Beauty and The Beast

Beauty and The Beast

Film fantasi musikal Beauty and The Beast garapan Bill Condon yang dirilis 17 Maret lalu rasanya sudah ditunggu-tunggu oleh para pecinta film.Salah satu film adaptasi dari Disney Pictures ini, telah lama diperbincangkan oleh para pencinta film Disney. Bagaimana tidak, selain berhasil menggaet Emma Watson sebagai pemeran utama, film ini diharapkan bisa menghadirkan nilai magis lebih dari film terdahulunya.
 
Bagi Anda yang sudah pernah menonton film Beauty and the Beast di tahun 1991, pasti masih mengingat adegan fenomenal di mana seorang putri cantik berdansa dengan pangeran monster yang terkena kutukan, dan akhirnya jatuh cinta. Dari film tersebut, banyak yang akhirnya percaya, bahwa cinta bukan hanya perkara fisik saja, melainkan hati yang tulus. Kali ini, Disney ingin menunjukkan lagi sisi magis cinta melalui remake film Beauty and the Beast.

Tentu hal ini pun dirasakan oleh Emma Watson, sang pemeran utama wanita. Sosok yang sudah sangat dikenal sebagai Hermione Granger dalam film Harry Potter ini, mengaku cukup berat untuk memerankan Belle.

“Belle identik sebagai putri yang lembut, dan itu bertolak belakang dengan kepribadianku yang keras. Aku mencoba mendiskusikan hal ini dengan sutradara. Alih-alih patuh menerima sosok Belle, aku menginginkan sebagian karakterku masuk ke dalam Belle. Misalnya saja aku lebih memilih menggunakan boots dibanding sepatu balet. Akan ada adegan aku menunggangi kuda, jadi rasanya sepatu balet tidak cocok. Dan untuk adegan "Be Our Guest", aku menghabiskan waktu selama sebulan untuk latihan. Aku tidak sabar untuk memperlihatkannya kepada orang-orang,” ujar Emma.

Tidak Ada Sindrom Stockholm

Sejak dikabarkan akan memerankan Belle, Emma rupanya menjadi subjek favorit para pakar psikologis untuk diteliti. Pasalnya, hingga saat ini para pakar psikologis tersebut yakin bahwa film ini menunjukkan gejala sindrom stockholm untuk seorang Belle.

Perlu diketahui bahwa sindrom stockholm merupakan kondisi di mana seorang tahanan memiliki ikatan dengan penahannya. Beberapa orang percaya bahwa Belle hanya jatuh hati pada Si Buruk Rupa, karena merasakan efek psikologis selama menjadi tahanan di kastil istana.

“Aku sangat senang jika film ini mendapat perhatian ekstra dari para pakar. Selama aku menjalankan proses syuting dan bertransformasi sebagai Belle, aku merasa Belle tidak lantas mudah terpesona dengan Beast. Tidak ada satu pun sifat Belle yang menunjukkan kepatuhan atau keterpesonaan tanpa dasar. Ia tetap menjaga pikirannya dan terus-menerus mengeluarkan pendapatnya,” jelas gadis yang menyatakan diri sebagai seorang feminist ini.

Belle dan Beast memulai kisah cinta mereka dengan saling berkelahi satu sama lain, saling membenci satu sama lain. Namun, mereka membangun persahabatan yang perlahan mengarah pada cinta.

“Semuanya memerlukan proses, dan proses bukan sesuatu hal yang singkat. Belle melihat kebaikan hati Beast. Dan aku lebih percaya magical love dibanding sindrom stockholm,” pungkasnya.

Teks: Rizkita Lubis
Foto: Istimewa