Melanie R Wibowo Darmosetio Tinggalkan Jabatan Direktur demi Bawa Tenun Baduy ke New York

Melanie R Wibowo Darmosetio Tinggalkan Jabatan Direktur demi Bawa Tenun Baduy ke New York

Tak memiliki pendidikan khusus fashion. Namun itu tak menghalangi Melanie R Wibowo Darmosetio untuk membawa dan memasarkan tenun baduy hingga ke New York. Apa yang ingin dia raih? 

 

Berbekal latar belakang pendidikan arsitektur, Melanie R Wibowo Darmosetio, akhirnya mantap menekuni karier baru sebagai seorang fashion designer. "Pertama saya melihat  koleksi kain saya yang begitu banyak. Karena sudah banyak sekali saya berpikir mau diapakan ya. Dari sekian banyak koleksi tenun yang saya miliki, saya jatuh hati pada kain baduy yang sangat biasa itu. Jadi kalau digelar kayak serbet, lurus, warnanya dekil," ungkapnya.

"Kalau orang bilang nggak ada bagus-bagusnya, tapi buat saya justru sebaliknya. Ini dia yang saya cari. Dari situ mulailah saya membuat desain baju yang cocok untuk kain tenun baduy ini,” tambah wanita yang akrab disapa Mel ini.

Sebelum mendapatkan pelanggan, Mel menjadikan dirinya sebagai customer. Rupanya busana berbahan tenun baduy yang dikenakannya selalu mendapat perhatian. Bahkan bahkan orang yang sama sekali tak mengenalnya memuji.

Dari situlah Mel mendapatkan pesanan. Perlahan namun pasti, dia mulai kebanjiran permintaan busana berbahan dasar tenun baduy.

"Lama-lama mulai ada ajakan berpameran. Padahal kenal nggak sengaja, dari nonton pameran. Lalu kita sempat tukeran kartu nama. Tiba-tiba dia ajak saya ikutan pameran," ungkap Mel.

Yang juga tak disangka Mel, salah satu pembeli adalah Happy Djarot, istri mantan Gubernur DKI Jakarta. "Tadinya saya nggak tahu siapa ibu itu. Saya cuma kaget kok ibu ini banyak banget yang minta foto sama beliau. Akhirnya kami berkenalan. Dan begitu ada pameran, ada ibu-ibu Dekranas yang menghubungi saya untuk ikutan pameran. Dari situ  seperti membuka jalan untuk ikut pameran Inacraft dan lain-lain,” terangnya.

Senang Tantangan

Ditemui di sela pameran Crafina 2017 di Jakarta Convention Centre (JCC) baru-baru ini, Mel mengaku dalam mendesain memanfaatkan kearifan dengan sentuhan displin ilmu arsitektur. Hasilnya adalah sebuah karya indah dengan tarikan-tarikan garis tegas namun sederhana. Mengangkat karya warga Baduy menjadi sesuatu yang berkelas dan memiliki nilai jual tinggi.

Kecintaan Mel  pada kain tenun baduy karena memiliki karakter sederhana, mencerminkan keseimbangan kehidupan itu sendiri. Memiliki elemen garis vertikal, horisontal maupun diagonal dalam pakem-pakemnya, seperti Adu Mancung, Aros, Poleng, Suat Songket, Suat Samata dan lain-lain. "Elemen garis inilah yang menjadi kekuatan karakter brand saya,” tandas Mel yang memberi brand meLOOKmel pada fashionnya.

Mel menambahkan kekhasan tenun Baduy ada pada bahannya agak kasar dan warnanya cenderung gelap. Namun bintik-bintik kapas dari proses pemintalan tradisional dengan menggunakan alat bernama gedoga atau raraga justru menghasilkan tekstur yang khas.

"Saya ini senang tantangan, bagaimana kain yang sederhana ini menjadi sesuatu yang unik. Itu saya bisa berhari-hari memikirkannya. Hehehe,” lanjut meraih penghargaan dari Inacraft untuk Kategori Textile, pada karyanya yang berjudul Celana Empat Pintu.

Koleksi karya Mel dikenal bergaris tailored yang bersih dan tegas. Hal ini membuka mata pencinta fashion bahwa kain baduy pun dapat tampil beda. Dari sesuatu yang biasa menjadi sangat artistik.

"Pesannya, kalau desain dibuat dengan hati dan kecintaan pasti hasilnya akan indah. Saya membuatnya tidak secara massal. Karena setiap karya saya selalu ada cerita di baliknya,” jelas Mel.

Pada  Agustus 2017 lalu, melalui kurasi ketat oleh konsultan dari Amerika Serikat, By Hand Consultant, meLOOKmeL terpilih mewakili Indonesia di gelaran event Handmade International New York Now 2017

Agar tidak monoton, belakangan Mel juga memadukan tenun baduy dengan tenun-tenun khas Indonesia lainnya. Di antaranya adalah tenun Kalimantan, Sulawesi dan batik.

Rela Lepaskan Karier

Mel tidak pernah mengenyam pendidikan di bidang fashion. Dia belajar desain secara otodidak. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar sudah kerap membuat desain baju sendiri. Desain tersebut kemudian diserahkan pada tukang jahit langganan ibundanya.

Bersyukur Mel, ibundanya seolah memberi ruang seluas-luasnya untuknya berkreasi. "Saya ingat betul waktu minta pakaian dalam yang baru dibeli ibu. Saya bilang jangan dipakai. Itu mau saya gunting gunting, mau saya modifikasi. Saya kasih aksen apa lah di lengannya, resmpel-rempel bertingkat dan ditambahi tangan. Ternyata setelah selesai dijahit oleh penjahit langganan ibu, memang cantik sekali. Akhirnya model pakaian itu dicontoh teman kakak saya,” kenang Mel.

Hobi desain tersebut terus diasah Mel dengan membuat sendiri baju untuk dipakainya sendiri. Yang membuat dia bangga, rancangan bajunya selalu mendapat pujian dari orang lain.

Demi mengikuti passion-nya, Melrela melepaskan jabatan sebagai direktur di sebuah perusahaan retail besar di Jakarta. Baginya tidak ada kata terlambat meski baru memulai karier sebagai desainer belakangan ini.

"Sejujurnya setiap saat jiwa saya gelisah. Justru yang saya pikirkan kalau saya nanti  pensiun mau ngapain ya? Suami pernah menyarankan untuk menjadi pelukis karena saya memang senang melukis. Beberapa kali ikut pameran dan lukisan saya laku terjual,” ungkap Mel.

Meski memiliki bakat melukis, Mel merasa sudah cukup terlambat untuk menjadi seorang pelukis. Karena itulah dia sempat menjajal sebagai importir aneka aksesori anak. Dari pekerjaan inilah akhirnya Mel mempunyai alasan untuk mengundurkan diri dari jabatan dan pekerjaan. 

Namun Mel kembali merasa menjadi importir aksesori anak bukanlah yang dia cari. "Meskipun secara finansial sangat menjanjikan, tapi sekali lagi saya tidak enjoy," ungkap wanita berkaca mata ini.

Hingga pada suatu ketika melakukan perjalanan ke Amerika Serikat, Mel mampir berbelanja di salah satu toko sepatu. Dia sejenak tertegun membaca tagline yang berbunyi: Jika kamu membeli sepatu ini, maka akan ada sepasang kaki yang juga bersepatu di Afrika.

Sebelum membaca tagline itu sebenarnya Mel sempat ragu membeli sepatu tersebut. Dia merasa sudah terlalu boros lantaran setiap saat menumpuk barang yang setelah dibeli terkadang tidak terlalu dibutuhkannya.

"Saya ini memang hobi belanja. Jadi waktu itu saya berpikir masak harus beli lagi sih. Tapi gara-gara tagline yang muncul di balik sepatu itu seolah mengusik hati saya yang lain. Kata-kata itu terus terngiang-ngiang,” urai Mel.

Begitu sampai di Jakarta, perasaan yang sempat mengusiknya berlalu begitu saja. Hingga pada tahun 2012, dia berpikir harus menjalankan suatu pekerjaan yang ada unsur sosialnya.

"Setelah kilas balik lagi, pekerjaan yang saya suka itu adalah bidang-bidang yang selalu ada message, visi ke depan. Saat masih kerja saya pegang marketing, tapi bukan marketing yang langsung menghasilkan profit langsung. Kalau sekarang orang menyebutkan social responsibility atau CSR. Zaman itu CSR belum sepopuler sekarang. Tapi perusahaan saya sudah memulainya,” papar Mel.

Kini Mel telah menemukan apa yang dia cari selama ini. Ke depan ibu dua anak itu ingin mengangkat tenun baduy lebih dikenal lagi. Mimpinya adalah membuat warisan bangsa ini menjadi tuan rumah di negeri sendiri, lebih dikenal dan bercita rasa global.

"Selain itu saya juga ingin mengedukasi para perajin tenun baduy. Mungkin dengan langkah-langkah kecil dulu. Intinya saya ingin mereka satu step lebih maju. Misalnya kalau awalnya warnanya itu-itu saja, saya ajak mereka untuk bangun warna baru. Jadi saat ini kita berkreasi nggak dengan pewarna alam saja tapi juga dengan warna-warna modern. Saya hanya ingin memajukan mereka dengan cara yang sederhana, nggak mesti dengan cara yang heboh,” tutup Mel.

Foto: Istimewa