Kemping Keluarga

Ajak Bayi Tak Perlu Khawatir Berlebihan

Ajak Bayi Tak Perlu Khawatir Berlebihan

Masa kecil Harum Sekartaji, 40 tahun, terbilang indah. Orangtuanya kerap mengajaknya ke berbagai tempat, mulai dari laut, air terjun, kebun binatang, museum, hingga Disneyland.

 

”Tapi yang sangat melekat di memori saya adalah saat umur 6 tahun diajak papa tidur di bawah bintang hanya beralas sleeping bag. Lainnya...lewaaat! Ya, bahkan Disneyland tidak mengesankan bagi saya. Mungkin karena pengalaman lain mudah didapat anak-anak lain seusia saya saat itu. Sementara berkemah tanpa tenda di tengah hutan? Orang tua keren mana yang pada zaman itu mengajak anaknya melakukannya? Wow banget itu!” seru Harum dengan tawa renyahnya.

Karena itu ia menyambut dengan gembira ketika Melvin mengajaknya bergabung dalam agenda kemping keluarga. Harum yang beberapa kali mendaki gunung tak mematok ekspektasi terlalu tinggi. Ia hanya ingin menurunkan standar ketidaknyamanan keluarganya.

Juga meyakinkan diri bahwa tujuan berkemah keluarga untuk pertama kalinya ini sesederhana memperkenalkan Naila, 7 tahun, dan Izhar, 14 bulan kepada alam terbuka. Termasuk di antaranya cara mengemas baju yang aman, cara mendirikan tenda, cara memasak di perkemahan, nyaman mandi dan ganti baju di area kemah, nyaman tidur di dalam tenda, serta nyaman bertemu orang baru.

”Saya meyakini, hal itu bisa tercapai jika kami orangtuanya pasang setelan kendor, nyantai dan yakin bahwa anak-anak akan baik-baik saja di alam terbuka selama dua hari,” ujar Harum serius.

Lokasi yang tidak terlalu menyulitkan bagi keluarga dengan anak-anak yang mayoritas di bawah 10 tahun membuat Harum lega. Jalur berjalan kaki ke bawah tidak terlalu jauh dari tempat parkir, dekat dengan pendopo yang dialiri listrik dan kamar mandi sederhana di atas perkemahan.

Hasilnya, anak-anak sangat menikmati pengalaman seru pertama mereka ini. Naila misalnya, dapat mewujudkan daftar keinginannya.

”Ya, sejak lama saya sudah diskusikan kegiatan apa saja yang bisa kami lakukan selama berkemah. Dengan rinci dia membuat daftar, seperti belajar membaca kompas untuk menentukan arah, mandi di sungai, membakar marshmallow dan sosis di api unggun, dan memasak mi instan di depan tenda. Tentu saya selipkan hal lain seperti membantu mendirikan tenda, memasang matras, menyiapkan kantong sampah dan menata tenda,” cerita Harum.

”Untuk Izhar, persiapannya justru jauh lebih santai. Dari awal saya yakin dia bakal gampang diumbar di tanah lapang. Memang benar, sepanjang siang ke sore itu dia gembira keliling di seputar area kemah. Mulai dari main bola, nyari ranting, main kerikil, memainkan tumpukan kayu bakar, hingga melihat sungai di jembatan bambu,” tutur Harum senang.

Sengaja Harum membiarkan Izhar tanpa alas kaki. Tujuannya, membiasakan supaya tidak jijik dengan tanah dan rumput basah.

”Malamnya saat api unggun dan kakaknya asyik bakar-bakar cemilan, Izhar juga asyik minta ditemani mukul-mukul perkusi dan nonton wayang. Mengejutkan, selama dua hari itu dia nggak pernah ngak ngek ngok (rewel) sama sekali. Betul-betul menikmati!” pungkasnya penuh syukur. *

Teks & Foto: Kristina Rahayu Lestari