Sekolah Gajah Wong, Berjalan dengan Donasi Sampah dan Ternak Kambing

Sekolah Gajah Wong, Berjalan dengan Donasi Sampah dan Ternak Kambing

Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti belajar. Itulah yang diyakini Faiz Fakhrudin, koordinator sekolah Gajahwong, Yogyakarta. Sejak tahun 2011 dirinya dan sejumlah pemuda di Ledok Timoho, Yogyakarta, merintis sebuah sekolah gratis dengan nama Gajah Wong.

Pemuda yang sebagian besar berprofesi sebagai pengamen jalanan itu merasa terpanggil untuk ikut mencerdaskan anak-anak di lingkungannya. Mereka yakin pendidikan dapat menjadi jalan untuk memutus rantai kemiskinan.

Kawasan Ledok Timoho, Mujamuju, Balirejo, Yogyakarta memang dikenal sebagai salah satu pemukiman masyarakat miskin di Kota Gudeg. Warga mulai menempati perkampungan di bantaran sungai Gajah Wong ini sejak sekitar 15 tahun lalu.

Tercatat ada sekitar 50 KK atau kurang lebih 300 Jiwa yang mendiami tempat di bagian Timur Kota Yogyakarta itu. Sebagian besar diantaranya berprofesi sebagai pemulung maupun pengamen.

Kesulitan ekonomi membuat anak-anak di Ledok Timoho tak dapat mengeyam pendidikan. Bukan saja lantaran persoalan biaya, namun mereka juga harus membantu orang tua mencari nafkah. Alhasil, setelah beranjak dewasa mereka mengikuti jejak orangtua masuk ke jalanan sebagai pengamen ataupun pemulung.

Sedih melihat banyak anak di daerahnya  tidak sekolah, Faiz dan kawan-kawan lantas mengumpulkan mereka. Dimulailah 'pendidikan' informal. Paling tidak nantinya mereka tidak buta huruf.

“Kita datangi satu-satu keluarda dan memberi pemahaman pentingnya pendidikan ke orangtua,"cerita Faiz.

Pada gelombang pertama, terdaftar 22 anak usia dini. Mereka lantas dibagi menjadi 2 kelas, yakni kelas akar dan kelas rumput. Kelas akar untuk usia 3 hingga 5 tahun, sementara kelas rumput untuk usia 5 sampai 7 tahun.

Seiring waktu siswa Sekolah Gajah Wong semakin bertambah. Saat ini ada sekitar 40an siswa dari Ledok Timoho dan desa-desa lain di sekitarnya. Selain anak usia dini, sekolah Gajah Wong juga terbuka untuk untuk orangtua yang ingin belajar membaca dan lainnya. Kelas orang tua digelar setiap hari Sabtu.

Untuk tenaga pengajar, lanjut Faiz, awalnya mengundang kepedulian para mahasiswa untuk menjadi relawan. Seiring waktu, Pengelola merekrut tenaga pengajar ditambah beberapa guru sukarela. "Sekarang sudah ada guru tetap, tetapi ini masih kekurangan," tuturnya.

Faiz menegaskan, Sekolah Gajahwong pada dasarnya berkonsep pendidikan gratis. Namun orang tua tetap harus berkontribusai. Bukan dengan uang, melainkan dengan menjalankan piket bersih-bersih sekolah.

Faiz bermimpi, sekolah gratis ini menjadi tempat anak-anak tak mampu di sekitarnya  merajut masa depan yang lebih baik. Sehingga mereka dapat meninggalkan kehidupan jalanan.

(Foto: Siswa Sekolah Gajah Wong Sedang belajar memanen jagung yang ditanam pengelola sekolah secara swadaya. Hasil panen akan digunakan untuk konsumsi dan sebagian lagi dijual ke pasar. Sumber: Instagram Sekolah Gajah Wong.

Bicara soal dana, Faiz mengatakan awalnya sekolah ini dibangun dari uang patungan para pengamen dan pemulung di Ledok Timoho. Setiap hari nya mereka menyisihkan pendapatannya, mulai dari Rp 10 - 15 ribu.

Uang itu dikumpulkan untuk membeli bahan bangunan seperti batu bata, semen dan genteng. Untuk pasir, mereka memanfaatkan melimpahnya pasir di Sungai Gajah Wong yang berasal dari aliran lahar dingin Gunung Merapi. Kebutuhan konstruksi sekolah juga berasal dari sumbangan dermawan dan relawan.

Untuk biaya operasional sekolah, lanjut Faiz, pihaknya menggulirkan program donasi sampah untuk sekolah, beternak dan menjual kaos. Ia memanfaatkan media sosial untuk menjaring donasi sampah seperti koran bekas dan botol-botol bekas, atau apa pun.

Selain dari donasi sampah, biaya operasional sekolah juga didapat dari hasil ternak bebek, kambing, dan ikan. Beberapa tahun terakhir pengelola sekolah juga mulai melakukan usaha bercocok tanam untuk menambah pemasukan. Berbagai sumber pendanaan itu mampu menanggung  biaya operasional sekolah sebesar 6 juta rupiah per bulan.

“Kami senang bisa mandiri, tidak perlu mengharapkan bantuan pemerintah,” syukur Faiz dengan nada bangga.

Selain menambah pemasukan, Faiz senang aktivitas beternak juga memberi efek positif lain bagi masyarakat sekitar. Sebab sebagian warga yang dahulu berprofesi sebagai pemulung dan pengemis kini bisa belajar beternak kambing. Pengelola sekolah menerapkan bagi hasil untuk warga yang ikut membantu merawat kambing.