Laras Sekar Arum, Model Indonesia di Pentas Eropa

Laras Sekar Arum, Model Indonesia di Pentas Eropa

Masih seperti bermimpi menjalani kehidupan modeling di Paris dan London, Laras sekar Arum sejenak cuti untuk kembali ke Indonesia. Dia ingin menengok orangtuanya di Balikpapan.

 

Kota Balikpapan menyimpan kenangan pahit bagi Laras Sekar Arum. Namun dari sini pula kariernya melesat hingga mampu menembus persaingan model dunia di Eropa.

Salah satu kenangan pahit yang masih sangat membekas dalam ingatan Laras adalah bully-an teman-teman SMA setelah ia memenangkan sebuah kompetisi modeling di kota kelahirannya itu. ”Aku pernah dilabrak oleh kakak kelas dan adik kelas. Mereka tidak terima aku memenangkan kompetisi,” ungkapnya. ”Hah ini model? Kurus, item, kecil, nggak ada cantik-cantiknya gini!” ujarnya menirukan ucapan mereka. 

Gambaran seorang model bagi teman-teman Laras dan kebanyakan orang lainnya adalah mereka yang putih, berisi dan berparas ’cantik’ seperti wanita-wanita blasteran. ”Makanya kalau orang lain semakin percaya diri setelah memenangkan lomba, aku malah sebaliknya. Makanya aku sebenarnya tidak suka masa SMA-ku,” curhat Laras dalam sebuah perjumpaan dengan WI di sela cutinya ke Indonesia beberapa pekan lalu.

Namun tentu tidak semua berpandangan begitu. Selain orang tua yang bangga pada prestasinya, ada seorang yang aktif di dunia permodelan meyakinkan bahwa Laras punya potensi.

”Panggilannya My Beng. Dia bilang, ’Kamu cocok di dunia modeling deh Ras, aku yakin kamu bisa!’ Itu membuat hatiku tergerak. Jujur selama ini aku tidak pernah bertemu dengan orang yang mengatakan aku bagus,” akunya. Bahkan Laras membatin, ”Oh ada ya yang yakin dengan aku!’

Laras tertantang untuk membuktikan pujian itu. Apalagi sudah lama ia punya keinginan untuk keluar dari Balikpapan

”Karena ibu sempat bilang, ’Nanti setelah kamu lulus SMA, kuliah dan kerja di Balikpapan saja ya, sekalian menemani ibu dan ayah.’ Pikirku, ya masak dari kecil hingga besar dan menikah di Balikpapan terus? Lagipula kenapa harus aku yang ‘berkorban’? Sementara kakak-kakakku bisa kuliah di luar kota. Aku juga ingin melihat dunia luar dong,” ungkap bungsu dari 4 bersaudara ini.

Maka di sela liburannya ke Bandung dan Jakarta menggunakan uang kemenangannya, Laras mengikuti sebuah casting. Begitulah setelah lulus SMA pada Mei 2016, ia bergabung dengan agensi pertamanya di Jakarta.

Hampir Setahun Tak Terurus

Mulus casting masuk agensi rupanya bukan jaminan kemulusan karier Laras di dunia modeling ibu kota. Seperti pernah disinggung Yati, ibunda Laras dalam sebuah artikel yang ditulis WI, awal-awal Laras hijrah ke Jakarta adalah saat yang tidak mengenakkan.

Baca juga: Laras Sekar Arum, Gadis Indonesia yang Memikat Eropa

Sering dalam sebulan Laras sama sekali tak mendapat pekerjaan. ”Aku sering membatin, ’Kok sepertinya hanya aku yang tidak keurus ya?’ Sepertinya agensi pertamaku itu kurang paham cara menjual aku kemana. Yang laris ya yang putih-putih, cantik seperti di tv tv itu,” ungkapnya.

Namun ia tak mau menceritakan itu pada orang tuanya. Sebab Laras sudah meyakinkan mereka bahwa ia serius merintis karier modeling di Jakarta dan tak mau orang tuanya khawatir.

”Aku sudah memutuskan untuk tidak kuliah sementara waktu supaya fokus. Karena masa modeling kan juga nggak lama. Aku ingin berhasil karena setelah menerjuninya, aku merasa sangat menikmati pekerjaan ini. Makanya dalam waktu kurang lebih satu tahun itu aku selalu mencoba berpikir positif dan mencoba bertahan,” tutur Laras.

Tapi karena masih saja meminta uang bulanan, lama-lama orang tua Laras curiga. Hal itu selalu diungkapkan saat mereka menelpon.

”Ibu bilang, ’Kok kayaknya kamu nggak berkembang di sana?’ Ayah juga mulai ragu. Sebab harusnya aku bisa menghidupi diri sendiri. Akhirnya ibu menyarankanku sambil kuliah saja di Jakarta. Begitulah akhirnya aku mendaftar di Uiversitas Terbuka jurusan Komunikasi. Tapi aku tidak menjalaninya sepenuh hati karena memang niat awal datang ke Jakarta bukan untuk kuliah,” tegas Laras.

Semua itu sempat membuat Laras minder. ”Minder banget malahan. Sebenarnya aku sudah tidak mau mengingat masa-masa itu. Nggak penting lagi sekarang, sudahlah,” ujarnya mencoba tersenyum.

Dipinang Agensi Luar Negeri

Hampir satu tahun berada dalam kondisi tak jelas akhirnya Laras tak tahan juga. Sekali waktu saat bertemu dengan fotografer bernama Luki, ia curhat soal kondisinya. Pria yang juga pemilik brand aksesori Litani inilah yang kelak mendirikan agensi Native dan membuka jalan karier internasional Laras.    

”Ya, aku sering main ke galeri Kak Luki dan pelan-pelan curhatlah. Karena saat bersama Kak Luki dan timnya itu aku merasa berada di lingkungan yang benar. Ini terkait gaya hidup dan bergaul ya. Modeling kan ada yang menganggap glamor, isinya pesta-pesta,” tutur Laras.

Baca juga: Lukiyanto Ali, Sosok di Balik Sukses Laras Sekar Arum Tembus Eropa

Luki yang melihat potensi besar Laras tak menyangka gadis ini terlantar. ”Kak Luki bilang tugas agensi memang sangat komplek. Mulai dari mendidik model supaya jadi dan membentuk opini di masyarakat kategori model apakah dia? Nah itu disesuaikan dengan foto-fotonya. Mendengar pengetahuannya yang cukup, aku dorong dia untuk mewujudkan angannya membuat sebuah agensi,” ceritanya.

Begitulah mulai September 2017 Laras resmi menjadi model pertama di Native, agensi milik Luki. Mereka langsung menyiapkan pemotretan dan dipublikasikan di sosial media.

Tak dinyana, dalam waktu satu minggu Luki dihubungi pihak Ford, sebuah agensi di Paris. Mereka ingin meminang Laras.

Segera ia diminta terbang ke Paris. Sendirian Laras menjemput mimpinya. Masih tak percaya dengan kesempatan yang diperolehnya, Laras menyiapkan skenario terburuk.  

”Ternyata sampai di Paris semua aman, tak seperti yang kubayangkan. Tiba di bandara sudah dijemput, diantar ke kantor dan apartemen. Untung waktu minim kerjaan di Jakarta itu aku sempat mengisi waktu dengan les bahasa Inggris. Jadi agak lebih pede (percaya diri) lah,” ungkap Laras.

Selanjutnya Laras sangat menikmati perjalanan kariernya di Paris. Apalagi tak disangka ia lolos casting produk sekelas YSL.

”Dari awal datang aku tidak membayangkan fashion week. Aku sadar tinggiku kurang. Sampai akhirnya dapat fashion show saja bersyukur banget. Memang sempat terlibat di Look Boosk YSL, tapi tak menyangka akan dipanggil casting untuk fashion show dan lolos,” syukurnya seraya mengembangkan senyum.*

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Dok. Pri, Dok. Native Model