Henny Silalahi: Kalau Saja Debora Segera Ditolong…

Henny Silalahi: Kalau Saja Debora Segera Ditolong…

Kematian bayi Debora membuat kedua orang tuanya, Henny Silalahi dan Rudianto Simanjorang sangat kecewa. Bukan mengingkari takdir, mereka merasa diperlakukan tidak manusiawi yang berakibat putrinya meninggal.

         

Siang itu, Sabtu 16 September 2017, Henny Silalahi kedatangan petugas pos yang mengantarkan sepucuk surat. Ibunda almarhum Debora yang meninggal setelah tak mendapatkan perawatan semestinya di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta ini lantas menyobek sampul surat yang berasal dari KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia).

Ternyata isinya pemberitahuan bahwa KPAI memanggil Direktur Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres untuk pertemuan pada Senin, 18 September 2017.

”KPAI menjalankan tugas dengan baik. Anak saya sudah tidak ada, nyawanya tidak tertolong. Mudah-mudahan nyawa anak-anak lain tertolong. Yang meninggal tidak bisa dibangkitkan. Kalau bisa, saya mau. Debora sudah miring ke kiri ke kanan. Ditengkurapkan sudah tegak lehernya,” Henny merapikan surat dari KPAI.

Karyawati perusahaan kargo ekspor-impor ini lantas duduk di lantai rumah kontrakannya Debora di Jalan Haji Jiung, Gang Tongkol Nomor 43 RT 02 RW 01 Kampung Baru, Kelurahan Juru Mudi, Kecamatan Benda, Tangerang. Di antara tiga anaknya yang kadang lewat atau bermain ponsel di sekitarnya, dia mencurahkan isi hatinya, tentang perjuangan Debora yang lahir prematur, kekecewaannya pada pihak rumah sakit, harapannya pada pemerintah dan layanan kesehatan.

Lahir Prematur

Saya ibu lima anak. Berturut-turut sampai anak keempat, saya melahirkan secara normal. Tiga anak pertama sehat. Anak keempat, perempuan, mengalami kelainan jantung sejak lahir. Ia meninggal di usia tiga tahun.

Pada usia 36 tahun saya hamil anak kelima. Saat kehamilan berusia 36 minggu (8 bulan) saya mengalami tekanan darah tinggi. Setelah lima hari dirawat di RSUD Cengkareng untuk menurunkan tensi, dokter melihat tidak ada gerakan aktif di dalam perut kemudian mengambil tindakan untuk saya melahirkan secara caesar keesokan harinya.

Semua anak lahir di RSUD Cengkareng. Di sana pelayanannya baik, tidak pernah meminta uang muka. Cara meminta uangnya pun manusiawi. Misalnya dengan bertanya, ”Gimana, Bu, sudah ada uangnya? Untuk menambah beli obat untuk adik.” Kami merasa diperlakukan layaknya manusia.

Saya mempunyai kartu BPJS – asuransi jaminan kesehatan untuk seluruh anggota keluarga. Dari perusahaan tempat bekerja, saya mendapat BPJS untuk saya, suami dan tiga anak. Perusahaan membatasi jaminan kesehatan untuk maksimal tiga anak. Kartu BPJS itu sumber dananya dari gaji saya yang dipotong setiap bulan.

Untuk Debora, saya membuatkan BPJS mandiri melalui bank BRI. Artinya saya punya uang, bukan tidak punya uang.

Debora lahir pada 23 April 2017 dengan berat badan 1400 gram, tiga minggu harus berada di inkubator. Karena lahir prematur, organ mata dan jantungnya belum sempurna. Harus dikontrol terus. Ia berjuang sendirian di rumah sakit. Setiap hari saya datang membawa ASI yang saya pompa di rumah.

Dari yang awalnya hanya tidur, lama-lama Debora membuka mata. Saya pegang tangan mungilnya, ia sambut dengan menggenggam jemari saya. Kata suster kalau ibunya pulang, dia menangis, sudah tahu bau ibunya.

Kalau Debora menangis, saya gendong dia, istilahnya bau tangan. Sampai tiga minggu kemudian berat badannya naik menjadi 1780 gram, Debora diizinkan dibawa pulang. Keadaannya sudah stabil. Minum ASI-nya bagus. Tidak pernah sakit. Untuk memastikan organ matanya sudah sempurna, saya memeriksakannya secara teratur ke RSCM.

Agar lebih tahu bagaimana menangani bayi prematur, saya bergabung dengan komunitas bayi prematur. Saya jadi lebih paham, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada bayi prematur. Saya menghindari pemakaian obat nyamuk elektrik atau semprot, memilih cara alami dengan menempatkan rajangan daun sereh di sudut rumah. Saya sering jemur Debora. Saya sedia termometer dan obat demam.

Awalnya saya ingin menyewa inkubator untuk merawat Debora di rumah. Tapi kemudian saya mendapatkan pengetahuan tentang metode kanguru sebagai alternatif pengganti inkubator yang ternyata memang dianjurkan untuk perawatan bayi yang lahir sebelum waktunya dengan berat badan rendah.

Saya lepas pakaian Debora kemudian meletakkannya di dada saya dengan posisi tengkurap dan kepala miring, menutupinya dengan selimut. Kontak kulit antara ibu dan bayi itu berguna untuk mengontrol suhu tubuh bayi. Dia menjadi hangat. Ternyata benar, berat badannya cepat naik. Metode ini juga bagus sebagai cara untuk mendekatkan ikatan batin ibu dan bayi.

Hati Saya Hancur

Saat Debora berusia empat bulan, ia pilek selama seminggu dan batuk dua hari. Saya membawanya ke rumah sakit tempat ia dilahirkan. Dokter memberinya racikan obat. Malam dikasih obat, tidurnya nyenyak.

Pada Minggu jam tiga dini hari 3 September 2017 saya sangat khawatir melihat keadaan Debora yang mengalami sesak napas. Saya berpikir cepat, Debora harus dibawa ke rumah sakit. Di waktu sepagi itu, yang terlintas Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres, rumah sakit besar kemungkinan alatnya lengkap, yang posisinya paling dekat rumah kami.

Dalam keadaan panik, lupa bawa dompet, saya peluk Debora dalam gendongan. Saya lindungi badannya dengan selimut. Suami yang mengendarai motor, saya bersama Debora duduk di jok belakang. Sepanjang perjalanan saya ajak ngomong Debora. ”Debora, jangan pergi. Debora harus kuat. Bertahan ya.” Debora sempat merem terus melek lagi. Ia menangis. Sudah tersengal-sengal. Napasnya sesak.

Sampai di rumah sakit Debora dimasukkan ke UGD. Mereka memasang alat penyedot dahak dan alat bantu pernafasan. Kami menunggu di luar ruangan. Saya mendengar Debora menangis kencang, saya sangat senang.

Dokter menemui kami, mengatakan Debora sudah membaik tapi belum stabil. Dia harus masuk PICU yang alatnya lengkap. Saya setuju dan meminta Debora segera dimasukkan ke sana. Dokter meminta kami menemui petugas administrasi untuk mengurus pembiayaan.

Suami mengurus ke administrasi. Biayanya Rp 19,8 juta. Katanya tidak terima BPJS. Kami harus membayar uang muka minimal Rp 11 juta.

Suami pulang mengambil dompet dan kartu ATM. Kami serahkan Rp 5 juta ke admin sambil berjanji siang nanti akan kami lunasi. Petugas admin itu menelepon atasannya. Katanya tidak boleh. Harus minimal Rp 11 juta tunai.

Kami memohon-mohon, tetap tidak boleh. Kami pergi ke dokter tapi dia bilang itu di luar wewenangnya. Dokter memberikan surat rujukan agar kami membawa anak kami ke rumah sakit lain, dalam keadaan anak kami belum stabil.

Suami sempat pergi ke rumah sakit lain dan mendapatkan kabar di sana ruangan penuh. Saya juga menelepon rumah sakit lain di Tangerang. Dalam keadaan darurat seperti itu, tak lama kemudian dokter memanggil kami, mengatakan anak kami sudah tak tertolong lagi, sudah pergi. Debora meninggal pukul 10.20 WIB.

Hati saya hancur. Kami bawa pulang Debora dengan motor.

Ilmu Kemanusiaan

Saya ke rumah sakit itu karena berpikir di situ alatnya lengkap. Kalau napas Debora tidak sesak, dekat rumah juga ada klinik yang buka 24 jam.

Saya datang dengan daster dan tanpa alas kaki, mungkin dianggap gembel, dipikir tidak akan mampu bayar. Jangan lihat fisik orang. Bagaimana kalau yang datang itu pengemis, tidak punya pekerjaan tetap, mereka butuh pertolongan?

Saya sangat terpukul, ingin mengamuk, tapi anak saya harus segera dikebumikan. Biar Tuhan yang menjelaskan.

Kalau saja Debora segera ditolong... (Henny menggantung kalimatnya dengan pandangan menerawang jauh).

Bukan melawan takdir Tuhan. Kalau kita sudah berusaha maksimal, akhirnya begitu, ya itulah takdir. Coba Debora dikasih kesempatan masuk PICU, biar Tuhan yang bekerja. Kalau ini mereka sudah langsung menutup pintunya.

Saya tidak ada niat menggugat pihak rumah sakit lewat jalur hukum. Repot. Saya rakyat kecil. Saya harus bekerja, anak-anak harus sekolah. Saya pikir biar pemerintah yang bertindak. Mereka punya power.

Jangan hanya menindak dengan teguran, jangan hanya sanksi administrasi. Apa nyawa anak sebanding dengan sanksi administrasi? Agar ada perbaikan di rumah sakit di Indonesia, bukan hanya di Jakarta. Bagaimana dengan rumah sakit di pelosok-pelosok?

Agar masalah ini menjadi perhatian pemerintah. Supaya mereka melengkapi alat-alat medisnya, juga petugas admin dan dokternya dibekali ilmu kemanusiaan. Saya yang bawa Rp 5 juta ditolak, bagaimana dengan yang datang tanpa bawa uang?

Banyak yang mendukung kami. Terutama dari kalangan ibu-ibu. Mereka mengaku mendapatkan pencerahan.

Ternyata setelah kasus Debora ini mencuat, banyak yang baru tahu bahwa rumah sakit mana pun walau tidak bekerja sama dengan BPJS harus mau menerima pasien BPJS yang datang dalam keadaan gawat darurat. Kemarin itu Debora berhubungan dengan nyawa, antara hidup dan mati, harusnya dilayani. Bagaimana kalau yang datang itu ibu hamil yang harus dioperasi caesar tapi tak punya duit? Bisa meninggal dua-duanya, ibu dan bayi.

Ada juga yang berkomentar negatif. Katanya, ”Sudah tahu rumah sakit mahal, ngapain ke situ, ke Puskesmas aja.” Ada juga yang bilang, ”Kalau nggak ada uang, ya ke rumah sakit pemerintah aja yang pakai BPJS.”

Ya ampun, saya sangat sedih. Orang bisa begitu kalau belum mengalami sendiri. Mereka tidak tahu kondisi saya. Tujuan saya menyelamatkan anak. Tidak terpikir mahal atau tidak.

Banyak yang merasa terwakili, banyak yang kirim pesan. Mereka mendukung karena pernah mengalami kejadian serupa di rumah sakit yang sama tapi beda cabang. Anaknya tidak ditangani karena tidak ada uang muka, anaknya itu akhirnya meninggal di rumah. 

Kini Debora sudah kembali ke pelukan Tuhan. Benda-benda miliknya masih saya simpan. Sampai saya kuat. *

Teks: Siti Afifiyah   I   Foto: Siti Afifiyah, Dok Pribadi