Perjuangan Brianna Menyelamatkan Suami yang Kehilangan Seperempat Kepala

Perjuangan Brianna Menyelamatkan Suami yang Kehilangan Seperempat Kepala

Saat kehamilannya memasuki usia 9 bulan dan sedang mempersiapkan persalinan, Brianna mendapat cobaan luar biasa berat. Bukan janinnya bermasalah tetapi sang suami, Austin White, mengalami pendarahan otak dan harus kehilangan seperempat kepalanya!

 

Sebuah foto hitam putih yang diabadikan Sara Endres menjadi cover akun facebook  Brianna. Foto tersebut langsung menyita perhatian. Betapa tidak, Brianna mencium kening Austin White, suaminya yang seperempat bagian kepalanya berlubang.  

Foto lainnya, Brianna dan Austin menggendong Paxton, anak pertama mereka sambil mencium pipinya. Si kecil Paxton juga tampak menggemaskan saat berdiri di samping ayahnya yang duduk di kursi roda.

Ada pula foto wanita yang tinggal di California ini sedang memeriksa tekanan darah Austin. Satu foto yang tak kalah mengundang rasa miris, Austin sedang mencium pipi putranya. Ekspresi Paxton sendiri terlihat bahagia, dengan binar matanya.

Foto-foto keluarga kecil itu mau tak mau memunculkan sebuah pertanyaan: Apa yang terjadi dengan kepala Austin?

Austin harus kehilangan seperempat kepalanya akibat konsumsi minuman berenergi yang berlebihan. Namun bukan hanya tentang kehilangan sebagian kepala, musibah itu juga mengajarkan tentang makna pengorbanan atas nama cinta.

Bagi Brianna, cinta bukanlah sekadar berkencan, saling bertelepon atau mengukir kenangan. Tapi lebih dari itu, menurutnya cinta itu tanpa pamrih dengan segala pengorbanan yang kita berikan untuk orang kita cintai, meski mungkin sebelumnya tidak tahu bahwa kita bisa berkorban untuk cinta. Itu pula yang dia rasakan pada sang suami.

Ketika kelahiran bayi di kandungannya yang tinggal menghitung hari, peristiwa yang tak pernah terbayangkan sebelumnya itu terjadi. Brianna merasa hidupnya bergoncang, emosinya bergejolak, nafasnya terasa sesak seakan tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan merasa tidak bisa bergerak, tidak bisa berpikir dan tidak mampu bereaksi.

”Pernahkan kalian merasa seperti itu? Aku sudah. Aku mengalami sesuatu yang tidak pernah aku duga akan aku alami selama sembilan bulan di kehamilan anak pertamaku,” ungkap Brianna.

Nyaris Tak Bisa Dikenali

Dengan kesibukan pekerjaan yang luar biasa, suami Brianna, Austin, mengatasinya dengan minum minuman berenergi. Dia tak menyangka kebiasaan itu mengantarkan suaminya ke rumah sakit, bahkan harus kehilangan sebagian kepalanya.

Malam itu dunia seolah hancur dalam hitungan jam saja. Masih jelas diingatan Brianna kala ibu mertuanya membangunkannya pagi itu dan mengatakan Austin berada di rumah sakit karena kecelakaan.

Meski belum tahu pasti penyebabnya, Brianna bergegas menyusul ke rumah sakit. Dua jam dalam perjalanan menuju rumah sakit, dia baru tahu yang sebenarnya. Setibanya di rumah sakit, Austin sudah masuk kamar operasi.

”Suamiku, ayah dari anakku, orang yang sangat aku sayangi, mengalami pendarahan otak,” tutur Brianna. Informasi yang kemudian disampaikan dokter tak kalah mengejutkannya, pendarahan itu dipicu konsumsi minuman energi berlebihan.

Setelah operasi yang dijalani Austin, Brianna masih harus menunggu sampai lima jam dan itu menjadi momen yang menyiksa baginya. Setelah itu, Brianna baru bisa menemui suaminya.

Semua orang fokus dengan wajah Austin yang nyaris tak bisa dikenali karena segala jenis mesin dan tabung yang terhubung di padanya. Ditambah dampak dari operasi itu juga membuat bagian depan tengkoraknya berlubang.

Tapi ada satu hal yang mengalihkan perhatian Brianna. Dia melihat tatapan kesedihan ibu mertuanya menyaksikan anak laki-laki kesayangannya terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Begitu juga ayah mertuanya yang tak bisa menahan tangis sambil memegang istrinya. Tak terbayangkan hal ini akan mereka alami.

”Mereka tidak tahu apakah anak mereka akan terbangun. Melihat keluarga suamiku, keluarga baruku yang aku cintai dan sudah menjadi bagian dari hidupku, rasanya hancur! Itu perasaan terburuk yang pernah aku rasakan,” ungkap Brianna.

Tidak berhenti sampai di situ, keesokan harinya, Austin harus menjalani operasi otak lagi. Brianna teringat momen saat duduk di samping tempat tidur Austin. Saat itu dia hanya bisa berdoa agar suaminya baik-baik saja dan tidak ada lagi hal buruk yang akan terjadi. Doa itu selalu dia ulang tanpa henti.

”Aku tahu aku tidak akan pernah menyerah dengan keadaannya. Tak peduli sekacau apa kehidupan kami nantinya, aku akan berada di sisinya melalui semua itu,” tegas Brianna.

Dua minggu berlalu, Austin masih berada di rumah sakit. Brianna dan keluarganya pulang ke rumah dan masih belum tahu apakah Austin akan selamat atau Tuhan berkehendak lain. Sampai tiba waktunya, Brianna melahirkan anak pertama mereka.

Pertama Kalinya Berkumpul

Brianna tak memungkiri, masa-masa itu sangat berat untuk dilalui. Dia sudah pasrah tangannya tak akan digenggam erat oleh suami saat melahirkan anak pertama mereka. Jangankan digenggam tangannya, suaminya pasti tak akan mendampingi melewati momen istimewa ini.

”Tapi keajaiban terjadi, ketika aku melahirkan, Austin juga terbangun setelah seminggu tak sadarkan diri. Aku memikirkannya setiap hari dan tak bisa menahan air mataku kala melihat anakku yang sangat mirip dengan ayahnya,” ungkap Brianna.

Seminggu setelah Paxton lahir, Brianna menitipkan putranya kepada ayah dan ibu mertuanya. Dia merasa harus bertemu suaminya.

”Aku harus mengatakan padanya, anak kami ada di sini dan betapa kami sangat membutuhkan kehadiran Austin di tengah-tengah kami,” tutur Brianna.

Hari demi hari mereka lewati dengan berbagai operasi dan perawatan yang harus dijalani Austin. Setelah dua bulan, Paxton bisa bertemu ayahnya.

Sebelumnya Brianna tidak yakin hari bahagia ini tiba. Akhirnya untuk pertama kali mereka bertiga bisa berkumpul bersama. ”Aku merasa hari itu hatiku kembali bahagia,” ungkapnya dengan mata berbinar.

Austin kemudian diperbolehkan pulang ke rumah. Meski bukan hari-hari yang normal dilalui keluarga kecil pada umumnya karena suami Brianna masih harus bolak balik ke rumah sakit dan memeriksakan kondisinya ke dokter. ”Tapi kami di sini, berjuang,” tandas Brianna.

Tidak Akan Pernah Menyerah

Bukan hanya menguatkan mentalnya dengan segala hal yang terjadi pada keluarga kecilnya, secara fisik Brianna juga harus ekstra kuat mengurus dua orang yang sangat dia sayangi. Layaknya memiliki dua bayi.

Sepulangnya Austin dari rumah sakit, banyak hal yang harus dilakukan Brianna untuk merawat sang suami. Hari-harinya diawali sejak pagi hari untuk mengurus Paxton dan Austin.

Brianna menyiapkan segala hal untuk kebutuhan Austin. Mulai dari menyiapkan makanan, terapi fisik, terapi bicara dan terapi okupasi.

”Aku membantunya membersihkan diri, berjalan dan segala aspek di hidupnya. Di sela-sela itu semua, aku masih juga merawat bayi kami yang masih 8 bulan. Sulit memang dan aku lelah, tapi kami selalu berusaha melakukan yang terbaik,” tambah Brianna.

Meski kini Austin tidak seperti pria yang dulu membuatnya jatuh cinta, Brianna masih mencintainya, setiap hari. Dia dan keluarganya yang lain terus berjuang untuk membantu agar kembali sembuh seperti sedia kala dan membuat hidupnya lebih baik hari demi hari.

Satu hal yang membuat Brianna yakin, suatu hari mereka akan sampai di titik itu. ”Sampai saat itu, aku tidak akan pernah menyerah padanya karena cinta itu tanpa pamrih dan aku lebih mencintainya dari pada kehidupan itu sendiri,” tutupnya. *

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto: Endres Photography