Kemping Keluarga

Seru-seruan di Alam Terbuka

Seru-seruan di Alam Terbuka

Sepasang suami istri dan dua anak nampak serius memegang 4 tiang tenda di sebuah area lapang nan hijau di dekat gemericik sungai kecil aliran Gunung Merapi. Dengan aba-aba 1,2, 3 dari sang ayah, semua kompak mengangkatnya. ”Tadaaaa, sudah jadi!” seru ibu dan anak-anak.

 

Hasilnya tidak sempurna memang, buktinya pengelola area kemping masih membantu membenahi tenda keluarga Melvin Rarung, 42 tahun ini. Tak masalah, yang penting keseruan dan kehangatan kerjasamanya membekas di hati.

Itu pula yang membuat Melvin dan suaminya, Agni Pratama, 42 tahun, ketagihan membawa anak-anaknya, Nathan Mahesa Narayana, 9 tahun, Benaya Rangga Narayana, 7 tahun, dan Daniel Wirawardhana Narayana, 3 tahun berkemping ria.

Tak mau asyik sendiri, sejak menikmati serunya kemping keluarga pada 2012 hampir setiap tahun Melvin mengajak keluarga teman-temannya turut serta kegiatan serupa. Biasanya mereka memanfaatkan waktu libur panjang kenaikan kelas anak-anak.

Seperti Sabtu, 8 Juli 2017 misalnya, ada 7 keluarga yang bergabung dengan Melvin berkemping di Ledok Sambi, Kaliurang, Yogyakarta. Saya yang kebetulan sedang bertugas di Kota Gudeg mendapat undangan bergabung. Tentu dengan antusias saya menyambutnya.  

Tiba di lokasi saya langsung tertarik dengan peserta yang sangat beragam. Ada keluarga yang lengkap, ayah ibu dan dua anak, bahkan di antaranya masih berusia 14 bulan dan belum genap 3 tahun. Ada dua bocah laki-laki bernama Banyu Bening dan Angin Semilir yang hanya bersama ayah mereka, Tikno. Pasalnya ibu mereka sedang dinas luar kota. Ada pula ibu tunggal hebat bernama Titik bersama putrinya yang down syndrome, Jude. Indahnya, semuanya hangat berbaur.

Lihatlah saat mereka menyeberang jembatan bambu kecil menuju area lapang membawa bola-bola plastik berwarna kuning. Mulanya beberapa pasang suami istri nampak berbincang santai seraya menyaksikan anak-anak bermain bola dengan riangnya. Sesaat kemudian mereka berbaur turut menendang bola. Di antaranya bertugas sebagai penjaga gawang. Tawa riang menggema bersama tiupan angin sepoi yang menyapa pepohonan sengon dan pisang.

Bosan bermain bola, mereka pun bergeser ke arena outbound. Anak-anak langsung menyerbu area meniti tali di atas sebuah kolam buatan. Mulanya ada yang ragu dan ketakutan, namun setelah berhasil melewati rintangan, tak sedikit yang berkali-kali kembali ke titik awal.

Sebagian ayah dan ibu yang semula menyemangati di pinggiran pun satu per satu turut bergabung. Mereka sama-sama mengalahkan ketakutan meniti potongan kayu-kayu kecil terikat tali tambang putih yang bergoyang-goyang di atas air.

Purnama dan Api Unggun

Saat senja menyapa, semua beramai-ramai kembali ke tenda, mengambil peralatan mandi dan membersihkan diri.

Setelah anak-anak berganti baju hangat, sebagian berkumpul di tengah lapangan. Beralas matras para orang tua menyalakan kompor-kompor mini. Ada yang merebus air dan meracik minuman coklat hangat, ada yang memasak mi instan. Sebagian lainnya menikmati nasi ayam goreng yang  disiapkan pengelola area kemping. Nikmatnya.

Malam harinya tak kalah seru. Di bawah sinar bulan purnama dan hangatnya nyala api unggun, beragam pentas seni tersaji. Benaya dan Nathan, putra pasangan Melvin dan Agni misalnya menampilkan pentas wayang mini. Kelir (latar)-nya adalah matras protector yang dipegang ayah ibu mereka. Ceritanya tentang Pangeran Benaya dan Nathan yang suka buah bertemu putri Puput. Sekali waktu ayah mereka pun bergabung sebagai dalang.

Serunya lagi, anak-anak lain yang tadinya hanya menonton, berinisiatif tampil bergantian dengan cerita yang mendadak mereka ciptakan sendiri. Yang pasti bukan cerita pewayangan pada umumnya.

Theo, putra pasangan Riris Simanjuntak dan Windu Sinaga misalnya berkolaborasi dengan Angin Semilir, putra Tikno. Ceritanya tentang seorang pangeran yang tidak punya uang cukup untuk bermain di arena permainan di mal.

Saking semangatnya anak-anak bergantian, waktu pentas menjadi lebih panjang. Konsekuensinya harus lebih banyak orang tua yang bergantian memegang layar. Akhirnya salah satu orang tua mengusulkan pentas dipindah ke dalam tenda dengan sorot senter yang dapat menciptakan bayang-bayang wayang. Sinar bulan purnama menambah dramatis suasana.

Usai pentas wayang, keluarga Riris dan Windu beserta anak mereka, Theo unjuk kebolehan bermain perkusi. Keseruan musik mereka menarik perhatian para balita, Izhar dan Freya. Mereka turut memukul-mukul peralatan seadanya yang menimbulkan bebunyian.

Keseruan berakhir tengah malam. Sementara anak-anak sudah tertidur lelap sebagian orang tua masih berbincang ditemani jagung dan ubi bakar.

Hujan sempat mengguyur. Namun tanpa panik sebagian orang tua memilih berpindah ke pendopo, sementara sebagian lainnya memilih bertahan di tenda.

Pagi harinya, kegembiraan berlanjut dengan flying fox. Di luar perkiraan, beberapa anak yang konon biasanya tidak berani, kali itu dengan mantapnya meluncur di sepanjang tali. Beberapa ibu memilih berpasangan dengan putri mereka. Seperti Sandra dan Freya, 2 tahun 10 bulan.   

Hujan kembali mengguyur, namun bukan berarti permainan berakhir. Sebagian orang tua justru mendorong anak-anak mereka bermain bola di tengah guyuran air. Bahkan mereka pun turut serta.

Ah, sungguh pengalaman mengesankan. Membuat saya memimpikan kegiatan serupa bersama keluarga.*

Teks & Foto: Kristina Rahayu Lestari