Cara Menghadapi Generasi Millenial, Si Generasi Strawberry

Cara Menghadapi Generasi Millenial, Si Generasi Strawberry

Julukan tersebut bak pujian namun terselip celaan. Lantas, apa sebenarnya maksud dari generasi strawberry?

 

Generasi millenial adalah terminologi untuk kelompok penduduk yang lahir dalam rentang tahun 1980-2000. Artinya, penduduk yang saat ini usianya berkisar antara 17-37 tahun, mereka lahir saat teknologi semakin berkembang, sudah menikmati televisi berwarna, ponsel dan internet.

Studi tentang generasi di dunia yang dilakukan oleh Pew Research Center pada tahun 2010, setiap generasi memiliki keunikan masing-masing. Generasi baby boomers digambarkan sebagai pekerja keras dan masih menghormati nilai-nilai.

Generasi X digambarkan mulai menggunakan teknologi namun belum terlalu intens, mengutamakan kerja keras dan konservatif. Sementara generasi millenial memiliki penguasaan teknologi yang lebih tinggi, tertarik pada budaya populer, lebih menghargai kebebasan dan memperhatikan penampilan.

Sayangnya, ada stigma negatif yang melekat pada generasi milenial. Malas, egois, cepat menyerah dan manja. Stigma itu diberikan oleh generasi pendahulunya.

Indah Tapi Rapuh

Profesor Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul Strawberry Generation menganalogikan generasi millenial seperti strawberry. Dari segi bentuk dan warna, strawberry memiliki keindahan yang menggoda. Namun, di balik keindahannya, buah itu begitu rapuh dan mudah rusak. Sama seperti generasi millenial yang kreatif, banyak akal, namun cepat menyerah dan mudah sakit hati.

Karena sikap mudah sakit hati, hubungan antara generasi ini dengan generasi yang lebih tua menjadi mudah rusak. Sedikit dimarahi langsung depresi dan dengan enteng menyebarkan kegalauan ke mana-mana. Biasanya mereka akan menghubungi teman-temannya atau memanfaatkan media sosial sebagai tempat curhat.

Jangan heran, karena generasi millenial tak bisa dilepaskan dengan teknologi. Media sosial seperti facebook, Twitter, Instagram sudah menjadi kebutuhan utama untuk berkomunikasi. Pergaulan dan eksistensi diri mereka tidak bisa terlepas dari media sosial.

Meski generasi millenial terlihat ‘rapuh’, namun sejatinya mereka menyimpan impian dan potensi yang besar.

Banyaknya informasi yang membuat generasi millenial sadar dengan keadaan di sekitarnya ternyata memberikan dampak yang positif. Mereka akan memiliki pandangan yang lebih terbuka dan mampu berpikir kritis. Karena itulah, banyak gagasan-gagasan yang unik dan out of the box lahir dari orang yang termasuk ke dalam generasi ini.

Dalam memilih tempat kerja pun golongan millenial lebih selektif. Bagi mereka, pekerjaan bukanlah segalanya sehingga mereka cenderung tidak loyal. Namun, mereka rela menghabiskan waktu lebih untuk pekerjaan yang mereka sukai. Prinsip mereka adalah work to live.

Menghadapi dengan Bijak

Pada tahun 2025, diperkirakan sebanyak 75% dari generasi millenial akan menduduki porsi tenaga kerja di seluruh dunia. Ini menjadi tantangan bagi generasi pendahulunya karena tidak mungkin generasi baby boomers mendidik generasi millenial dengan keras seperti di zaman mereka dulu. Mungkin generasi X masih bisa menyesuaikan diri karena tidak terpaut jauh dengan generasi millenial.

Sebagai orang tua yang memiliki anak-anak millenial, berikut ini tips yang dapat membantu Anda membangun mental anak menjadi lebih tahan uji.

1. Jika anak berbuat salah, berilah kritik yang membangun. Jangan memanjakan anak dengan membenarkan semua tindakannya.

2. Cari tahu kemampuan anak dan fokuskan yang paling menonjol.

3. Jadilah sumber inspirasi bagi anak, karena anak butuh sosok yang bisa menjadi panutannya.

Teks: Lucia Vania   I   Foto: pixabay

Millenial, Anak Muda, Gadget

Artikel Terkait

Comments