Solena Chaniago: Dari Pelayan, Aktris sampai Hair Stylist Sukses di Amerika

Solena Chaniago: Dari Pelayan, Aktris sampai Hair Stylist Sukses di Amerika

Perjalanan hidup Solena Chaniago sungguh berliku. Memiliki anak, menjadi transgender, sukses sebagai penata rambut, bermain film hingga akhirnya menikah dengan pria bule.

 

Mengenang kariernya di Amerika Serikat juga menjadi sisi menarik dari Lena. Tahun 2014 lalu, ia pernah bercerita pada WI tentang perjalanan kariernya di Negeri Paman Sam itu.

Banyak orang mengatakan New York adalah kota pewujud mimpi, maka Lena ingin membuktikan kata-kata tersebut. Bermodalkan uang USD 500, ia berangkat ke New York pada tahun 2005.

”Pertama mimpinya tidak untuk jadi perempuan, tapi untuk survive dan dapat pekerjaan. Aku dapat kerjaan dari bawah banget, kerja di restoran sebagai pencuci piring sampai jadi pelayan,” ungkap Lena.

Upahnya yang minim membuat Lena harus pintar mengatur keuangan. Karenanya, untuk bisa istirahat pada malam hari, ia harus tidur di ruang tamu rumah orang yang disewakan. Cukup murah dibanding harus menyewa flat.

”Tahun 2010, aku mendapat kabar ada audisi film The Brooklyn Finest yang dibintangi Richard Gere. Iseng-iseng aku mencoba casting, itupun karena banyak yang men-support. Tak disangka ternyata sutradara film tersebut menyetujuiku ikut bermain di film yang rilis 5 Maret 2010 lalu itu,” kenang Lena.

Bisa dibilang, Lena menjadi transgender pertama dari Asia yang main film di Hollywood. Masih pada tahun yang sama, ia kembali menunjukkan aktingnya di film dokumenter berjudul The Extra Man yang dibintangi Katie Holmes.

Hal ini menjadi kebanggaan untuknya. Lena serasa mendapat durian runtuh bisa beradu akting dengan aktris sekelas Katie Holmes. ”Aku berusaha keras untuk nggak norak dan grogi kala itu. Yang lebih membanggakan lagi, namaku tercantum pada credit title sebagai satu-satunya pemain dari Indonesia,” tuturnya.

Saat itu, Lena sengaja menggunakan nama Chaniago agar orang-orang penasaran dan bertanya dari mana asalnya. ”Taktikku berhasil, setiap ada yang bertanya, aku dengan bangga menjawab, Indonesia,” ungkapnya.

Tidak berhenti sampai di situ, Lena mencoba hal lain. Ia belajar menjadi penata rambut.

”Dulu waktu di Indonesia aku pernah kerja kantoran. Tapi aku nggak suka kerja di belakang meja. Aku lebih merasa sebagai seniman. Lalu terpikir pengin jadi hair stylist. Lalu aku cari sekolah yang bagus ke London, Los Angeles, New York, semua belajar mengenai rambut. I like it dan aku hoki di situ makanya enjoy,” jelas Lena.

Tidak langsung bisa bekerja di salon besar, Lena pun memulainya dari salon kecil, salon menengah, hingga akhirnya menjadi hair stylist salah satu salon terbesar di New York, Paul Labrecque. Ia diterima untuk bekerja pada men’s department yang khusus menangani rambut-rambut pria.

Dari pekerjaannya itu pula Lena dipercaya menangani pelanggan kelas atas dan memiliki jabatan penting di Amerika, seperti pejabat, banker dan para CEO. Lena pernah menggunting rambut Scooter Braun, manajer Justin Bieber. Lena pun mendapat penghasilan yang sangat menjanjikan dan bisa membiayai hidupnya di Amerika.

Beralih ke Film dan Fotografi

Lena hanya menerima pelanggan berdasarkan perjanjian saja. Ia ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama putrinya yang sejak tiga bulan lalu pindah dan bersekolah di Amerika.

”Saya kan kehilangan masa-masa tumbuh kembangnya sejak ia usia setahun sampai 12 tahun. Walaupun tiap tahun ketemu, tapi saya tidak membesarkannya. Sekarang mumpung dia masih remaja, masih ada waktu sama saya sampai dia masuk universitas. Saya sangat ingin berada di dekatnya sebagai ayah, ibu dan teman yang selalu ada untuk dia,” ungkap Lena.

Selain itu, Lena tengah fokus menekuni passion-nya di dunia perfilman sebagai pembuat film dan dunia fotografi. Sebagai bekal, ia menempuh pendidikan di New York Film Academy, jurusan Film Making. Kini, ia sedang mengerjakan beberapa proyek film dengan teman-temannya di sana.

”Suatu hari nanti saya ingin bikin film dokumenter tentang orang-orang yang teraniaya, kaum minoritas atau yang berhubungan dengan hak asasi manusia,” Lena mengungkapkan impiannya.      

Lena memulai semuanya dari nol, termasuk urusan karier. Ia sangat menikmati setapak demi setapak perkembangannya berkarier di negeri orang dan menggapai mimpi-mimpinya, termasuk bisa menemukan belahan jiwa yang kini menjadi suaminya.

”Menurutku, life is about challenge, di manapun juga. Tapi untuk kasus aku karena ada unsur LGBT, Amerika lebih menerima dibanding Indonesia dan perjuangan saya tidak sepahit atau sebesar orang-orang yang senasib dengan saya yang tinggal di Indonesia,” tutur Lena.

Dengan statusnya saat ini sebagai istri, untuk urusan keuangan keluarga, Lena menyerahkannya pada sang suami. Ia pilih fokus belajar film dan merawat keluarga kecilnya.

”Beberapa klien rambut masih saya handle. Walau tidak terlalu fokus sebagai hair stylist, saya masih punya station dan bisa potong rambu di Paul Labrecque hanya kalau ada perjanjian aja,” tutupnya. *

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto: Dok. Pribadi