Mencegah dan Mengurangi Penderitaan

Mencegah dan Mengurangi Penderitaan

Menjabat Cooperation Program Responsible ICRC Regional Delegation for Indonesia and Timor Leste Annisa Marezqa banyak mengamati kiprah gerakan palang merah di berbagai belahan dunia. Menurutnya PMI membanggakan.

           

Bukan karena Annisa Marezqa orang Indonesia lantas merasa perlu memuji negeri sendiri. Menurutnya, Palang Merah Indonesia memang layak diacungi jempol.

”Ya, saya angkat topi untuk PMI. Sebagai salah satu Perhimpunan Nasional anggota Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional PMI memiliki jejaring relawan terlatih yang sangat besar,” puji Annisa.

Wanita 38 tahun bergabung di IRC sejak 2004. Tugasnya melakukan koordinasi dengan komponen Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional (ICRC, IFRC dan Perhimpunan Nasional).

Dalam masa itu Annisa menyaksikan bagaimana staf dan relawan PMI banyak terlibat dalam operasi tanggap darurat baik di Indonesia maupun di beberapa negara lain.

”PMI memiliki banyak sekali keahlian, seperti tanggap darurat bencana dan kesehatan dalam bencana. Sering kali keahlian tersebut menjadi referensi bagi Perhimpunan Nasional anggota Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional lainnya,” lanjutnya bangga.

Masyarakat Dapat Terlibat

PMI memanglah lembaga kemanusiaan. Namun menurut Annisa wajar jika seiring waktu lembaga ini identik dengan donor dan penyediaan darah.

”Setiap Perhimpunan Nasional anggota Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, seperti PMI di Indonesia contohnya, memiliki ke khas-an yang berbeda. Palang Merah Indonesia mendapatkan mandat dari Pemerintah Indonesia untuk menyelenggarakan pengelolaan donor darah. Mandat perhimpunan di negara lain bisa jadi berbeda,” jelas Annisa.

Terkait partisipasi masyarakat dalam misi palang merah, Annisa senang PMI membuka pintunya lebar-lebar. ”Bahkan PMI memiliki banyak program berbasis masyarakat,” pujinya.

Baca juga: Sekantong Darah yang Menyelamatkan

Hal demikian layak ditiru lembaga serupa di negara lain. Sebab masyarakat adalah elemen penting dalam kerja kemanusiaan. Yang perlu ditingkatkan menurutnya adalah kemampuan tanggap bencana serta kesadaran beroprasi lebih aman.

”Masyarakat yang terlatih dalam penanganan bencana dapat membantu mengurangi tingkat risiko yang ada pada saat terjadi kedaruratan,” pungkasnya berpesan.

Menengok Sejarah

Palang Merah Indonesia adalah bagian dari gerakan kemanusiaan dunia yang tidak memihak dan mandiri. Misinya semata-mata bersifat kemanusiaan, yakni melindungi kehidupan dan martabat para korban konflik bersenjata, bencana serta situasi kekerasan lainnya.

Bicara tentang PMI tak bisa lepas dari ICRC, Komite Internasional Palang Merah, sebuah lembaga kemanusiaan yang berbasis di Jenewa, Swiss. Pelopornya adalah Henry Dunant, seorang pebisnis dan aktivis sosial penerima nobel perdamaian pertama.

Gerakannya berawal dari keprihatinan saat melakukan perjalanan bisnis pada pada 1859, ketika Dunant menyaksikan pertempuran Solferino, perang antara pasukan Austria dan Prancis. Kenangan ini kemudian ia bukukan dengan judul Memory of Solferino pada 1862. Setahun kemudian dibentuklah Komite Internasional untuk perawatan korban luka. Pada 1876 namanya berubah menjadi ICRC.

Dalam perjalanan ICRC menjadi salah satu dari tiga komponen, sekaligus cikal bakal Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional.

Selain ICRC, komponen Gerakan antara lain Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) dan 186 Perhimpunan Nasional. Perhimpunan Nasional di Indonesia bernama Palang Merah Indonesia (PMI).

Ada lima prinsip dasar yang harus dipegang Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional seperti PMI. Itu pula yang selalu diingatkan Annisa Marezqa, Cooperation Program Responsible ICRC Regional Delegation for Indonesia and Timor Leste saat menjadi nara sumber orientasi kepalangmerahan. Seperti disampaikannya di hadapan para Pengurus PMI DKI Jakarta pada pertengahan Juli 2017 lalu.

Prinsip pertama adalah kemanusiaan. ”Tujuan satu-satunya dari aksi kemanusiaan adalah mencegah dan mengurangi penderitaan. Juga melindungi hidup dan memastikan penghormatan kepada martabat manusia,” tegas Annisa.

Hal paling kecil yang dapat diwujudkan dalam penghormatan ini adalah tidak menyebar foto korban yang mengekspose luka.

Prinsip kedua adalah kesamaan, yakni non diskriminasi, proporsional (sesuai kebutuhan) dan menghindari bias pribadi. ”Saat mendapati ibu hamil cantik dan nenek-nenek terluka di saat bersamaan misalnya harus dilihat prioritasnya,” Annisa mencontohkan.

Berikutnya adalah prinsip kenetralan. Prinsip ini harus selalu dipegang untuk mendapat kepercayaan semua pihak. Kenetralan terhadap militer diwujudkan dengan tidak terlibat dalam kekerasan / pertempuran. Sementara kenetralan dalam ideologi dan agama diwujudkan dengan tidak terlibat dalam kontroversi politik, ras, agama atau ideologi.

”Saat Suriah dibom habis-habisan tahun lalu, yang boleh masuk hanya ICRC karena kami memang dikenal mengutamakan kenetralan,” katanya.

Tiga prinsip selanjutnya adalah kemandirian dalam arti bebas dari politik, kesukarelaan yakni keikhlasan dari para relawan, kesemestaan dan kesatuan.

”Untuk prinsip kesatuan, Perhimpunan Nasional terbuka bagi siapapun. Tidak relevan bicara agama dan golongan. Jikapun pengiriman relawan ke suatu lokasi memperhatikan hal ini semata-mata hanya karena alasan keamanan,” ujar Annisa mengingatkan.  

Teks: Krstina Rahayu, Arimbi Tyastuti   I   Foto: Arimbi, Dok. Pribadi

Hari PMI, Palang Merah Indonesia, Donor Darah

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments