Semarak Hari Raya

Menyiasati Pengeluaran Hari Raya

Menyiasati Pengeluaran Hari Raya

Perayaan selalu dipersiapkan dengan teliti. Termasuk Hari Raya dimana seluruh umat muslim merayakan hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Tapi apakah bijak jika di Hari Raya tersebut kita mengeluarkan dana yang berlebihan sehingga setelah momen tersebut lewat, tidak tersisa dana untuk hal lainnya?

Lebaran identik dengan berbagai kebutuhan yang diingirin dengan pengeluaran-pengeluaran yang tak biasa ada di bulan-bulan lainnya. Pengeluaran-pengeluaran seperti zakat fitrah, THR untuk asisten rumah tangga, baju baru untuk anak, transportasi dan akomodasi untuk mudik, serta pengeluaran-pengeluaran lain yang terkait persiapan Hari Raya.

Meskipun sudah dibuat perencanaan dari jauh-jauh hari, jika tidak diiringi dengan pengendalian diri, over budget pun tak akan bisa dihindari. Akibatnya, kondisi keuangan Anda setelah Hari Raya pun menjadi terpuruk.

Melakukan perencanan keuangan mungkin merupakan hal yang mudah, namun eksekusinya terkadang sulit jika tidak tegas pada diri sendiri. Seringkali kita mungkin tidak jujur pada kemampuan diri sendiri dalam hal finansial, terutama dalam hal membedakan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang merupakan keinginan.

Begitulah sekiranya yang juga dikatakan oleh Lisa Listiana, S.E., M.Ak., pakar keuangan. Adalah hal yang manusiawi jika semakin banyak pemasukan, maka akan semakin banyak juga yang ingin kita beli, sehingga pengeluaran pun juga semakin banyak, bahkan seringkali melebihi dari dana yang tersedia.

Menurut Lisa, alangkah baik jika kita menyisihkan dahulu sebagian dari penghasilan bulanan dan THR yang kita terima. Jangan menunggu ada sisa, karena umumnya uang berapa pun pasti akan habis jika tidak disisihkan terlebih dahulu di awal.

Setelah itu, barulah Anda membuat perencanaan dengan menentukan pos-pos pengeluaran yang sifatnya wajib, seperti zakat fitrah dan THR untuk asisten rumah tangga.

Anda bisa membuat pos-pos pengeluaran untuk kebutuhan-kebutuhan lain yang sifatnya tidak terlalu wajib, namun harus tetap strict pada diri sendiri agar tidak terbawa hawa nafsu untuk membeli hal-hal yang hanya bersifat keinginan semata. Jadi, yang penting yang harus dilakukan adalah jujur pada diri sendiri tentang apa saja yang merupakan kebutuhan dan apa saja yang hanya sekadar keinginan.

Tidak Perlu Memaksa

Budaya yang ada, setiap Hari Raya anak-anak dibelikan baju baru. Namun apakah sebenarnya membeli baju baru adalah hal wajib yang harus dilakukan? Kebiasaan seperti ini yang terkadang menjadi satu hal yang membuat budget Hari Raya membengkak. Apalagi jika di saat berbelanja, kita tergoda akan besarnya diskon yang ditawarkan.
    
Selalu ada cara untuk bisa tampil cantik dan pantas di Hari Raya. Anda bisa dengan cermat memadumadankan busana lama yang memang masih pantas dikenakan di acara silaturahmi keluarga.

"Kembali lagi harus jujur pada diri sendiri. Jika memang kita merasa perlu membeli baju karena baju-baju kita sudah banyak yang tidak layak atau mungkin sudah disumbangkan sebagian, berarti tidak apa-apa untuk membeli baju baru. Tetapi kalau kita lihat di lemari baju kita ternyata baju kita masih cukup banyak, sebaiknya tidak perlu beli baju, karena baju-baju lama itu bisa kita mix and match, kita padupadankan, sehingga walaupun baju lama, akan terlihat seperti baru," papar pendiri Komunitas The Real Ummi yang kini sedang menempuh studi S3 di Kuala Lumpur itu.

Teks: Nydia Jannah
Foto: Istimewa