Ingin Suntik Filler? Kenali Dulu Jenis dan Resikonya

Jenis Filler
Area wajah yang berbeda memerlukan jenis filler yang berbeda pula. Tiap jenis mengandung bahan dan tingkat ketahanan yang beragam. Perlu diperhatikan, seberapa baik filler bekerja pada wajah tergantung pada kualitasnya, area yang ditangani, serta reaksi tubuh seseorang terhadap injeksi tersebut. Berikut ini adalah beberapa jenis filler yang umum tersedia di klinik kecantikan.

  • Asam hialuronat

Jarang ditemukan reaksi alergi pada penggunaan filler tipe ini karena asam hialuronat sendiri adalah zat yang alami diproduksi kulit manusia. Bentuknya seperti gel, dengan komposisi sedikit tebal. Dapat digunakan pada area-area terbatas seperti sudut kanan atau kiri mulut, mengisi bibir, dan mengisi cekungan di bawah mata. Jika hasilnya tidak sesuai harapan, bahan ini dapat dinetralkan dengan suntikan enzim hialuronidase. Asam hialuronat dapat bertahan selama 9-12 bulan, namun hasilnya tidaklah instan.

  • Kolagen bovine

Berasal dari kulit sapi, harganya lebih terjangkau dan lebih efektif. Perlu diingat, Anda wajib menjalani tes alergi karena bahan ini dapat menyebabkan reaksi alergi pada sebagian orang. Karena secara alami tubuh memecah suntikan kolagen, maka bahan ini perlu disuntikkan 2-4 kali dalam setahun.
Selain itu terdapat juga bahan kolagen yang dikembangbiakkan dari sel-sel manusia. Jenis kolagen ini minim reaksi alergi dibandingkan kolagen bovine. Meski begitu suntikan tetap perlu diulang tiap 3-6 bulan. Karena relatif lebih aman, maka kolagen manusia ini biasanya lebih mahal.

  • Lemak autologus atau sel-sel lemak dalam tubuh

Didapatkan dengan mengangkat sedikit lemak berlebih di salah satu bagian tubuh, seperti; perut, paha, ataupun bokong  untuk disuntikkan ke bawah permukaan kulit wajah. Umumnya tidak ada reaksi alergi karena bahan yang disuntikkan adalah kulit sendiri. Hasilnya dapat bersifat permanen meski beragam pada tiap orang. Filler ini dapat bertahan 1-12 bulan.

  • Polimer buatan biodegradable

Filler jenis ini dapat bertahan hingga 24 bulan. Setelah disuntikkan, bahan ini akan merangsang sel kulit untuk membuat kolagen. Polimer yang digunakan pun ada beberapa jenis. Poly-L-lactide (PLLA) telah banyak digunakan sebagai bahan menjahit lapisan kulit dan tidak bersifat racun. Selain itu, ada polymethyl methacrylate (PMMA) yang dulunya digunakan sebagai perekat untuk operasi tulang, sebelum akhirnya digunakan sebagai filler.

Resiko Filler
Seperti semua prosedur yang memiliki risiko, suntik filler juga berisiko mendatangkan kondisi-kondisi berikut:

  • Setelah filler disuntikkan, gejala yang umum dirasakan antara lain adalah nyeri, bengkak, gatal, dan kemerahan di daerah yang disuntik.
  • Memar atau perdarahan.
  • Reaksi alergi seperti ruam dan gejala menyerupai flu.
  • Dapat terbentuk benjolan-benjolan kecil di bawah permukaan kulit. Pada beberapa kasus, benjolan ini bersifat permanen.
  • Dapat terjadi efek Tyndall, yaitu perubahan warna kulit menjadi kebiruan.
Tags: