Kanker Juga Menyerang Anak-anak Loh!

Kanker Juga Menyerang Anak-anak Loh!

Kanker telah menjadi masalah kesehatan global. Setiap tahun terdapat 12 juta jiwa di seluruh dunia yang menderita kanker, dan 7,6 juta di antaranya meninggal dunia. Apabila tidak dilakukan tindakan pengendalian yang memadai, maka diprediksi pada tahun 2030, sebanyak 26 juta orang akan menderita kanker, dan 17 juta di antaranya meninggal dunia.

Di antara sekian banyak jenis kanker, ada kanker yang kerap menyerang anak-anak. Kanker anak adalah kanker yang menyerang anak berusia di bawah 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

“Jumlah kanker anak saat ini mencapai lebih dari 2% dari keseluruhan penyakit kanker, namun menjadi penyebab kematian kedua terbesar pada anak di rentang usia 5-14 tahun. Setiap tahun lebih dari 175.000 anak di dunia didiagnosis kanker, dan diperkirakan 90.000 di antaranya meninggal dunia. Angka kematian akibat kanker anak mencapai 50-60 persen karena umumnya penderita datang terlambat atau sudah dalam stadium lanjut akibat gejala kanker yang sulit terdeteksi,” ujar dr. Edi Tehuteru Sp.A(K).

Ia pun menjelaskan, terdapat beberapa kanker yang umumnya menyerang usia anak, dan gejalanya sering luput dari perhatian, karena seperti gejala sakit atau kecapekan biasa. Berikut beberapa kanker yang sering menyerang anak, yang wajib diwaspadai :

Leukemia
Merupakan penyakit keganasan sel darah yang berasal dari sumsum tulang. Prevalensi leukemia adalah yang tertinggi yaitu 2,8% per 100.000 anak.
“Gejala leukemia antara lain pucat, lemah, anak rewel, napsu makan menurun, demam tanpa sebab yang jelas, pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening, kejang sampai penurunan kesadaran, pendarahan kulit dan atau pendarahan spontan, nyeri tulang, seringkali ditandai dengan anak tidak mau berdiri dan berjalan, dan lebih nyaman digendong, pembesaran buah zakar dengan konsistensi keras,” jelas dr. Edi

Retinoblastoma
Ini merupakan tumor ganas primer pada mata yang sering dijumpai pada anak usia di bawah 5 tahun. Prevalensi retinoblastoma adalah 2,4% per 100.000 anak. Gejala yang ditimbulkan berupa manik mata berwarna putih, mata kucing, juling, kemerahan, pembesaran bola mata, peradangan jaringan bola mata, dan penglihatan buram.

Osteosarkoma
Biasanya disebut juga dengan kanker tulang, merupakan keganasan yang timbul di tulang. Angka kejadiannya sebesar 0,97% per 100.000 anak. Kanker ini ditandai dengan gejala nyeri tulang di malam hari atau setelah beraktivitas, pembengkakan, kemerahan dan hangat di area nyeri tulang, patah tulang setelah aktivitas rutin, gerakan tulang terbatas, nyeri menetap di punggung, demam, cepat lelah, penurunan berat badan, dan pucat.
“Sayangnya, seringkali orang tua menganggap bahwa ketika gejala ini datang ke anak, hanya diperkirakan sebagai demam biasa atau kelelahan setelah beraktivitas,” ujarnya.

Neuroblastoma
Tumor embrional dari sistem saraf simpatis yang berasal dari cikal bakal jaringan saraf. Angka kejadian neuroblastoma adalah 10,5% per 1 juta anak. Gejala yang ditimbulkan antara lain pendarahan di sekitar mata dan mata menonjol, nyeri tulang, perut terasa penuh dan diare, kelopak satu sisi mata menurun, kontraksi pupil, mata kering, pembengkakan di leher; nyeri, lumpuh, gangguan fungsi kandung kemih dan usus.

Limfoma Maligna
Adalah keganasan primer jaringan getah bening yang bersifat padat. Prevalensi penyakit ini adalah 0,75% per 100.000 anak. Gejala yang harus diwaspadai antara lain pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak, pangkal paha, dan tanpa rasa nyeri, sesak napas, tersumbatnya saluran pencernaan, demam, keringat malam, lemah, lesu, napsu makan berkurang, penurunan berat badan.

Karsinoma Nasofaring
Beberapa waktu lalu salah satu aktor Korea, Kim Woo Bin didiagnosis menginap kanker jenis ini. Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas pada daerah antara hidung dan tenggorokan. Prevalensi kanker ini mencapai 0,43% per 100.000 anak. Gejala dini yang perlu diwaspadai adalah ingus bercampur darah, pilek dan air ludah kental, hidung tersumbat, mimisan, tuli sebelah, telinga berdengung, nyeri telinga, rasa penuh di telinga.

Teks: Rizkita Lubis
Foto: Istimewa