Senja Nababan: Ketika Kain Kasa Tertinggal di Rahimku

Senja Nababan: Ketika Kain Kasa Tertinggal di Rahimku

Masyarakat awam umumnya menaruh kepercayaan penuh pada dokter dan kurang memahami hak serta kewajiban sebagai pasien. Sehingga ketika terjadi sesuatu yang tidak lazim dalam prosedur tindakan medis yang dijalani, si pasien tak menyadarinya.

 

Pengalaman buruk dan menyakitkan dialami Senja Nababan, 33 tahun sekitar empat tahun lalu. Namun dia baru sekarang berani menceritakan pengalaman mengerikan ketika menjalani operasi caesar di sebuah rumah sakit di Batam.

Ibu empat anak itu membuka dan membagikan pengalaman ini agar pasien selalu waspada dan bersikap kritis terhadap petugas kesehatan (dokter dan perawat) ketika menemukan sesuatu yang janggal. Terutama saat penanganan operasi caesar.

Jumat 6 Oktober 2017 sore di sela kesibukan merawat empat buah hati, Naomi Siregar, 10 tahun, Josua Melsen, 7 tahun, si kembar Zane Melsen dan Zake Melsen yang pada November nanti genap 4 tahun, Senja mengurai kejadian dalam proses operasi caesar yang sangat menyakitkan. Berikut selengkapnya:

Aku tiga kali melahirkan melalui operasi caesar. Tapi lebih dari tiga kali aku menjalani operasi. Yang pertama saat usia kandungan pertama belum tiga bulan aku harus operasi untuk mengatasi usus buntu yang sudah pecah.

Lima bulan kemudian aku menjalani operasi lagi. Kali ini caesar untuk melahirkan anak pertama. Puji Tuhan, operasi berjalan lancar. Anak pertama lahir dengan berat 3,6 kg.

Anak kedua juga lahir melalui operasi caesar. Seperti si sulung, berat badannya juga 3,6 kg.

Ketika hamil anak ketiga, kesehatanku agak bermasalah karena perut terlalu besar dan sangat sakit sampai tidak bisa berjalan. Bahkan memasuki usia kehamilan enam bulan, aku tak kuat berjalan, harus ngesot. Dokter menyarankan agar tidak banyak pergerakan atau berdiri karena bekas caeesar hampir koyak, terlalu ketat katanya, sementara perutku tipis.

Menahan Sakit, Gigit Selimut

Memasuki usia kehamilan delapan bulan aku ke dokter meminta supaya si kembar dikeluarkan karena sudah benar-benar tidak kuat. Hampir tiga bulan aku kesulitan tidur.

Suamiku, Rimmeld Anthonius Siregar, 42 tahun, mengantarkan ke rumah sakit yang termasuk terbaik dan terkenal di Batam. Mertua, bapak dan adikku juga mendampingi kami.

Kepada dokter aku sampaikan semua riwayat sakit dan operasi yang pernah aku jalani. Mulai operasi usus buntu dengan bius total Oktober 2006, operasi caesar anak pertama  30 Maret 2007, operasi pengangkatan tumor di kedua payudara Mei 2007, operasi caesar anak kedua 10 Oktober 2010 dan kuret karena keguguran Januari 2013.

Kuceritakan semua secara detail. Termasuk bagaimana proses operasi karena sakit dan caesar itu terjadi di rumah sakit yang berlainan. Jantungku dicek, pergerakan bayi dalam rahim diperiksa.

Keesokan harinya, 15 November 2013, aku melakukan tes darah, tes alergi dan konsultasi medis yang berhubungan dengan anastesi untuk operasi caesar. Setelah itu masuk ruang operasi.

Kulengkungkan badan, bius disuntikkan ke tulang belakang. Proses pengeluaran bayi lancar dan epik juga karena dokter mengeluarkan kedua bayi sambil menyanyi. Biasanya tiap kali caesar aku sesak dan mual, kali itu tidak.

Anak pertama dikeluarkan beratnya 2,4 kg, tiga menit kemudian anak kedua berat badannya 2,36 kg. Lancar semuanya.

Namun setelah selesai, bekas bedah ditutup, ada yang aneh. Aku sudah bisa menggerakkan jempol kaki. Bahkan saat berada di ruang penghangat, kakiku sudah bisa digerakkan. Aku bertanya pada dua suster yang akan menghangatkanku dengan selimut khusus di sana, ”Suster, kok saya sudah bisa menggerakkan kaki ya? Baru selesai dijahit ini?”

Dua suster itu saling memandang. Seorang di antaranya sambil membereskan selimut mengatakan, ”Nggak apa-apa, Bu. Istirahat aja dulu ya.”

Aku agak tenang sambil berharap tidak akan terjadi apa-apa. Tapi kok terasa sangat perih dalam perutku. Kaki bergerak sedikit saja perutku sakit dan ngilu.

Tidak sampai lima menit sakitnya meradang. Sangat sakit dan perih tepat di bekas luka caesarku, menjalar ke semua seluruh tubuh. Suster cepat-cepat membawaku ke ruang perawatan.

Semuanya tambah sakit, perih, sakit sampai ke ulu hati dan ubun-ubun. Aku sudah mengalami banyak sakit, tapi ini luar biasa, tak tertahankan, mau menjerit tapi tidak bisa. Aku meraung-raung sambil menahan perut agar tak bergerak, kusumpal mulutku dengan selimut, kugigit kuat-kuat.

Morfinpun Tak Mempan

Aku diberi obat penenang, entah apa, tapi sedikitpun tidak ada pengaruhnya. Lalu dosisnya dinaikkan tapi tetap nihil.

Demi Dewa, sakit dan perih luar biasa, perutku seperti disayat-sayat, tambah menit tambah sakit. Aku meraung-raung lebih dari satu jam, lalu konsultasi lagi ke dokter. Sampai akhirnya aku diberi morfin. Tidak tahu dosisnya berapa, tapi sakitku tetap tak berkurang. Aku meraung-raung antara sadar dan tidak. Yang pasti ketika sadar yang terasa hanya sakit. Tiga jam berlalu sakit tetap merajalela.

Keluargaku cemas, mertuaku menangis tak tega melihat penderitaanku. Kudengar adikku bertanya dengan nada keras pada suster, ”Suster, tolonglah dicek dulu ini, mana pernah ada begini habis melahirkan. Ini anak ketiganya. Dia tidak pernah begini.”

Adikku terus mendesak supaya segera dipanggilkan dokter untuk memeriksa keadaanku. Suster-suster itu panik. Tak lama kemudian dokter kandungan datang, keluargaku bertanya, ”Dokter, tolonglah, kenapa masih kesakitan terus dia?”

Dokter bilang, ”Bu, kalau misalkan dalam perang ada tentara kena tembak atau bom, obat yang ibu pakai inilah yang digunakan untuk mengoperasinya.”

Mertuaku sambil terisak berkata pada dokter, ”Tolonglah Dokter, menantuku ini kasihan sekali. Kami nggak kuat melihatnya.”

Sambil bergegas pergi, dokter itu berkata, ”Ya sudah, nanti kami kasih obat lagi untuk mengurangi sakitnya.”

Tak lama kemudian seorang suster datang membawa entah apa, sabu tempel atau apa, sejenis narkoba tempel. Ia tempelkan benda itu di lengan atasku. Aku tetap kesakitan dan menggigit selimut. Lima atau enam jam kemudian rasa sakitnya mulai berkurang.

Teks: Siti Afifiyah   I   Foto: Dok. Pribadi

Kisah, Wanita Indonesia, Melahirkan, Operasi Caesar

Artikel Terkait

Comments