Marsan Kusir Delman: Menjual Kuda dan Emas demi Orang Sakit Jiwa

Marsan Kusir Delman: Menjual Kuda dan Emas demi Orang Sakit Jiwa

Sebagai kusir delman, kuda adalah alat utama untuk bekerja. Namun Marsan memilih menjualnya untuk merawat orang sakit jiwa yang datang kepadanya.

 

Sejak Rudi sembuh dari sakit jiwanya setelah dia rawat, Marsan kedatangan banyak penderita gangguan kejiawaan. Ada yang diantar keluarganya, ada pula yang diambil dari pinggir jalan.

Sejak itu, Marsan dan keluarga tinggal bersama para penderita sakit jiwa. Jumlahnya pun makin banyak hingga dia kewalahan memenuhi kebutuhan makan mereka. Berbagai cara dia lakukan, mulai dari meminta sayuran sisa dari penjual di pasar hingga merelakan kudanya untuk dijual.

”Awal-awal bulan masih tenang karena ada persediaan beras. Tapi kan lama-lama habis juga. Saya kemudian meminta kesediaan istri untuk menjual emasnya satu per satu. Beruntungnya, istri tidak ngomel, malah mendukung kegiatan ini. Padahal emas-emas itu bukan dari saya, melainkan pemberian orang tuanya,” kisah Marsan bersyukur.

Selanjutnya Marsan terus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan keluarganya beserta puluhan anggota baru tersebut. Salah satunya dia mengajak mereka berkebun di halaman. Mulai dari menanam kangkung, bayam dan sebagainya. Paling tidak hasil panen itu bisa diolah untuk kebutuhan makan sehari-hari.

”Walau begitu saya masih ’kedodoran’ juga. Sebab hari-hari saya praktis habis untuk mengajak mereka beraktivitas. Mana kuda juga sudah dijual, jadi saya tidak bisa narik delman lagi,” tutur Marsan.

Namun benar jika ada yang mengatakan kebaikan itu selalu menemukan jalannya. Dimulai dengan kedatangan seorang wartawan yang mencium aktivitas sosialnya pada tahun 2012. Wartawan juga menulis bahwa kondisi pantinya yang memprihatinkan butuh perhatian dari pemerintah.

”Datanglah petugas dari Dinas Sosial melakukan survei. Mereka kemudian memberikan uang dua juta lima ratus ribu rupiah untuk membuat akta notaris yayasan. Saya juga mendapat bantuan operasional satu tahun sekali. Mereka mematok tiga ribu rupiah per orang untuk makan sehari. Kecil, makanya baru dua bulan dana itu sudah habis,” keluh Marsan.

Perlahan ada satu dua keluarga yang datang menitipkan anaknya. Bukan hanya dari Bekasi dan sekitarnya, juga luar pulau. Mereka meninggalkan uang antara Rp 200-300 ribu. Ada pula pabrik yang menyumbangkan sisa katering yang tidak dikonsumsi karyawannya. Sesekali datang juga donatur. ”Lumayan meringankan,” syukur Marsan.

Soal teknik terapi pengobatan yang diterapkannya, Marsan bilang rahasia. Namun yang utama adalah kasih sayang. Itulah yang membuat mereka merasa dekat dengannya.

”Ketika mereka merasa dekat dan dicintai, bukan cinta lawan jenis ya, di situlah terapi bekerja. Tak bisa diketahui konsep kerjanya,” urainya.

Baca juga: Marsan, Kusir Delman Penyelamat Orang Sakit Jiwa

Strategi Marsan lainnya, tak boleh ada pasien yang menganggur. ”Lihat saja, di sini semua berkegiatan produktif,” ujarnya seraya menunjuk para pasiennya.

Sebagian yang telah sembuh memang membantu pekerjaannya seperti Heri. Beberapa di antaranya juga dia nikahkan. “Semoga kehidupan mereka menjadi lebih baik,” pungkas Marsan seraya memanjatkan doa.

Awalnya Merasa Aneh dan Takut

Istri Marsan, Sri Yuningsih ketika pertama kali melihat suaminya membawa pulang orang dengan gangguan jiwa merasa ketakutan. Lama-lama ia memahami dan ketularan kebaikan hati suaminya.

Praktik kebaikan itu bukannya tidak berat. Hidup mereka yang pas pas-an sering terasa kian sulit. Apalagi setelah kuda yang menjadi alat mencari nafkah terpaksa dijual untuk memenuhi kebutuhan makan mereka.

Manusiawi rasanya jika Sri sempat menggerutu. ”Dengan kuda itu bapak sehari-harinya bisa mendapat penghasilan sekitar 12 ribu rupiah. Saat itu harga beras memang masih seribu rupiah per kilo, tapi dua anak kami yang lahir di tahun yang sama masih kecil-kecil, kan kebutuhannya banyak sekali. Saya sempat bilang, bagaimana mau kasih makan ke mereka, kita sendiri saja sulit?” ungkap Sri.

Namun pada detik berikutnya ia merasa bersalah telah mengucapkannya. Di saat banyak orang tidak peduli, suaminya menunjukkan kebaikan hati, jadi kenapa ia tak mendukungnya? Begitu renung Sri.

Apalagi dia juga turut merasakan bahagia tak terkira ketika menyaksikan kesembuhan para pasien. Sri lantas berpasrah pada Tuhan dan meyakini, seiring kesulitan itu pasti datang pula pertolongan.

Baca juga: Satu dari Tujuh Orang Alami Gangguan Kejiwaan di Tempat Kerja!

Benar saja, seiring waktu ada saja bantuan entah dari mana datangnya. Bahkan putra-putranya mendapat beasiswa pendidikan tinggi. Satu di bidang manajemen, satu di bidang kesehatan.

”Mereka turut membantu mengurus panti. Terutama yang ahli kesehatan semoga nanti dapat berperan mengurus pasien yang sakit fisik. Untuk jiwanya memang bapak yang mengobati, tapi saat ada yang sakit fisik kami sering kebingungan,” keluh Sri yang berperan mengelola keuangan dan mengontrol makanan para pasien.*

Teks & Foto: Kristina Rahayu Lestari