Semarak Hari Raya

Budaya Salam Tempel, Masih Ada?

Budaya Salam Tempel, Masih Ada?

Biasanya, selain bertemu untuk bersilaturahmi, anak-anak akan sangat menantikan untuk mendapatkan amplop berisi uang baru dari para tetua. Ini menjadi satu budaya ber-Hari Raya di Indonesia, selain baju baru, ketupat dan aneka kue khas Lebaran. Tetapi, kini banyak orang tua yang kemudian berpikir, apakah tepat memberikan anak uang dalam perayaan Hari Raya?

Merupakan suatu hal yang baik saat mengajak anak untuk berkeliling ke rumah tetangga dan sanak saudara untuk bersalam-salaman di Hari Raya. Selain dapat melatih anak untuk banyak berinteraksi dengan orang, hal ini juga dapat menjadi pembelajaran bagi anak tentang pentingnya bersilaturahmi di Hari Raya. Pada momen bersalam-salaman itu pula biasanya anak akan mendapatkan amplop berisi uang dari pemilik rumah yang dikunjunginya.
    
Sayangnya, budaya ini terkadang disalahartikan oleh anak-anak. Mungkin karena mereka tidak diberikan penjelasan tentang makna sebenarnya dari bersilaturahmi. Seringkali terjadi anak-anak bersedih dan menggerutu ketika tidak mendapatkan amplop berisi uang ketika berkunjung ke salah satu rumah kerabat. Kalau sudah begini, bagaimana orang tua harus bersikap?

Sebagai Rewards
    
Sebuah hal yang wajar jika kita mendapatkan rewards atas apa yang telah kita kerjakan. Dalam Islam dan agama mana pun, tentunya mengajarkan bahwa akan ada balasan setiap perbuatan yang kita lakukan, baik maupun buruk. Termasuk dalam hal berpuasa, sebagai orang tua, tentu akan ada perasaan ingin memberikan rewards pada anak yang berhasil menyelesaikan puasanya.
    
Menurut Erika Suryani Dewi, Lc, M.A., konsultan rumah tangga sekaligus dosen di STIU Al Hikmah, mengatakan bahwa pemberian uang Lebaran pada anak sebagai rewards karena telah berhasil menyelesaikan puasanya boleh-boleh saja, asalkan diiringi dengan pemberian pemahaman pada anak tentang nilai ibadah Ramadan dan Hari Raya.

“Hari Raya tidak identik dengan baju baru, tapi dengan baju bersih yang dipakai untuk salat. Hari Raya juga identik dengan lahirnya sosok yang baru, ibarat ulat yang pada saat Ramadan menjadi kepompong dan pada saat Idul Fitri menjadi kupu-kupu. Nilai-nilai itulah yang harus ditanamkan pada anak agar anak tidak berorientasi dunia ketika menjalankan ibadah Ramadan,” papar Erika saat ditemui WI di kediamannya.

Erika juga mengatakan bahwa uang Lebaran ini sifatnya seperti hadiah dari orang yang dikunjungi. Karena berupa hadiah, maka haruslah diterima, tetapi sebagai orang tua kita harus memberikan pemahaman pada anak, bahwa hadiah hanyalah hal manis yang kita dapatkan setelah mengerjakan sesuatu, dan sifatnya tidak wajib. Bangunlah mental anak agar ia tidak memiliki pemikiran bahwa uang lebaran merupakan sebuah keharusan. Jika diberi, anak boleh menerima, tetapi jangan mengharap-harap.

Ajarkan Anak Bersedekah
    
Selain mengajarkan anak untuk tidak mengharap-harapkan adanya pemberian, penting juga mengajarkan anak untuk menyedekahkan sebagian uang lebaran yang diterimanya. Beritahu anak bahwa setiap rezeki yang diterimanya bukanlah miliknya seorang, melainkan ada sebagian yang merupakan milik orang lain yang lebih membutuhkan, yang dititipkan Tuhan padanya.
    
Jadi, setelah anak menerima uang Lebaran, ajaklah ia untuk berkunjung ke panti asuhan atau ke panti jompo, misalnya. Minta ia untuk menyisihkan uang Lebarannya untuk disumbangkan. Dengan begitu, anak akan terdidik untuk lebih peduli dan menyayangi sesama.


Teks: Nydia Jannah
Foto: Istimewa