Ajaibnya Sentuhan Ibu untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Ajaibnya Sentuhan Ibu untuk Anak Berkebutuhan Khusus

“Jika anak tak lagi memahami kalimatmu, bicaralah lewat sentuhan.” Begitulah salah satu kalimat yang dikutip dari buku Sentuhan Ibu karya Fira Basuki, yang diluncurkan baru-baru ini.

Dari kalimat tersebut tersirat makna bahwa sentuhan dapat mewakili kalimat yang tak mampu dipahami. Saat baru dilahirkan di dunia dan belum bisa membuka mata dan melihat dengan jelas pun, sentuhan seorang ibu menjadi satu-satunya cara menyampaikan kasih sayang pada anaknya. Sejak saat itu, sentuhan seorang ibu tanpa sadar menjadi salah satu kebutuhan bagi anak, tak terkecuali bagi mereka yang berkebutuhan khusus.

“Sentuhan ibu sangatlah penting bagi anak-anak. Tak hanya untuk anak-anak normal, tetapi juga untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus. Sentuhan dan kasih sayang tulus dari ibu, akan membentuk anak akan jadi seperti apa nantinya,” ungkap Anggiastri Hanantyasari Utami, M.Psi., psikolog dari Lembaga Pengembangan Diri dan Komunitas Kemuning Kembar, dalam acara Nivea kampanye #SentuhanIbu, beberapa waktu lalu.

Namun, bagi anak berkebutuhan khusus, sentuhan memiliki arti yang lebih dalam baginya dibanding anak normal. Anak yang tunanetra misalnya, selain suara, ia juga sangat mengandalkan indera perabanya. Melalui sentuhan, ia bisa merasakan bahwa ia dicintai.

Terima, Cintai, dan Bangga
    
Rasanya tak ada ibu yang tak hancur hatinya saat buah hati terlahir berbeda atau mengalami kondisi yang berbeda dari anak yang lain. Rasa sedih pun bercampur dengan perasaan malu dan takut. Malu dengan bagaimana komentar yang akan dilontarkan oleh orang-orang di sekitar, dan takut si anak nantinya tidak bisa diterima dengan baik dalam pergaulan dan lingkungannya.
    
Pada akhirnya, dengan adanya perasaan-perasaan buruk seperti itu, ibu jadi bersikap tertutup pada dunia, dan cenderung menghindar untuk membawa anaknya ke luar, karena tidak siap akan bagaimana respon yang akan diterimanya. Padahal sebenarnya, secara tidak langsung hal itu membuat anak semakin merasa bahwa ia berbeda dengan anak lainnya, karena perlakuan ibu padanya berbeda dengan perlakuan ibu lainnya yang biasanya memberikan anaknya kebebasan bermain di luar.

“Kita memang tidak bisa meng-handle respon yang diberikan dari luar, tetapi kita bisa membangun kepercayaan diri, dan menerima bahwa ini adalah anak kita, buah hati yang kita cintai. Bangun stigma bahwa lingkungan tidak sekejam yang kita pikir, jadi tidak perlu banyak kekhawatiran untuk membawa anak keluar dan membiarkannya berkembang seperti anak-anak seusianya,” papar Anggi.

Bersikap Lebih Terbuka
    
Anggi berharap, para ibu yang memiliki anak yang berkebutuhan khusus, bisa bersikap lebih terbuka pada dunia. Seringkali terjadi, ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus itu mengalami stres yang luar biasa. Sebab dari segi pengasuhan, anak berkebutuhan khusus itu membutuhkan cara pendampingan yang berbeda.
    
Dalam mengajarkan hal kecil seperti memakai pakaian misalnya, anak normal pada umumnya tentu akan lebih mudah diajari dibanding anak berkebutuhan khusus. Butuh ketelatenan dan kesabaran yang luar biasa dari seorang ibu dalam mengajarkan hal-hal kecil sekalipun.

Oleh sebab itu, banyak di antara para ibu itu yang merasa tertekan. Kalimat-kalimat yang sering muncul dalam benak seperti, “Saya tidak tahu lagi bagaimana menghadapinya.”, “Saya lelah.”, atau “Tidak ada yang bisa mengerti perasaan saya.”, sebaiknya harus mulai ditepis.

Menurut Anggi, alangkah lebih baik jika para ibu dengan anak berkebutuhan khusus itu mulai membangun persepsi bahwa ia tidak sendiri. Di luar sana ada banyak sekali ibu yang mengalami hal yang sama. Tak perlu takut apalagi malu untuk berbagi cerita. Sebab, bercerita merupakan self healing terbaik bagi siapapun. Malah mungkin dengan berbagi cerita, Anda bisa menginspirasi banyak orang.


Terima dengan Penuh Syukur

Titin Sumarni, ibunda dari Natalia Mandy Widjaya, gadis 12 tahun yang divonis mengalami low vision sejak berusia 3 bulan, mengaku sudah mencoba berbagai cara agar Natalie bisa melihat lagi. Operasi demi operasi pun dilakukan, tanpa pernah memperhitungkan soal biaya. Namun hingga saat ini, belum ada yang membuahkan hasil.

“Di saat hasil dari operasi-operasi yang tidak bisa diharapkan lagi, mau bagaimana lagi? Seiring waktu berjalan, saya melihat kondisi Natalie yang happy dan bisa menerima keadaan. Saya pun jadi belajar dari anak saya sendiri, kenapa saya tidak bisa sepeti anak saya yang bisa dengan tegar menerima keadaan?” ungkap Titin.

Titin pun sadar dan memutuskan untuk lebih menyayangi Natalie. Ia yang awalnya mengaku agak menutup diri dari lingkungan, karena takut akan respon negatif dari orang-orang yang akan menyakiti hati anaknya, mulai bisa lebih terbuka dan melangkah dengan percaya diri. Kini ia tidak lagi takut dengan berbagai komentar negatif yang mungkin muncul. Malah, ia sangat bersyukur dan optimis, bahwa masa depan yang baik sedang menanti.

Natalie sendiri saat ini tengah duduk di kelas 6 bangku Sekolah Dasar. Di sekolah, ia termasuk anak yang aktif. Mata pelajaran yang ia sukai adalah mata pelajaran keterampilan. Ia pun ternyata pandai bermain alat musik seperti piano dan drum. Natalie juga ternyata aktif dalam berbagai kegiatan luar sekolah seperti bernyanyi dan bermain teater. Bahkan baru-baru ini ia pernah mengikuti pementasan teater musikal, dan meraih juara 2.


-----
Teks: Nydia Jannah
Foto: Istimewa