Chelsea Islan Terkenang Anak Asuhnya yang Menderita Kanker Otak

Chelsea Islan Terkenang Anak Asuhnya yang Menderita Kanker Otak

Di tengah padatnya jadwal kerja, Chelsea Islan melakukan aktivitas sosial. Namun aktivitas penyeimbang dalam hidup itu membuatnya teringat kepada anak asuhnya yang telah meninggal.

 

Chelsea Islan tengah giat mempersiapkan fisik dan stamina. Bukan untuk kepentingan film melainkan guna mengikuti lari maraton Indonesia Goes Pink. Kegiatan ini digagas Lovepink Indonesia, gerakan peduli kanker payudara yang dibentuk Samantha Barbara, ibunda Chelsea, bersama sejumlah survivor kanker payudara.

Sadar diri akan kemampuannya, Chelsea tak akan mengikuti marathon yang sebenarnya. ”Kalau tidak fun walk, paling-paling ikut 5K. Intinya dengan adanya Indonesia Goes Pink ini kita semakin terpacu untuk  menjaga kesehatan, pola hidup, pola makan, pola tidur,” ungkapnyasaat ditemui di kawasan Kebayoran Baru, Selasa, 11 Juli 2017.

Sebagai persiapan, jauh-jauh hari Chelsea giat berolahraga menggunakan treatmil dan melakukan sejumlah latihan. Dia berharap dengan stamina yang prima akan mampu mengikuti rangkaian acara Indonesia Goes Pink (IGP) yang bakal digelar di Nusa Dua, Bali, pada Oktober mendatang.

”Treatmil untuk jaga stamina. Terus main lompat tali, itu bagus untuk persiapan stamina untuk lari nanti,” ujar Chelsea sembari tersenyum.

Menurut Chelsea, Indonesia Goes Pink merupakan bentuk perayaan bersama antara pejuang kanker dan survivor. ”Di komunitas Lovepink ini aku melihat mereka bersatu. Para ibu saling support. Kita butuh komunitas seperti ini. Tidak menjatuhkan, tapi saling membangkitkan satu sama lain,” urainya.

Untuk itulah, meski jadwal kerjanya begitu padat, Chelsea berusaha untuk bisa melakukan kegiatan sosial. Karena baginya itu adalah aktivitas penyeimbang hidup.

”Kalau ditanya bagaimana cara mengatur waktu antara kerja dan aktivitas sosial. jawabannya adalah untuk kegiatan sosial itu tidak harus ada waktu atau tidak. Tapi kita harus membuat waktu untuk berbagi. Jadi we make time to spread happinest. Dari kecil aku sudah dibentuk seperti itu oleh orang tuaku,” ucap gadis yang kembali didapuk sebagai Brand Ambassador Indonesia Goes Pink 2017.

Artis yang membintangi Ayat-Ayat Cinta 2 ini mengatakan, sebagai generasi muda merasa terpanggil untuk ambil bagian dalam kampanye deteksi dini terhadap kanker payudara. Apalagi jumlah penderitanya semakin meningkat.

Mengutip data dari website Indonesia Goes Pink, kanker payudara merupakan penyebab kematian nomor satu wanita berusia 40-55 tahun. Namun selama ini kasus kanker payudara belum dapat ditangani secara menyeluruh meskipun selama ini kasus kanker sudah terus menerus dibangun.

Hal tersebut dikarenakan kurangnya informasi dan data yang diperlukan oleh pasien atau keluarga pasien pengidap kanker payudara, mulai dari fase preventif sampai dengan fase pengobatan.

Baca juga: Chelsea Islan Kembali Bersama Dave Mahenra

”Sebagai Brand Ambassador, aku ingin mengajak anak-anak muda Indonesia untuk lebih menyadari lagi apa penyebab kanker payudara dan bagaimana caranya menghindari penyakit tersebut,” urai bintang iklan produk kecantikan rambut ini.

Berkesempatan menjadi Brand Ambassador, Chelsea juga berkeinginan untuk lebih menyebarkan energi positif dan menyuarakan budaya hidup sehat kepada banyak orang. ”Ini sangat penting. Karena semakin ke sini statistiknya banyak sekali anak muda yang terdiagnosa kanker payudara,” ungkapnya.

Sejak SMP

Kanker dapat menyerang siapa pun. Kalau kita datang ke rumah sakit, seperti RS Dharmais, banyak sekali anak kecil yang terdiagnosa kanker.

”Bukan hanya kanker payudara. Dulu pas SMP, aku sering banget datang ke RS Dharmais. Karena waktu itu sekolah punya CSR ke sana. Di sana aku membacakan buku dongeng, ngajarin gambar dan lain-lain,” ungkap Chelsea.

Dekat dengan mereka, Chelsea melihat bagaimana anak-anak itu berjuang melawan kanker. ”Waktu itu aku SMP dan mereka lebih muda dari aku. Ternyata kanker itu tidak memandang umur. Siapapun bisa terkena, tidak hanya perempuan, tapi juga laki-laki,” ujarnya miris.

Saking seringnya melakukan kunjungan ke rumah sakit tersebut, Chelsea memiliki seorang anak asuh bernama Mario. Dia menderita kanker otak.

Saat itu Chelsea masih duduk di bangku kelas 1 SMP dan Mario berusia 8 tahun. Setiap kali dia berkunjung, bocah lelaki itu minta dibacakan buku cerita Winnie The Pooh versi Bahasa Inggris.

”Itu sudah 10 tahun lalu. Sekarang Mario sudah nggak ada. Setiap kali aku dan teman-teman sekolahku di Mentari berkunjung, tidak hanya Mario, anak-anak penderita lain juga senang sekali. Mereka antusias sekali setiap ada yang mengunjungi. Karena mereka di Dharmais hanya di ruangan. Mereka kan nggak bisa keluar nggak bisa kena matahari,” ungkap Chelsea.

Sebuah pelajaran yang dipetik Chelsa dengan aktivitas CSR di sekolahnya, kini dirinya tumbuh menjadi orang yang lebih peduli. ”Sekolahku mengajarkan berbagi, harus berbuat sesuatu untuk orang-orang di sekeliling. Kita nggak boleh hidup cuma untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain di sekeliling kita,” terangnya.

Baca juga: Chelsea Islan Jadi Agen Perubahan

”Maka dari itu aku belajar banyak banget. Di usia mereka yang seharusnya belajar ke sekolah, main-main di lapangan, mereka nggak mendapat kesempatan itu. Oleh karena itu aku belajar bahwa aku beruntung, teman-temanku, kita semua beruntung masih bisa hidup di sini. Masih bisa berbagi. Maka dari itu aku semakin ingin ikut tujuan-tujuan seperti ini,” tambah Chelsea.

Sayangnya saat ini Chelsea jarang bisa berkunjung ke RS Dharmais. Kegiatannya yang begitu padat membuatnya sulit menyisihkan waktu.

”Mudah-mudahan kalau pas ada waktu luang, aku mau mampir ke sana lagi, mau visit anak-anak di sana. Karena aku senang banget melihat mereka semangat sekaligus memotivasi mereka untuk hidup juga,” kata Chelsea.

Makin Menghargai Hidup

Pengalaman ibundanya menderita kanker payudara membuat Chelsea lebih berhati-hati. Termasuk makin memaknai hidup.

Sewaktu masih SMA, ibunda Chelsea pernah menderita kanker payudara. Bayang-bayang penyakit itu bakal menyerang dirinya tak pernah luput dari pikirannya.

Namun ketimbang harus larut dalam ketakutan, Chelsea memilih menjadikannya sebagai sebuah pelajaran. Bahkan dia menjadi lebih bersyukur dan sekaligus mengerti apa artinya hidup.

Apa yang dialami ibunya kala itu menyadarkan Chelsea bahwa seseorang bisa mengalami apapun dalam hidupnya. ”Intinya  bagaimana kita bisa bertahan. Semuanya  tergantung pada usaha yang kita lakukan,” katanya.

”Pada usia yang 22 tahun ini aku semakin menghargai hidup dan melakukan berbagai upaya agar tetap sehat. Kami sekeluarga juga saling mengingatkan untuk tidak lupa peduli pada kesehatan,” tambah Chelsea.

Untuk itulah, Chelsea mengajak teman-teman seumuran, apalagi yang lebih tua untuk menjaga kesehatan. ”Kesehatan itu bukan hanya olahraga tapi juga pola hidup. Mulai dari makan, tidur dan pikiran. Itulah mengapa hidup itu harus balance,” paparnya, mengingatkan.

Baca juga: Kebebasan Baru Chelsea Islan

Terkait pola makan, Chelsea mengaku menyukai aneka salad dan  ikan salmon. Sesekali dia mengonsumsi nasi.

”Aku makan makanan apapun, tapi yang penting kita harus tahu porsinya. Jadi nggak makanan kebanyakan. Semua ada batasnya. Aku juga nggak diet apapun cuma banyakin olahraga. Untuk minum, aku suka infused water karena bagus untuk kesehatan dan bikin segar,” pungkasnya. *

Teks: Dewi Muchtar   I   Foto: Instagram Chelsea Islan