Agar Si Kecil Tak Lagi Pemalu

Agar Si Kecil Tak Lagi Pemalu

Dalam kehidupan sehari-hari pasti ada momen di mana kita harus dihadapkan pada situasi yang memalukan, yang bahkan mungkin sulit untuk dilupakan saking memalukannya. Penelitian menunjukkan bahwa 20-48% individu merupakan orang yang pemalu. Jadi, bukanlah hal yang aneh jika kita menemukan orang yang pemalu di sekitar kita, tak terkecuali buah hati kita sendiri.

Roslina Verauli,M.Psi., Psi., Psikolog Anak, Remaja dan Keluarga, menjelaskan, “Kalau dilihat dari berbagai studi, memang ada perbedaan secara neurobiologis pada anak-anak yang pemalu dengan anak-anak yang tidak pemalu. Reaksi mereka atas berbagai situasi, lingkungan, dan orang-orang baru memang cenderung membatasi diri, cenderung lebih mudah merasa cemas dibanding anak-anak yang tidak pemalu, dan lebih membutuhkan waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.”

Jadi, pemalu itu sebenarnya merupakan tempramen bawaan yang artinya diturunkan dari orang tuanya. Tetapi sifat pemalu pada anak itu bisa menjadi ekstrim atau justru semakin berkurang tergantung pada bagaimana sikap orang tua.

Anak yang pemalu, akan menjadi semakin ekstrim sifat pemalunya jika ia memiliki orang tua yang bersikap keras, overprotective, dan cenderung ingin mengendalikan setiap kegiatan anak. Sebaliknya, jika orang tua bersikap hangat dan  supporting terhadap kebutuhan anaknya, anak yang pemalu tadi akan semakin tertantang untuk mengatasi sifat pemalunya.
 
Kesalahan Fatal

Kesalahan fatal yang seringkali dilakukan orang tua saat punya anak yang pemalu adalah “memaksa”. Jelas-jelas anaknya pemalu, orang tua lalu memaksanya untuk masuk ke lingkungan sosial baru.

Menurut psikolog cantik yang akrab disapa Vera ini, hal itu tidaklah tepat untuk dilakukan. Salah-salah, situasi ini justru membuat anak berhadapan pada situasi yang paling mengkhawatirkan dan mencemaskan bagi dirinya. Bukan tak mungkin, anak justru akan semakin merasa takut dan tertekan.

Karena anak pemalu itu sebenarnya menyadari betul bahwa ia tidak terlalu handal secara sosial. Ia tahu, ketika dihadapkan pada situasi yang gagal ia hadapi, ia malah akan semakin tertekan dan bahkan malah menyebabkan trauma. Akibatnya, anak akan semakin membatasi diri dari lingkungan sekitar.

Yang Harus Dilakukan

Menurut Vera, ada 3 hal yang perlu dilakukan orang tua saat anak memasuki lingkungan atau situasi baru. Yang pertama harus dilakukan adalah mendampingi anak dengan tingkah laku yang ditunjukkan melalui bahasa lisan dan bahasa tubuh.
Anak-anak pemalu itu membutuhkan dukungan untuk merasa rileks. Dengan mendampingi anak ketika mereka masuk dalam lingkungan baru, ia akan merasa lebih rileks dan nyaman. Sebaliknya, langsung menceburkan anak dalam situasi baru atau di antara orang-orang baru, hanya akan membuatnya semakin cemas dan tertekan. Temani dan ikuti kegiatan bermain anak yang ia suka pada saat itu, hingga ia merasa nyaman dengan dirinya.

Kedua, ikuti irama anak. Seorang ibu yang mempunyai anak yang pemalu haruslah bersikap rileks, jangan bersikap terlalu mengendalikan. Jangan terlalu memaksa anak untuk langsung berteman dengan orang yang baru ditemuinya. Ikuti saja irama anak. Dampingi dulu ia hingga merasa nyaman, setelah itu barulah ibu bisa mundur perlahan-lahan agar tidak lagi terlalu terlibat.

Ketiga, berikan affirmasi. Saat mendampingi anak memasuki lingkungan baru, seringlah tanyakan pada anak tentang apa yang ia rasakan. Tanyakan ia kalimat-kalimat seperti, “Bagaimana? Apa kamu sudah merasa nyaman?”, “How do you feel?”, “Are you feel better?”.

Berikan Pujian dan Katakan I Love You

Vera menambahkan, dalam pengasuhan sehari-hari, hal yang perlu ditumbuhkan pada anak pemalu adalah perasaan bahwa ia kompeten. Jadi, sering-seringlah beri ia apresiasi atau pujian setiap ia berhasil melakukan sesuatu. Hal ini akan menumbuhkan rasa percaya diri pada anak pemalu. Kritikan, membandingkan dengan anak lain dan terlalu menuntut anak pemalu akan membuatnya semakin tertekan dan menutup diri.

“Satu hal lagi yang tak kalah penting adalah, sering mengucapkan “I love you” pada anak. Dengan mengatakan kalimat itu, menunjukkan bahwa kita menerima anak secara total. Karena anak yang merasa dicintai, akan merasa lebih percaya diri dan menerima dirinya sendiri apa adanya,” pungkas Vera.

-----------
Teks: Nydia Jannah
Foto: Istimewa