Yanty Melianty Isa: Dulu Ditipu, Kini Ayam Renyahnya Menembus Luar Negeri

Yanty Melianty Isa: Dulu Ditipu, Kini Ayam Renyahnya Menembus Luar Negeri

Gerai ayam tepung crispy-nya telah menyebar hingga negeri tetangga. Karyawan dan rekan kerjanya mencapai ribuan dan terus berkembang. Bukan capaian yang mudah, merintis usaha dari dapur rumah Yanty Melianty Isa pernah ditipu dan difitnah rekan bisnisnya.

         

Nama Yanty Melianty Isa cukup akrab di bidang perekonomian. Ia pernah menduduki posisi top management di beberapa perusahaan besar, seperti PT. Indo American Ceramics, PT. Nestle Indonesia, PT. Mustika Ratu, PT. Mayora Indah hingga PT. Tupperware Indonesia.

Kalau bicara soal uang, dari jabatan itu sebenarnya hidup Yanti bisa dikata lebih dari cukup. Namun ia berkeras untuk mewujudkan mimpi mudanya, menjadi pengusaha.

Maka sembari kuliah di Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), Yanty coba-coba berbisnis baju payet dan bordir. Bisnis ini terus ditekuninya sembari berkarier profesional dan merintis berbagai usaha lain. Hasilnya brand Kasya di bawah naungan Griya Kasya Boutique bertahan hingga sekarang.

”Yang laris sekarang kebaya dan semi kebaya kasual untuk sehari-hari,” cerita Yanty seraya mengembangkan senyumnya.

Busana bukan satu-satunya bisnis rintisan Yanty. Namanya lekat dengan seasioning (bumbu) aneka makanan dengan brand Magfood, serta ayam renyah Amazy. Dulu versi gerobaknya dikenal dengan nama Red Crispy.

”Dari awal niat saya memang mengundang orang lain jadi pengusaha juga. Makanya gerobak Red Crispy saya jual beserta pengajaran bagaimana menjadi pengusaha ayam gerobak. Yang ngambil bahkan orang-orang pintar yang sudah jadi manajer di PU, dosen dan sebagainya,” ungkap Yanty.

Namun karena kecurangan teman bisnisnya, Yanty memutuskan pecah kongsi dan bangkit dengan brand baru, Amazy.

”Kondisinya parah, uang dan barang diambil, saya masih difitnah pula. Tapi karena punya modal soft skill saya bertahan dan bangkit. Ingat, jadi pengusaha itu modalnya banyak. Salah satunya sabar karena nggak akan mungkin jadi dalam hitungan bulan,” Yanty berbagi.

Dengan modal itu Amazy kini hadir di berbagai wilayah di Indonesia, khususnya luar Pulau Jawa. Ini adalah trik bisnis Yanty yang merasa persaingan di Jakarta dan sekitarnya terlalu berat. Namun toh nyatanya dia bisa menembus Malaysia. Yanty membuka gerai di Kuala Lumpur yang sekaligus menjadi master franchaise untuk negeri Jiran

Sebenarnya Yanty ingin segera ekspansi ke pasar kuliner Brunei Darusalam. Namun ia belum menemukan partner yang cocok.

Berapa omzet Yanty? ”Tiap tahun naik, terbesar di tahun 2014. Tapi dua tahun belakangan semua usaha memang sedang kalang kabut; UMR naik, pajak naik, operasional jadi tinggi. Alhamdulillah kami tetap growth,” syukurnya tanpa bersedia menyebut angka pasti.

Terusik Nurani

Kesuksesan Yanty dicapai melalui perjalanan panjang dengan beragam liku kegagalan. Semua ia jalani sembari tetap menjadi karyawan di berbagai perusahaan besar. Bukan karena alasan kepastian materi semata. Prinsipnya, selama usaha dapat dijalankan sembari berkarier profesional kenapa tidak?

Dengan begitu Yanty selalu merasa tertantang untuk mengelola waktunya sedemikian rupa efektif dan berkualitas. Bagaimana tidak, ia harus membelah diri antara tuntutan dari perusahaan orang, mengurus keluarga, serta memastikan usahanya berjalan dan mencapai kemajuan. ”Untunglah wanita terlahir multi tasking,” ujarnya seraya mengembangkan senyum.

Karenanya, jika sebagian orang memilih mundur sebagai karyawan di perusahaan orang untuk fokus merintis bisnis, itu tidak dilakukan Yanty. Seperti catatan di atas, ia sudah mengasah jiwa pengusahanya sejak masih kuliah. Namun Yanty tak menganggapnya sebagai bisnis utama yang harus dibesarkan. Sebagai lulusan S1 Teknik Lingkungan ITB, ia ingin menjadi pengusaha sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

”Saya ingin menjadi konsultan. Maka untuk menambah ilmu, saya memutuskan bekerja di perusahaan serupa,” jelas Yanty.

Dalam perjalanan, pekerjaan ini bertentangan dengan nuraninya. ”Perusahaan tempat saya kerja kan melayani konsultasi water treatment, membuat desain pipa, pengairan sebuah kota seperti banjir kanal Jakarta dan sebagainya. Tapi ternyata akal-akalan di proyek pemerintah saat itu sangat banyak. Bikin pipa air minum 25 km misalnya, kenyataannya tidak sepanjang itu. Korupsinya sangat besar menurut saya. Lucunya, setiap tahun diajukan lagi diajukan lagi,” curhatnya.

Saat membuat estimasi pembiayaan pipa air misalnya, jika harga pipanya Rp 100 ribu tak jarang Yanty disuruh menulis angka Rp 1 juta. ”Kan harga di toko dan brosur-brosur ada, masak ya lolos audit? Saya sering juga diminta bikin laporan palsu demi kong kalingkong banyak pihak. Jadi ilmu saya 5 tahun kuliah di ITB buat apa? Saya sempat protes ke bos, dibilang kerjakan saja. Saya protes juga ke pemilik proyek yang titelnya S2-S3 luar negeri pula, namun mereka bilang ini sudah sistem, kalau tidak ikutan disingkirkan. Di situ saya mikir, saya tidak mau bekerja berkontribusi pada koruptor,” keluhnya.

Akhirnya Yanty memutuskan pindah ke perusahaan konsultan lain yang hanya mengerjakan proyek-proyek kecil. Sebutlah water treatment untuk pabrik tekstil dan amdal (analisis dampak lingkungan) untuk pabrik kertas. ”Pokoknya yang sifatnya swasta tanpaKKN (korupsi, kolusi, nepotisme),” tegasnya.

”Walaupun tetap saja kalau berhubungan dengan perizinan ada under table money, tapi nggak parah. Sampai akhirnya saya merasa tidak cocok bekerja di bidang teknik lingkungan. Akhirnya tahun 1994 saya jeda sebentar, ambil S2 MBA (Master of Business and Administration of Technology). Sebenarnya masih tetap mengerjakan proyek-proyek kecil, tapi seminimal mungkin yang tidak berhubungan dengan pemerintah,” imbuh Yanty panjang lebar.

Gagal Lagi

Setelah mengantongi ijazah MBA, Yanty bekerja di PT. Indo American Ceramics, perusahaan produsen saniter dan aneka kran merk American Standart. Posisinya Product Manager.

”Di sini S1 dan S2 saya terpakai semua. Desain produk memang dari internasional, tapi kami menentukan produk mana yang sesuai dengan Indonesia. Bagaimana untuk masuk ke gedung-gedung dan menawarkan produk yang mana. Jadi pengetahuan S1 Teknik Lingkungan terpakai, S2 Marketing Finansial kepakai juga,” tutur Yanty.

Sembari bekerja sebagai manajer produk, Yanty kembali merintis bisnis. Masih berhubungan dengan teknik lingkungan, namun kali itu membuat karbon aktif dan water treatment. Meng-hire dua karyawan untuk tenaga pemasaran dan sekretaris, ia menawarkan produknya ke perusahaan-perusahaan swasta. Salah satu hasilnya Sekolah Madania.

”Saya sewa kantor dekat dengan tempat kerja saya dulu. Jadi saya ngantor setelah pulang kerja. Dulu kan Sabtu masih masuk ya, jadi kerjanya sampai jam 4 sore. Jadi dari jam 4 sore sampai 9 malam saya bekerja di kantor sendiri. Makanya jam kerja mereka saya ubah, kalau umumnya pukul 08-16, karyawan di kantor saya pukul 10-18, jadi masih ada waktu bertemu saya sekitar 2 jam. Waktu itu belum punya anak jadi masih bisa handle,” kenang Yanty.

Tahun 1996 Yanty melahirkan anak pertamanya, menyusul anak kedua tahun berikutnya. Demi mereka, ia sempat meninggalkan bisnis, hanya fokus pada keluarga dan pekerjaan.

”Apalagi waktu itu terjadi konflik dengan rekan pendiri. Leadership saya masih rendah. Kalau terjadi masalah yang sama sekarang mungkin saya bisa mengatasinya,” Yanty merenung dan menganalisa.

Seiring waktu Yanty tertarik dengan produk consumer goods, produk yang dibutuhkan secara rutin. Begitulah kemudian ia menjadi bagian dari karyawan Nestle. Yanty ditugaskan meng-handle divisi bisnis bumbu masak.

”Ternyata di perusahaan ini, meski manajer bisnis tetap harus bisa masak. Misal berkreasi dengan bumbu kaldu menjadi sop, capcay soto dan sebagainya. Untuk pengembangan produk, kita juga harus tahu cara memasaknya. Misal membuat bumbu nasi goreng dan soto. Sangat menarik karena sebenarnya ini adalah kesenangan saya dari kecil. Bahkan waktu itu saya pernah mengikuti lomba masak, mengirim resep dan foto hasil masakan ke suatu majalah dengan KTP ibu saya,” kisahnya dengan mata berbinar.

Pengalaman mengelola bisnis perbumbuan inilah yang kelak menjadi cikal bakal PT. Magfood Inovasi Pangan milik Yanty. ”Saya melihat, ternyata bikin food seasioning itu mudah, peralatannya relatif sederhana. Kucinya kesadaran merk. Nah waktu di Nestle saya belajar semua bidang, harus mengerti product development, paham jualan, tahu promosi, keuangan, mengetes produk, membangun distributor, sistem, pajak dan semuanya. Akhirnya saya paham, sebuah perusahaan harus komplit!” simpulnya.*

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Zulham, Dok.Pri