Korban Erupsi Merapi, Endah Fri Utami, Bertemu Sang Penyelamat

Korban Erupsi Merapi, Endah Fri Utami, Bertemu Sang Penyelamat

Tujuh tahun berlalu sejak menjadi korbaan erupsi Merapi, hari-hari Endah Fri Utami kini diisi dengan mengurus keluarga dan buah hatinya, Tristan yang berusia 19 bulan. Meski tak lagi kesakitan, trauma masih membelenggunya.

 

Tak lama setelah menyelesaikan sekolahnya tahun 2015, Endah Fri Utami menikah dengan Riardi Giantapa. Hidupnya makin sempurna setelah melahirkan anak yang diberi nama Tristan.

Meski begitu, Endah masih menyimpaan trauma. ”Kalau cuaca mendung banget, angin besar dan ada bunyi sirine aku masih teringat. Seperti 17 Agustusan kemarin, sudah diberi tahu akan ada bunyi sirine untuk acara hari itu, tapi aku masih gemetaran ingat kejadian waktu itu,” ujarnya sedih.

Kadang Endah juga masih takut masuk ke rumahnya sendiri teringat kejadian malam itu. Rumahnya saat ini masih dihuni sang ayah, dia sering tinggal di rumah suaminya di Desa Kragilan, Bimomartani, Sleman.

”Aku selalu teringat kebersamaan dengan keluarga kalau lihat rumah itu. Dulu tiap sore biasanya juga ngumpul bareng dengan tetangga,” tambahnya. 

Untuk melawan rasa takut dan traumanya, Endah pernah coba jalan-jalan ke dekat Merapi. ”Alhamdulillah sekarang traumanya nggak separah dulu,” syukurnya.

Endah juga punya kebiasaan baru. Setiap 5 November, dia berziarah ke makam keluarga dan sanak saudara yang menjadi korban untuk doa bersama.

”Kalau melihat orang lain, jadi bertanya-tanya sendiri. Kenapa sih harus aku yang mengalami ini? Kenapa kulitku jadi begini? Kadang cerita sama teman atau keluarga, mereka bilang semua orang pasti berbeda, mungkin Allah lebih sayang sama aku makanya dikasih ujian ini karena Allah nggak mungkin kasih cobaan kalau aku nggak kuat,” renungnya.

Endah pun merasa banyak hikmah yang ia dapat di balik beratnya ujian yang harus dihadapi. Apalagi diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup.

”Banyak yang mendukung, dengan saudara-saudara jadi makin dekat, dapat banyak kenalan relawan juga. Seperti dulu aku sempat butuh tiga kantong darah lalu ada mahasiswa yang mendonorkan darahnya buat aku,” syukurnya.

Bertemu Sang Penyelamat

Endah pernah diminta menjadi pembicara di Hari Anak Nasional yang dihadiri perwakilan anak-anak di seluruh Indonesia. Saat itu dia bercerita tentang pengalamannya menjadi korban erupsi Merapi. Termasuk keinginannya bertemu relawan yang dulu menyelamatkannya.

”Waktu itu aku masih pakai kursi roda, mereka salut dan bilang saya kuat. Saya bilang, kenapa harus terus bersedih. Kalau sedih terus kapan majunya,” kata Endah.

Saat itu Endah sempat mengungkapkan tentang keinginannya bertemu relawan yang dulu menyelamatkannya. Dia sudah mencoba mencari informasi. Mulai dari bertanya sana sini sampai mencari berita di internet tapi hasilnya nihil.

Hingga pada 30 September tahun lalu ada yang datang ke rumah suaminya. ”Namanya Pak Eko. Sebelumnya beliau ke rumah yang di Bronggang karena aku lagi nggak di sana lalu diantar ke rumah suami. Beliau katanya yang dulu menyelamatkanku. Pak Eko sempat nggak percaya aku masih hidup,” ungkap Endah.

Tak hanya Endah, sejak lama Eko Subiantoro, Bayu Gawtama dan Anwar Anobi ingin mencari kabar 7 warga Bronggang yang mereka evakuasi saat Merapi erupsi. Namun selalu gagal terwujud.

Sampai suatu hari Eko yang bekerja di Kementerian Lingkungkan Hidup dan Kehutanan RI bertugas di Yogyakarta dan berusaha mencari keberadaan para korban. ”Saya tidak ingat lagi jalannya karena saat itu kondisi porak poranda, ditambah kami berlawanan arah dengan warga yang mengungsi ke zona aman,” terang Eko.

Hampir putus asa, Eko bertemu teman yang bersedia menemaninya mencari korban keesokan harinya. Ternyata jalan menuju desa tersebut cukup jauh. ”Saya heran kenapa saat mengevakuasi malam itu terasa tidak jauh, padahal hujan pasir menutupi pandangan kami di kaca mobil,” ungkapnya.

Setelah melalui jalan yang cukup berliku, mendekati pukul 22.00 WIB, Eko tiba di Bronggang. Dia kembali teringat rumah-rumah yang roboh dan teriakan minta tolong. Sampai akhirnya ada warga yang teringat kejadian malam itu dan mengantarkan Eko ke rumah Endah.

”Masya Allah, hanya dua orang yang masih hidup dan salah satunya Mbak Endah,” ungkap Eko.

Endah pun menceritakan hari-harinya pascaerupsi dan berterima kasih pada Eko dan relawan lain yang mengevakuasi para korban. ”Aku sangat berterima kasih, kalau dulu tidak diselamatkan, mungkin sekarang aku  sudah nggak ada,” tuturnya.*

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto: Dok. Pribadi