Sadar dari Kenakalan, Dita Soedarjo Menjawab Kegelisahan

Sadar dari Kenakalan, Dita Soedarjo Menjawab Kegelisahan

Terlahir dari keluarga kaya raya membuat Dita Soedarjo justru mengalami banyak tekanan. Dia pun mengaku menjadi anak nakal. Namun kini dia menyadari dan ingin menebus kesalahan.

 

Saat acara beauty class bersama Bubah Alfian yang diselenggarakannya di Plaza Indonesia, Minggu, 8 Oktober 2017 lalu, Dita Soebarjo mengenakan gaun tanpa lengan coklat muda dengan tatanan rambut bergelombang. Dia datang membawa seorang wanita paruh baya berjilbab. Dia cerita, ibu itu dikenalnya melalui Go Glam, sebuah fitur pengembangan dari Gojek untuk layanan kecantikan.

”Saya menawarinya untuk mengikuti beberapa pelatihan seputar kecantikan. Selain make up class ini, dia akan saya ikutkan pelatihan nail polish (menghias kuku). Saya berharap, dengan banyaknya keterampilan yang dia miliki penghasilannya akan meningkat. Kalau dia mau, nanti saya kenalkan juga dengan teman yang punya salon,” terang Dita.

Dengan bahasa Indonesia bercampur kalimat-kalimat Bahasa Inggris khas anak muda metropolitan, Dita lantas menjelaskan seperti beberapa kegiatan lain acara beauty class ini. Bukan sekadar memberikan pelatihan, acar ini merupakan salah satu bentuk penggalangan dana yang dilakukannya atas nama gerakan sosial yang dia inisiasi bersama para sahabat, Let’s Share.

Dita bilang charity kali ini untuk anak-anak di Papua. ”Unicef ingin membangun health center dan sekolah. Katanya ada sebuah area yang belum ada fasilitas apa-apa,” jelasnya.

Belasan peserta yang hadir adalah penggemar Bubah Alfian, seorang make up artist yang tengah naik daun. Para peserta diminta membayar Rp 2,5 juta dengan imbalan tutorial dan bingkisan dari sponsor.

”Sebenarnya yang beli tiket ada sekitar 40 orang. Tapi kayaknya sebagian telat atau berhalangan hadir. Jadi ya dana yang terkumpul sekitar Rp 2,5 juta x 40,” lanjut Dita seraya mengembangkan senyum penuh syukur.     

Dita senang banyak orang baik yang mendukung kegiatan sosial yang mereka selenggarakan. Bubah misalnya, di tengah jadwalnya yang padat melayani banyak klien dan selebriti mau meluangkan waktu tanpa dibayar sama sekali. Sementara penyanyi Angel Pieters, menyumbangkan waktunya sebagai ’manekin’ aksi Bubah di panggung. Tempat dan perlengkapan make up juga sumbangan.

”Kami memang berusaha membuat konsep charity yang menarik. Kalau gala dinner dan beli bros saja orang sudah bosan, ya?” ungkap Dita.

Pekerjakan Mantan TKW

Begitulah sekelumit aktivitas Dita sekarang. Di usianya yang ke-25 tahun ini, dia mengibaratkan diri bunga yang sedang mekar. Belum terpikir soal pernikahan, melainkan gairahnya untuk mewujudkan banyak mimpi sedang meluap-luap.

Selain penggalangan dana untuk disumbangkan pada Unicef, bersama Let’s Share, Dita menghimpun donatur untuk membiayai sekolah beberapa anak dari sebuah panti asuhan. Dia juga sibuk menyalurkan para lulusan dari beasiswa itu pada banyak perusahaan para relasinya maupun yang dia rintis sendiri.

Dignity misalnya, merupakan toko busana online hasil kolaborasinya dengan seorang sahabat yang ahli merancang busana. Untuk memenuhi stok dagangan, Dita dan sahabat mempekerjakan para mantan TKW yang diharapkan tak lagi mengadu nasib ke luar negeri.

Dita mengisahkan, aktivitas ini merupakan salah satu jawaban kegelisahannya sepulang dari sebuah rumah sakit di mana banyak mantan TKW bermasalah dirawat karena berbagai persoalan.

”Saya dekat dengan istri Menteri Tenaga Kerja, Pak Dhakiri (Hanif Dhakiri red.). Nah suatu ketika saya dibawa ke sebuah rumah sakit di mana banyak eks TKW yang menderita gangguan jiwa sehingga tidak diterima kembali keluarganya. Padahal bukan salah mereka juga, ada yang digebukin mantan bosnya sehingga lupa ingatan dan sebagainya. Jahat banget ya,” kisahnya miris. 

Sebagian dari mantan TKW itu dapat berkomunikasi dengan baik. Mereka berharap ada kegiatan positif yang dapat mereka lakukan.

”Kalau terus-terusan di rumah sakit dan bosan kan sakit jiwanya bisa makin parah. Sehingga saya carikan pelatihan atau kerja yang tepat untuk mereka,” lanjut wanita kelahiran 26 Februari 1992 ini.

Sering Dicibir

Di luar berbagai usaha yang selalu dia kaitkan dengan misi sosial, Dita juga sedang gandrung jadi beauty blogger dan menerima endorsment. Seperti banyak generasi milenial yang memanfaatkan blog dan sosial media untuk mendapatkan uang, dia menghadiri beberapa acara kecantikan untuk kemudian menulisnya dan dibayar. Tarifnya? ”Ya menyesuaikan dengan para blogger lain,” jawabnya seraya tertawa.  

Wanita yang gemar makan, memasak dan bermain dengan anjing ini mengakui hasilnya tak seberapa dibanding uang saku yang dulu dijatah orangtuanya. Tak jarang pula dia dicibir karenanya. ”Kamu kan sosialita kok mau bisnis begitu?” ujar Dta menirukan.

”Memangnya kenapa?” tanya Dita sebelum melanjutkan. ”Yang penting halal dan menyenangkan. Lagi pula pasar online ini kan sedang berkembang, peluang yang sayang dilewatkan!” serunya.

Apalagi Dita tak terlalu ribet mengerjakannya. ”Dengan tenaga minim, misalnya hanya membayar tenaga admin paruh waktu, bisa jalan dan menguntungkan. Dan lagi, saya memang hobi foto-foto dan make up. Dari kecil sebenarnya saya lebih suka warna-warni, nggak bisa dengan kalkulator dan matematika,” akunya kembali tergelak.

Dengan pendapatan dari segala penjuru itu Dita sedang berusaha mandiri. ”Belum sepenuhnya mandiri sih, karena  masih tinggal bersama orang tua. Papa bilang boleh tinggal terpisah kalau sudah menikah. Jadi ya rumah, listrik dan pembantu masih dari orang tua,” terangnya.

”Tapi aku sedang berencana menyicil apartemen. Lagi nanya-nanya. Ada marketing yang mengira aku akan menyicil 4 atau 6 kali, padahal aku mencari yang 40 kali,” lanjut Dita.

Sampai-sampai orang tersebut keheranan. ”Kamu benar anak Bu Dian Muljadi?” cerita Dita seraya tertawa.

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Instagram Dita Soedarjo