Generasi Millenial Sukses: Tak Ada Jalan yang Mudah

Generasi Millenial Sukses: Tak Ada Jalan yang Mudah

Setiap generasi memiliki sisi terang dan gelapnya masing-masing. Tak sedikit stigma dilekatkan pada generasi millennial. Beberapa stigma bisa jadi merupakan fakta, sebagian bisa jadi stereotip belaka.

 

Putri Indahsari Tanjung lahir 22 September 1996. Pada usia 15 tahun ia sudah merintis usaha event organizer El Paradiso, mengawalinya dengan membuat birthday party dan event-event lain.

Dua tahun kemudian Putri memberanikan diri memperbesar skala usaha sekaligus mengganti nama usaha kreatifnya dengan Creativepreneur Event Creator dengan niat menginspirasi lebih banyak generasi muda menjadi entrepreneur di ranah industri kreatif. Kegiatannya yang ia sebut seminar yang tidak membosankan, mendatangkan narasumber ahli di bidangnya masing-masing mampu menarik ribuan peserta mayoritas anak muda. Dari satu event yang dibuat, Putri bisa mendapat keuntungan satu sampai Rp 2 miliar.

”Untuk membuat acara berhasil, saya dan tim sempat ditolak belasan sponsor. Dianggap memiliki ide aneh. Tapi begitulah, kita harus berusaha karena tak ada sesuatu yang mudah,” kata Putri yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Amerika Serikat.

Sebagai salah satu generasi millennial, Putri yang juga telah sering menjadi pembicara di berbagai kampus itu mengakui bahwa dorongan lebih suka pada proses yang instan dalam bekerja itu memang ada. Dia menyebut kehadiran media sosial dan gadget membuat segalanya jadi mudah yang kemudian berpengaruh pada sikap termasuk ketika bekerja.

”Media sosial membuat gampang jualan, promosinya juga gratis. Tapi tidak semua berpikir seperti itu karena proses jatuh bangun itu penting untuk pembelajaran,” kata Putri.

Melalui Creativepreneur Event Creator, Putri ingin mengedukasi para millennial agar menghargai proses. Dia ingin anak-anak muda generasinya mengetahui formula kesuksesan yang tidak instan, karena yang instan biasanya cepat tenggelam.

Walau terlahir sebagai anak konglomerat Chairul Tanjung, Putri ingin mengukir sejarahnya sendiri. Dia bercerita, sejak kecil dididik bahwa segala hal di dunia ini tak pernah instan. Ayahnya berpesan, kesuksesan bukan buat orang-orang yang mudah menyerah.

”Tak peduli siapa, setiap anak punya hak untuk sukses. Maka, kita semua punya hak yang sama juga untuk bermimpi,” Putri mengulang ucapan ayahnya.

Menghargai Proses

Begitu pula pengalaman desainer Ria Miranda yang lahir 15 Juli 1985. Usia 23 tahun dia merintis bisnis busana muslim melalui blog, BlackBerry Messenger dan modal Rp 15 juta.

Jatuh bangun Ria lalui. Busana rancangannya disindir seperti baju tidur tidak membuat semangatnya redup. Dia terus berkarya. Warna-warna lembut, model simpel, feminin dan anggun menjadi ciri khas rancangannya.

Kini ibu dua anak itu sudah bisa membuka peluang kerja bagi banyak orang, usahanya makin besar, butiknya di mana-mana, buka cabang di Malaysia, sering diundang sebagai pembicara dalam seminar fashion Muslim sebagai sumber inspirasi.

”Semuanya saya kerjakan sendiri dari mulai mencari tim sampai memasarkan melalui blog,” Ria mengenang masa awalnya.

Pada generasi millennial yang ingin mengikuti jejaknya, Ria menekankan pentingnya kerja keras dan menghargai proses. ”Dari proses kita belajar jatuh bangun. Harus punya pengalaman juga kerja sama orang. Kami bisa mendapatkan solusi permasalahan dari proses sembilan tahun itu. Yang instan biasanya hanya ikut-ikut, sedangkan desainer harus punya karakter dan inovasi.” *

Teks: Siti Afifiyah   I   Foto: Dok. Pribadi, pixabay

Generasi Milenial, Generasi Digital, Awkarin, Instan, Gadget

Artikel Terkait

Comments