Anak Cerebral Palsy Berhasil Masuk Master Hukum Universitas Harvard

Anak Cerebral Palsy Berhasil Masuk Master Hukum Universitas Harvard

Kasih ibu memang tidak terhingga. Begitu pula yang ditunjukkan ibu tunggal berikut, ia menolak saran dokter agar menggugurkan kandungannya karena kehamilannya bermasalah. Kegigihannya merawat anak yang berkebutuhan khusus itu kini membuat banyak orang kagum karena anaknya bisa kuliah di Universitas Harvard.

 

Komplikasi yang dialami Zou Hongyan selama hamil membuatnya berhadapan dengan pilihan besar ketika akan melahirkan anaknya di tahun 1988 lalu. Kesulitannya ketika akan melahirkan itu hampir membuat anaknya meninggal.

Saat itu, dokter rumah sakit di Provinsi Hubei, China bahkan menyarankan agar ia  menyerah saja. Doker memberi gambaran, walaupun Zou berhasil melahirkan, nantinya anak tersebut akan tumbuh dengan kecerdasan rendah atau seumur hidupnya akan menjadi anak berkebutuhan khusus.

Mendengar hal itu, Zou yang saat itu masih berusia 25 tahun, sangat sedih. Ia semakin sedih karena suaminya yang diharapkan mendukung melahirkan anak pertama mereka justru sependapat dengan dokter.

Menurut suaminya, anak yang akan dilahirkan itu hanya akan menjadi beban bagi keluarga mereka. Meski begitu, Zou tetap pada keputusannya. Ia bersikeras akan menyelamatkan anak yang sudah susah payah dikandungnya. Apalagi saat ia merasakan bayi di dalam kandungannya itu menendang-nendang perutnya.

”Dia (suami Zou) bilang, jangan ada anak ini, dia akan menjadi beban sepanjang hidup kita,” ujar Zou menirukan ucapan suaminya saat itu.

Sang suami menyebut Zou keras kepala. Sedangkan Zou menganggap suaminya egois. Hal ini membuat keduanya berselisih, hingga akhirnya mereka memutuskan berpisah tak lama setelah Zou melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Ding Ding.

Benar apa yang dikatakan dokter. Ding Ding menderita asfiksia intrauterin dan didiagnosis mengalami cerebral palsy, sebuah gangguan neurologis yang menyebabkan hilangnya atau penurunan fungsi motorik.

Sebagai ibu, Zou bertekad berjuang demi Ding Ding seorang diri. Walau memiliki pekerjaan tetap di sebuah perguruan tinggi di Wuhan, ia juga bekerja paruh waktu sebagai pelatih protokol, bahkan menjual asuransi.

Dari penghasilannya itu, Zou gunakan untuk biaya hidup mereka sehari-hari. Ia juga masih harus membayar pengobatan anaknya.

Seiring bertambahnya usia Ding Ding, kekurangan fisiknya semakin jelas. Tidak bisa berdiri sampai usianya dua tahun, belum bisa berjalan sampai usianya 3 tahun dan belum bisa melompat sampai usianya 6 tahun. Pertumbuhan dan perkembangannya lebih lambat dibanding anak-anak usianya.

Oleh karena itu, Zou benar-benar mengatur waktunya antara bekerja dan merawat Ding Ding yang berkebutuhan khusus. Secara teratur, ia membawa putranya untuk menjalani sesi rehabilitasi.

Bahkan untuk mengatasi otot-otot Ding yang kaku, Zou secara khusus mempelajari pijat terapeutik. Sedangkan untuk merangsang perkembangan otak putranya, ia mengajaknya berbagai permainan edukatif, seperti bermain teka-teki dan puzzle.

Tak hanya itu, Zou bahkan mengajari Ding Ding menggunakan pulpen untuk membantunya mengerjakan tugas sekolah dan berlatih menggunakan sumpit untuk makan. Hal ini bukan hal mudah bagi putranya yang bermasalah dalam mengendalikan gerak tangan.

Tapi, Zou melakukan itu semua demi kebaikan anaknya hingga dewasa nanti. Misalnya, saat Ding Ding tidak bisa menggunakan sumpit, banyak kerabatnya yang tidak mengerti kenapa tidak bisa makan seperti orang lain. Jika tidak melatihnya, ia harus selalu menjelaskan setiap makan dengan orang lain mengapa anaknya tidak bisa menggunakan sumpit.

Jadi Sarjana

Zou sangat gigih membesarkan Ding Ding. Bagi sebagian orang, ia terlihat sebagai orang tua yang sangat keras mendidik anaknya yang berkebutuhan khusus itu. Memang, semaksimal mungkin ia berusaha mengatasi keterbatasan dan membuat anaknya bisa menemukan potensinya.

Diakui Zou, sejak awal ia melakukan itu karena bersikeras Ding Ding akan bisa mengatasi segala keterbatasan fisiknya sedini mungkin. Termasuk dalam hal akademis.

”Saya tak ingin ia merasa malu dengan kekurangan fisik yang dialaminya. Karena dia memiliki banyak kemampuan yang lebih rendah di banyak bidang, saya cukup ketat agar dia bekerja keras untuk mengejar ketinggalan,” ungkap Zou.

Kerja keras dan kasih sayang Zou dalam membesarkan putranya berbuah manis. Ding Ding bisa melalui hari-harinya sebagai pelajar dan mengejar ketinggalan. Ia pun bahagia anaknya bisa sampai ke jenjang perguruan tinggi.

Tahun 2011, Ding Ding meraih gelar Sarjana Sains dari Universitas Peking di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknik Lingkungan. Sukses menyelesaikan S1, putra Zou ini mendaftarkan diri untuk meraih gelar master di Sekolah Hukum Internasional tahun 2015. Setelah lulus, Ding Ding mendapat pekerjaan selama dua tahun di bidang hukum. Kesempatan itu juga ia manfaatkan untuk membantu ibunya.  

Tak berhenti di situ, setahun kemudian, Zou mendesak Ding Ding untuk meraih ilmu lebih tinggi lagi. Karenanya, ia meminta anaknya itu coba mendaftar ke salah satu universitas terbaik di dunia, Universitas Harvard.

”Aku tidak pernah berani untuk mendaftar di Harvard, tapi ibuku selalu mendorongku untuk mencoba. Setiap aku merasa ragu, ibuku selalu ada untuk membimbingku,” kata Ding Ding, bersyukur.

Ketika memberanikan diri mencoba, Ding Ding akhirnya berhasil melewati ketakutannya itu. Ia diterimanya di Universitas Harvard bidang hukum.

Ding Ding mengambil program LL.M (Master of Laws) yang digelar selama satu tahun. Biasanya, program ini diikuti 180 siswa dari lebih 70 negara. Ia menunjukkan ketertarikan pada bidang kekayaan intelektual dan cyberlaw itu juga mendapat beasiswa 75% dari universitas di Amerika Serikat itu.

Meski biaya pendidikannya ditanggung Harvard 75%, tapi sisa yang harus dibayarkan bukanlah jumlah kecil. Beruntung, ibunya masih membantunya membiayai sekolahnya.

Ding Ding pun menyadari hal ini. ”Di yang sudah 29 tahun ini, saya masih bergantung dengan ibu saya. Saya harap, saya bisa segera lebih sukses dan mandiri, sehingga ibu bisa memiliki kehidupan yang lebih baik,” harapnya.

Tahun lalu, untuk melanjutkan studinya di Harvard, Ding Ding meninggalkan ibunya di Jingzhou, Hubei, Cina. Ia sering merindukan ibunya yang disebutnya sebagai mental spiritual itu.

Setelah program LL.M ini berakhir, Ding Ding berencana kembali ke negaranya untuk mempraktikan ilmu hukum yang sudah dipelajarinya dan ingin berkarier sebagai pengajar di bidang hukum.

Semua pencapaiannya selama ini ia dedikasikan pada ibunya tercinta. Ding Ding sangat berterima kasih dengan cinta dan kesetiaan ibunya selama ini yang membuatnya bisa sukses walau ia hidup dalam keterbatasan. Dengan bimbingan ibunya pula ia jadi bisa melewati banyak tantangan, bahkan bisa unggul dalam studi akademis. *

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto: Istimewa