Solena Chaniago, Transgender asal Indonesia yang Sukses di AS dan Menikahi Pria Bule

Solena Chaniago, Transgender asal Indonesia yang Sukses di AS dan Menikahi Pria Bule

Kisahnya sebagai transgender asal Indonesia yang memiliki karier cemerlang di Amerika Serikat menarik perhatian banyak orang. Tak ketinggalan cerita cintanya dengan pria setempat hingga ke pelaminan pada 4 Juli 2017 lalu.

 

Mengenakan gaun pernikahan putih beserta tudung yang menghias kepalanya sambil memegang sebuket bunga, senyum Solena Sulin atau Solena Chaniago terus mengembang. Solena yang akrab disapa Lena ini membagi kebahagiaannya di akun Instagram. Ucapan selamat pun berdatangan dari para kerabat dan followers.

Lena yang pernah menjadi juara putra daerah dalam pemilihan ’Uda dan Uni’ Sumatera Barat 1994 ini mengenang perkenalannya dengan Ronnie 9 tahun lalu.  

”Kenalnya di restoran, hujan lebat tengah malam di New York, dia memandang diriku. Akhirnya kami berkenalan dan ngobrol,” kata Lena kepada WI.

Saat kencan mereka yang kedua, Lena mengungkapkan jika dirinya seorang transgender. Mendengar pengakuan mengagetkan itu, Ronnie sempat menghilang. Tapi tak lama, pria yang berprofesi sebagai investment banker di Wall Street itu kembali menghubunginya.

”Katanya dia nggak bisa melupakan kencan-kencan kami. Dia bilang, mari coba pelan-pelan. Dia ingin tahu lebih dekat. Pendekatannya cukup lama sampai akhirnya dia nyaman baru kami berjanji untuk berpacaran,” tutur Lena, 39 tahun.

Di mata Lena, Ronnie pria baik. Membuatnya merasa nyaman dan bisa menjadi diri sendiri. Apalagi di awal transisi dari pria menjadi wanita, ia kadang moody karena terapi hormon yang dijalaninya.

”Saat moody itu butuh orang yang sabar dan dia sabar banget. Kayaknya susah ketemu cowok sabar kayak dia. Kalau di sini, misalnya dari awal dekat tidak merasa orang itu tipe kita, bisa langsung move on ke orang lain. Tapi, dia malah selalu mencoba untuk mengenal saya lebih lanjut sampai saya benar-benar sayang dengan dia,” jelas Lena yang asal Padang, Sumatera Barat ini.

Sebelum menikah dengan Ronnie, saat masih menjadi pria, Lena pernah menikah dengan seorang wanita dan dikarunia seorang putri cantik bernama Shanaya (Naya) yang kini berusia 12 tahun dan sudah tiga bulan tinggal bersamanya di Amerika. Ronnie pun menunjukkan kedekatannya dengan Shanaya.

”Naya sudah kenal Ronnie sejak usianya 3 tahun. Sekarang mereka sudah seperti keluarga. Kalau dulu Naya ke sini atau Ronnie ke Jakarta mereka sering bertemu,” terang penata rambut terkenal di Amerika Serikat itu.

The Best Day of My Life

Kisah cinta Lena dan Ronnie memang tak berjalan mulus. Sejak awal Lena berinisiatif mengungkapkan identitas dirinya ke orang tua Ronnie agar merasa lebih nyaman.

Mengetahui Lena seorang transgender, keluarga Ronnie sempat tidak merestui hubungan mereka. ”Mereka sempat tidak menerima, tidak menegur dan nggak mau ketemu saya lagi. Jadi kami pacaran kayak sembunyi-sembunyi. Akhirnya 6 bulan lalu mereka mengalah dan menerima hubungan kami,” ujarnya tanpa mampu menutupi rasa bahagia.

Lena bersyukur, orang tuanya membebaskannya mengambil keputusan. Hanya saja masih ada satu hal yang menjadi perhatian ibunda Lena, beliau ingin Ronnie masuk Islam.

”Ronnie lagi mempelajari itu. Dia nggak mau asal sebut dua kalimat syahadat. Dia nggak mau masuk Islam untuk menyenangkan keluarga saya. Ibu saya mengerti saya jelaskan seperti itu. Kemarin kami nikah secara administrasi negara di City Hall karena masih berpegang dengan agama masing-masing,” jelas Lena.

Naya pun turut senang dengan keputusan Lena menikah dengan Ronnie. Bahkan berdansa bersama di hari pernikahan Lena dan Ronnie.

”Dia bilang, ’It’s the best day of my life’ karena orang-orang yang datang ke pernikahan kami happy walau hanya 25 orang tapi terasa akrab. Mereka juga welcome dengan Shanaya. Malah dia yang jadi idolanya para tamu, bukan saya sebagai pengantin,” ujar Lena sambil tertawa.

Bicara tentang putri tunggalnya itu, Lena berharap bisa mengantarkan sampai masuk perguruan tinggi. Khususnya Ivy League Schools, asosiasi delapan Universitas Amerika yang dikenal prestisius dan bermutu tinggi, seperti Universitas Columbia dan Universitas Harvard. Jika keinginannya itu terwujud, menjadi kebanggan bagi Lena melebihi apapun.

”Saya kan dari keluarga sederhana. Saya ingin anak saya masuk ke salah satu universitas itu. Shanaya juga termotivasi ingin seperti papa Ronnie nantinya yang bergelar Ph.D dari Yale University (salah satu universitas yang termasuk Ivy League, red),” terang Lena.

Lena juga ingin putrinya bisa jadi wanita yang bermartabat, mandiri dan disegani pria. Jika saat ini banyak orang di media sosial mem-bully dan menyebut Shanaya tertekan karena memiliki orang tua LGBT, ia ingin membuktikan bahwa semua itu tidak benar.

”Ada yang bilang Naya seperti tertekan atau kasihan. Tapi coba dengar sendiri ya apa kata Naya punya orang tua LGBT,” kata Lena menyodorkan handphone-nya ke Naya.

”Aku biasa aja punya orang tua LGBT, aku seperti anak-anak lainnya, tidak merasa sedih,” ucap Naya.

Dipanggil ’Ayang’

Lena membuktikan anaknya itu tetap tumbuh normal. Hubungan Naya dengan ibu kandungnya juga baik dan berkomunikasi setiap hari.

”Ibunya melepas Naya ke saya karena percaya saya, bukan berarti dia ibu yang tidak bertanggung jawab. Kami juga tidak meributkan Naya pindah ke sini. Mungkin sudah saatnya juga Naya menimba ilmu di luar negeri,” jelas Lena.

Setelah Lena menjalani operasi transgender, Shanaya memang sempat memanggilnya Tante Lena, adik dari ayahnya. Baru empat tahun lalu Lena memberi tahu bahwa dirinya ayah kandung Naya yang telah berganti jenis kelamin.

Mendengar itu Naya sempat termenung. ”Dia hanya bilang, ’Oh’ dan berusaha mencerna. Tapi kemudian dia juga merasa lebih enak ketika tahu bapaknya transgender, daripada dulu dibilang bapaknya di Amerika dan dikatakan kalau Tante Lena ini adiknya daddy (ayah, red.),” kata Lena.

Kini, Naya memanggilnya Lena dengan sebutan ’Ayang’ seperti para keponakan memanggilnya. Lena pun lebih fleksibel menempatkan dirinya pada putrinya.

”Dia panggil mamanya tetap mami dan panggil papa ke Ronnie. Kemarin Father’s Day ucapkan ke saya tidak apa-apa karena secara biologis memang saya ayahnya dan ucapkan ke Ronnie juga. Mother’s Day pasti ucapkan ke maminya, tapi mau ucapkan ke saya juga nggak apa-apa,” kata Lena.

Lena merasa Naya bisa dekat dengannya karena Naya bisa diajak ngobrol dan bisa jadi dirinya sendiri. Ia juga menggunakan pendekatan ala Barat dalam memperlakukan Naya.

”Kalau ke maminya mungkin ada rasa segan atau takut karena dibesarkan dari kecil. Kalau aku memperlakukan dia seperti orang dewasa dan lebih mengajaknya untuk berdiskusi  daripada melarangnya melakukan sesuatu. Misalnya kalau dia mau melakukan sesuatu dibicarakan, Naya lebih nyaman begitu,” urainya.

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto: Dok. Pribadi