Hari Tanpa Kantong Plastik

Demi Lingkungan, Vanda Magdalena Produksi Tas Tanpa Plastik

Demi Lingkungan, Vanda Magdalena Produksi Tas Tanpa Plastik

Vanda Magdalena terpesona menyaksikan masyarakat Jepang yang begitu hati-hati dalam memilih produk untuk kehidupan mereka. Dasarnya adalah kecintaan pada alam.

 

Kebanyakan dari masyarakat Jepang hanya membeli sesuatu yang alami. Mereka lebih tertarik membeli produk dari anyaman bambu atau rerumputan ketimbang yang berbahan dasar plastik.

Alasannya setelah produk itu rusak, tidak akan menimbulkan bencana. Sebab ketika dibuang akan hancur, sama sekali tidak merusak alam.

”Masyarakat Jepang itu hebat sekali ya, sampai berpikir ke situ. Dari situ aku bilang pada diri sendiri, aku mau ikutan ah,” ujar wanita yang akrab disapa Vanda ini seraya mengembangkan senyum.

Angan itu diwujudkannya setelah menghabiskan 12 tahun bekerja di berbagai bidang dan organisasi asing. Mulai dari AusAid, Frisian Flag, sampai Kedutaan Besar Amerika Serikat.

Pilihan Vanda jatuh pada bisnis tas berbahan dasar kulit sapi. ”Selain ramah lingkungan, saya punya skill-nya juga. Karena saya kan lulusan teknik kimia. Pertimbangan lainnya, kulit ini tahan lama, bisa sampai puluhan tahun, jadi orang tidak perlu beli berulang kali,” tuturnya.

Alumni Institut Teknik Bandung ini butuh waktu 2 tahun untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Pertama-tama Vanda bergerilya mencari supplier kulit sapi terbaik di Indonesia. Maklum pengalaman kerap bepergian keluar negeri membuat alam bawah sadar ia selalu mengacu pada kulit berkualitas tinggi.

”Pada saat di Roma misalnya, aku datangi toko toko kulit. Apa sih kelebihan mereka, kok sampai orang bilang sepatu kulit dari Itali?” tanya Vanda penasaran.

Dari situ Vanda punya bayangan kulit Italia seperti apa. ”Nah pada saat aku mau bikin bisnis ini aku bilang aku pengin dapat supplier hampir mirip dengan yang di Itali. Ternyata itu sulit,” curhatnya.

Setelah sekian lama cari sana sini, akhirnya Vanda menemukan supplier kulit lokal yang sesuai keinginan. Supplier ini punya pabrik sendiri, sayangnya tenaga ahlinya masih dari luar negeri.

Vanda memilih nama Giglini sebagai brand produknya. Asalnya kata giggle. Ide itu muncul karena ia ingin memiliki bisnis yang bernuansa ceria.

”Aku nggak suka yang dark. Butuh waktu kurang lebih 3 bulan untuk menemukan kata giggle. Artinya lucu dan ceria. Nah, kalau hanya giggle kan kesannya masih umum ya. Supaya lebih enak didengar saya utak-atik menjadi Giglini, ada tambahan I dibelakangnya,” lanjut Vanda berfilofosi.

Minimalisir Sampah

Belajar dari banyak negara yang sangat memperhatikan lingkungan, Vanda juga ingin memberi kontribusi nyata untuk bumi yang dipijaknya. Langkah awal mengetatkan penggunaan bahan kulit tanpa pelengkap lain berbahan plastik.

”Aku nggak mau menjual sesuatu yang kayak misalnya tas kw (tas tiruan). Berbahan plastik selain gampang rusak juga merusak lingkungan. Banyak-banyakin sampah, kan?” tegas Vanda.

Memang, untuk bahan besi, Vanda tak bisa menyiasati. ”Tapi hampir 80-90 persen, tas kulit yang kuproduksi bisa berdegradasi di alam. Begitu pun dengan tas kulit dengan kombinasi kanvas. Aku tidak memakai kanvas polyester, melainkan kanvas katun. Jadi memang aku pikirin sampai ke situ juga,” tandasnya.

Pemilihan kulit kualitas tinggi juga berdasar pertimbangan keawetan produk tasnya. Menurut Vanda, jika sebuah tas kuat dan tahan lama, konsumen tak perlu sering-sering beli tas. Artinya dapat meminimalisir sampah. ”Cukup 1-2 tas kulit yang dia suka, itu bisa dipakai selamanya,” urainya.

Karena pertimbangan sayang alam pula Vanda bertahan dengan penggunaan kulit sapi yang memang setiap harinya ada pemotongan. Ia tidak tergoda untuk menggunakan bahan dasar kulit ular atau buaya yang biasanya didapat dari perburuan.

Jika pun ada desain tas yang menyerupai kedua kulit binatang melata itu, Vanda bilang manipulasi semata. ”Memakai teknik emboss, dicetak seperti kulit buaya atau ular misalnya,” terangnya.

Giglini menyasar pasar usia 25-40 tahun. Untuk masing-masing desain menurut Vanda sengaja dibuat terbatas, maksimal 10 unit saja. Supaya tidak terkesan massal.

”Giglini juga membuat tas pria yang disesuaikan kebutuhan mereka. Misalnya dengan menambah tempat menyimpan dompet atau ponsel. Simpel tapi tetap elegan.Kebanyakan pria lebih senang tas selempang dan memudahkan dalam pencarian barang di dalam tasnya,” jelas Vanda.

Ada pula yang dibuat khusus untuk perempuan ’maskulin’ dengan tali selempang dan tas sedikit melebar. Sementara untuk perempuan feminin dia menambahkan beberapa ornamen kancing atau aksesori di bagian depan.

”Saya membuat model yang simpel karena di luar negeri orang lebih senang model seperti itu. Nah aku melihat peluang pasar untuk menjual yang simpel seperti ini masih besar,” ungkap Vanda. 

Bagaimana perawatannya? Kata Vanda, sejatinya hampir sama seperti kulit manusia. ”Kalau nggak mau kulit tas menjadi kering, ada krim khusus untuk melembabkan. Krim nabati dari lemak sapi sendiri. Setelah dikasih krim tersebut tas kulit akan terlihat kinclong terus,” pungkas Vanda berbagi trik. *

Teks: Dewi Muchtar   I   Foto: Dok Pri.