak Diremehkan

Evi Andarini: Agar Wanita Tidak Diremehkan

Keberhasilan Bukalapak memenangkan bergengsi tingkat Asia Pasifik, Tangrams Awards untuk kategori perusahaan e-commerce di 2017, tak lepas dari peran Evi Andarini. Sebagai PR Manager, dia tak hanya bertanggung jawab mengenalkan perusahaan.   

     

Tampil kasual dengan luaran jaket bercorak bunga dan dibiarkan tanpa ritsleting yang melapisi kausnya tak menghalangi kesan elegan sosoknya. Dialah Evi Andarini, PR Manager Bukalapak.

Evi, begitu dia disapa, menyambut hangat kedatangan WI ke kantornya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pekan lalu. Dia lantas mengajak berkeliling kantornya yang berkonsep pasar malam. Hingga akhirnya, kami berbincang di ruang musik.

Wanita berusia 33 tahun ini menjabat sebagai PR Manager Bukalapak sejak Februari 2016.  Dia bukan orang baru di dunia public relation. Evi mengawali karier sebagai PR di Microsoft setelah mendapat gelar sarjana S1 di tahun 2007. Tak lama, lulusan Universitas Indonesia ini melanjutkan kariernya di PT Fortune Pramana Rancang, sebuah agensi PR.

Dua tahun kemudian, Evi menjadi PR untuk Tower Bersama Grup Tbk. Bertahan sekitar empat tahun, hingga akhirnya sejak Februari 2016 lalu dia menjadi PR Manager Bukalapak, sebuah perusahaan e-commerce.

Yang menarik, profesi Evi sebagai PR tidak lepas dari pengaruh ayahnya yang dulu bekerja sebagai external relation di sebuah perusahaan minyak.

”Kalau di rumah, ayah saya suka cerita tentang kariernya. Dari situ tumbuh minat dan tertarik. Sebenarnya dulu waktu daftar UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri, red.) urutan pertama saya pilih jurusan hukum, tapi nggak diterima,” kata bungsu dari lima bersaudara ini sambil tertawa.

Selama 10 tahun ini Evi mengamati dunia PR begitu dinamis. Jika di perusahaan sebelumnya banyak pakem yang harus dipatuhi dan cenderung menggunakan konvensional PR, di tempatnya bekerja saat ini menuntutnya untuk memahami dunia digital dan kreatif. Industri yang berbeda membuat Evi tertantang.

Evi pun harus beradaptasi dengan timnya yang baru karena banyak ide yang harus disesuaikan. ”Misalnya mau bikin press release harus yang menarik. Ceritanya bisa dibuat sendiri untuk di media sosial sehingga berkembang. Audiensnya juga berkembang, nggak cuma jurnalis tapi ada stake holder, netizen dan lainnya,” urai wanita berlesung pipit ini.

Jangan Kelihatan Lemah

Berusaha untuk tetap di jalurnya sebagai PR, salah satunya karena ia melihat di Indonesia, orang yang profesional di bidangnya sejak awal hingga akhir, masih sedikit. Menurutnya, hal ini bisa dilihat dari orang-orang yang kemudian menekuni bidang  berbeda dari latar belakang pendidikannya.

”Saya ingin jadi bagian yang profesional itu dengan konsisten dari awal sampai akhir di PR. Harapannya, secara khusus bisa kontribusi ke perusahaan tempat kita bekerja dan pada umumnya ke Indonesia,” kata Evi.

Dengan adanya orang-orang profesional di bidangnya, Evi pun berharap mereka juga bisa mengukir prestasi. Seperti baru-baru ini, Bukalapak berhasil memenangkan Tangrams Awards untuk kategori perusahaan e-commerce di 2017 dalam penghargaan bergengsi tingkat Asia Pasifik itu berkat kampanye mereka, Pahlawan Ekonomi Kreatif.

”Hanya ada dua dari Indonesia dan kami perusahaan lokal yang menang. Ini membuat nama kami bagus di Asia Pasifik, sekaligus mengharumkan nama bangsa. Membuktikan juga kemampuan  orang Indonesia mulai berkembang. Strategi yang digunakan tidak kalah dengan perusahaan yang sudah established,” kata Evi, bangga.

Terkait dunia startup dan e-commerce di Indonesia, menurutnya saat ini memang sedang dilihat banyak orang. Pemerintah pun membuat gerakan 1000 startup.

”Kita lihat orang Indonesia punya banyak ide menarik tapi banyak juga yang belum dijalankan dengan baik. Ini kan menarik, coba tanya anak kuliah sekarang, ditanya mau jadi apa mungkin jarang yang mau kerja di perusahaan, maunya bikin startup. Bagus, berarti mereka punya pikiran kembangkan perusahaan sendiri atau ciptakan peluang kerja. Itu kan jarang.  Tantangannya juga beda,” jelasnya lagi.

Dunia e-commerce pasarnya masih sangat luas. ”Kami termasuk tiga besar market place  di Indonesia dengan hampir 2 juta pelapak saat ini. Banyak UKM daerah yang kreatif. Adanya market place ini bisa memperluas jangkauan mereka,” ungkap Evi.

Lingkungan kerjanya di dunia digital yang didominasi pria juga membuat Evi tertantang Menurutnya, para wanita di Bukalapak tetap memiliki kesempatan sama. Misalnya dalam memberikan ide.

”Para perempuan jangan hanya dengarkan ide orang tapi harus punya ide sendiri. Beri kontribusi ke perusahaan biar dilihat setara juga. Tanpa harus lembur bisa kasih ide kreatif, maksimalkan waktu di kantor,” pesannya.

Sebagai ibu yang masih memberikan ASI untuk anaknya, Evi juga meminta waktu untuk memompa ASI di sela rapat kerja. Tapi bukan berarti itu jadi hal yang melemahkannya.

”Saya tetap berkarya dan capai hal yang sudah ditargetkan untuk saya. Biar perempuan tidak diremehkan, harus berkontribusi dan memberikan nilai lebih. Saya lihat perempuan sekarang kreatif dan  ide-idenya menarik,” ungkap Evi.

Agar Tidak ’Luber’

Berkaca dari pengalaman Evi, meskipun sudah menikah atau menjadi ibu, bukan berarti harus mengubur mimpi yang diinginkan sejak lama. Misalnya, jika ingin melanjutkan sekolah lagi. Waktu yang tepat menurutnya adalah kunci.

”Sekolahnya kan bisa dilanjutkan saat anak sudah agak besar. Sekarang banyak potensi untuk wujudkan sekolah lagi. Manfaatkan dunia digital, kita bisa belajar dari internet. Kerja juga nggak harus kantoran, misalnya bisa jadi entrepreneur. Adanya market place juga bisa membantu ibu rumah tangga yang ingin bekerja tapi tetap sambil mengurus anak di rumah,” jelas Evi.

Karena itu pula, meskipun sejak lulus kuliah hingga sekarang, ingin terus berkarier di  di bidang PR, masih ada mimpi lain yang ingin diwujudkan Evi. Jika suatu saat sudah mantap di bidangnya, dia ingin membagi ilmunya sebagai dosen.

”Ilmu itu ibarat air, diisi terus kan bisa luber kalau tidak dibagi. Jadi gimana biar ilmu terus bertambah, tapi bermanfaat. Saya nggak terlalu ambisius dalam karier, tapi ingin yang saya lakukan bermanfaat untuk orang lain,” jelas Evi.

Untuk mewujudkan keinginannya menjadi dosen, Evi sudah mengantongi gelar master dari Universitas Gadjah Mada di bidang Ekonomi Manajemen.”Memang agak beda jurusannya karena kalau PR aja kurang strategis. PR juga harus mengerti industri dan bisnis,” jelasnya.

Evi pun ingin mewujudkan mimpinya jadi dosen dalam waktu dekat. Dia juga sudah beberapa kali diminta jadi dosen tamu. ”Kesempatan itu sangat menarik, saya nggak peduli fee-nya berapa. Dengan sharing ilmu itu sudah lebih dari menyenangkan buat saya,” ujarnya seraya tersenyum.*

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto: Zulham dan Dok. Pribadi