Muhammad Theo Zainuri: Berkah Kacamata Kayu

Muhammad Theo Zainuri: Berkah Kacamata Kayu

Di balik kacamata kayu nan cantik yang sudah merambah hingga Inggris ada tangan-tangan terampil pekerja yang sedang pulih dari ketergantungan narkoba, mantan narapidana dan ODHA. Muhammad Theo Zainuri yang berada di balik itu semua.

 

Muhammad Theo Zainuri adalah mantan pengguna narkoba. Stigma yang ia terima tak membuatnya mudah mendapatkan pekerjaan. Berjualan produk organik hingga bubur bayi pernah ia lakukan untuk mendapatkan penghasilan.

Semua begitu sulit. Begitu teman-teman Theo sesama mantan pecandu, mantan narapidana hingga orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Mereka yang tak memiliki pekerjaan akhirnya mengais uang di ruang non formal, seperti menjadi polisi cepek.

Melihat kenyataan itu, Theo tergerak memberdayakannya. Dimulai dengan mendirikan Yayasan Sadar Hati pada tahun 2000 untuk penanggulangan HIV/AIDS.

”Sebagai pecandu dapat stigma orang nakal, melanggar hukum karena menyalahgunakan narkoba dan kriminal karena bisa mencuri untuk memenuhi kebutuhan narkobannya. Lalu kalau masuk penjara dapat stigma mantan narapidana,” jelas pria 43 tahun ini.

Mereka yang positif HIV/AIDS mendapat stigma lagi memiliki penyakit menular. Padahal, menularnya tidak semudah itu.

”Jadi mereka dapat stigma di mana-mana. Makin kompleks karena mereka harus cari uang, tapi menganggur. Tidak semua perusahaan mau menerima pengguna narkoba, ODHA, apalagi yang pernah dipenjara,” urai Theo.

Hal itu membuat mereka makin miskin. Ditambah, biaya pengobatan mahal karena tidak semua biaya ditanggung pemerintah dan ada yang tidak punya BPJS karena tidak punya KTP.

Berangkat dari kenyataan itu, Theo lantas berpikir membuat usaha untuk menampung mereka yang terpinggirkan. Ide yang muncul adalah membuat kacamata berbahan kayu, Sahawood setelah sebelumnya seorang teman memperkenalkan produk tersebut.

”Yang kami berdayakan prinsipnya kelompok karena kami punya tujuan komunitas-komunitas mantan pecandu, mantan narapidana jadi punya kelompok usaha. Prosesnya itu dari Sahawood, nantinya akan bermunculan pebisnis dari mereka, akan kami kawal, dilatih manajemen bisnis, pengelolaan keuangan, manajemen SDM dan lainnya,” urai Theo.

Mereka yang bergabung di Sahawood melalui seleksi ketat. Prosesnya diawali dari koordinator lapangan yang mendapat rekomendasi dari petugas lapangan yang mendampingi mereka. Selanjutnya, mereka berhadapan dengan tim konselor untuk proses konseling. Jika dinyatakan lolos baru bisa bergabung.

Untuk membuat kacamata ini yang digunakan kayu sonokeling atau jati limbah yang didapat dari industri furnitur atau loakan kayu. Modal untuk usahanya ini dari dana Theo sendiri dan hingga kini mereka tidak memiliki investor.

”Waktu uji coba pakai dana sendiri, untuk peralatan dan membuat prototype. Ketika hasilnya bagus, ada modal lagi setelah dapat pesanan,” jelas Theo.

Melihat Masa Depan

Bukan hal yang mudah pula bagi Theo meyakinkan mereka yang dipinggirkan. Mereka sudah pesimis dengan kehidupan. Pemicunya pun banyak, misalnya ada yang ingin bergabung, tapi karena di sini ada perajin yang dulu pernah sama-sama jadi pemakai, jadi mundur.

”Dia khawatir akan kembali jadi pemakai kalau ketemu lagi, padahal belum tentu. Kalau ada yang seperti itu saya ajak mereka memahami kondisi mereka saat ini yang tidak diuntungkan dalam kondisi sosial, kesehatan dan ekonomi. Lalu kapan lagi kalau tidak sekarang? Makanya sesuai tagline kami See The Future, saya aja mereka melihat masa depan mereka,” terang Theo.

Mereka yang pernah menjadi pemakai biasanya selalu melihat pengalaman di masa lalu. Karena memori otaknya menyimpan momen-momen yang menyenangkan saja saat menjadi pemakai.

”Makanya mereka diajak melihat kebutuhan mereka, kalau menganggur bisa ada godaan untuk kembali jadi pemakai. Belum lagi kalau mereka sudah terkena AIDS, berapa yang dibutuhkan untuk berobat?” ungkap Theo. Jumlah mereka yang jadi perajin kacamata kayu ini pun naik turun. Saat ini ada 15 orang.

Theo juga memberdayakan 12 ibu dengan ekonomi lemah untuk membuat aksesori kacamata kayu. Seperti kantung kacamata atau tabung bambu tempat kacamata. ”Daripada nge-rumpi dan tidak tahu harus bikin apa, mereka bisa kerjakan aksesori ini di rumah,” katanya.

Untuk membangun semangat para perajin, ketika produk sudah jadi, mereka akan langsung menerima bayaran. Dampaknya positif, bukan hanya peningkatan ekonomi semata, yang tak kalah penting adalah perubahan perilaku.

”Perilakunya stabil, attitude baik, tidak pakai narkoba lagi, hubungan dengan keluarganya baik. Mereka dapat apresiasi dari sekitarnya karena jadi banyak tamu berkunjung ke workshop dan diketahui media. Dengan adanya kunjungan mereka juga jadi belajar bicara. Paling penting dari itu semua membuat mereka berusaha bertahan agar hidupnya stabil,” kata Theo.

Proses pengerjaan yang selama ini masih buatan tangan, kini mendapat bantuan mesin yang pengoperasiannya menggunakan komputer. Mesin ini diperoleh berkat memenangkan kompetisi beberapa waktu lalu.

Kacamata kayu buatan mereka juga sudah diekspor ke Inggris. Setiap bulannya bisa 100 kacamata. Itu belum termasuk yang dijual untuk pasar lokal dan permintaan khusus.

”Walau saya juga pelaku bisnis, tapi dari bisnis sosial ini bukan keuntungan semata yang bisa saya dapat, tapi bisa memperbaiki kehidupan masyarakat. Itu jadi motivasi saya untuk terus bantu komunitas lain,” ungkapnya.*

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto: Arimbi dan Instagram sahawood.woodenglasses