Ibunda Chelsea Islan, Samantha Barbara: My Sweety Pie

Ibunda Chelsea Islan, Samantha Barbara: My Sweety Pie

Memandang putrinya tumbuh dengan baik dan mengukir banyak prestasi, ibu mana yang tak bersyukur dan bangga. Begitupun ibunda Chelsea Islan, Samantha Barbara. Ia jadi terkenang masa-masa kecil Chelsea yang menggemaskan.

 

”Dia sangat wonderer, mau tahu aja terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Pokoknya banyak nanya ini itu, cerewet deh. Hobinya berenang, melukis dan taekwondo. I call her ’my sweety pie’, gemesin dan suka bikin orang tertawa, tapi kadang nyebelin juga hahaha… Kalau sudah ada maunya, sulit dibendung,” cerita Samantha mengenang.

Namun Samantha harus rela tidak menyaksikan tumbuh kembang putrinya sepanjang 24 jam. Itu karena sejak kembalinya dari Amerika Serikat pada tahun 1997, ia harus berbagi peran sebagai ibu rumah tangga sekaligus wanita karier.

”Saya harus bekerja pada hari kerja. Makanya setiap weekend saya 100% fokus pada keluarga. Saya rasa sama dengan kebanyakan perempuan, putra-putri mereka dipercayakan kepada orang-orang dan keluarga  terdekat ketika mereka pergi bekerja,” kata Samantha.

Meski begitu Samantha berusaha keras tak lalai dalam pendampingan dan pendidikan buah hatinya. Dia sadar ini tanggungjawab utamanya sebagai ibu. Terlebih orangtuanya juga mengajarkan demikian. Beruntung keluarganya telah memberikan kurikulum yang baik untuk ditiru.

”Orang tua saya mengajarkan, pendidikan pertama yang ter-exposed untuk seorang anak datang dari keseharian keluarga, terutama orang tuanya. Apa yang dilakukan orangtuanya, itulah yang ditiru anak. Jadi tak hanya berbicara, orangtua pun harus mempraktikkan unggah ungguh dan sopan santun,” urai Samantha tentang pendidikan dasar yang dia terapkan.

Hal lain yang menurut Samantha tak kalah penting dipraktikkan seorang ibu adalah mengamati talenta dan ketertarikan anak-anaknya, untuk kemudian mendukungnya. ”Oleh karenanya kami tidak pernah memaksakan ’cita-cita’ atau ’keinginan orang lain’ kepada Chelsea. Sebaliknya, kami mendukung apa yang dia inginkan dan cintai, juga membantu agar dia bisa sampai pada cita-citanya itu,” ungkapnya serius.

Samantha lantas mencontohkan perbincangannya dengan Chelsea saat masih kelas kelas 2 SMA. ”Waktu itu Chelsea bilang nantinya ingin berkecimpung di industri fesyen. Saya tanya, ”Apa itu fesyen? Dan dia mau jadi apa?” Karena ada banyak jalur karier dalam industri ini. Akhirnya saya minta dia mereview industri itu, kemudian selama 1 tahun Chelsea saya anjurankan untuk magang di berbagai pekerjaan yang terkaitan dengan fesyen,” kisah Samantha.

Chelsea menjalani semua pekerjaan anak magang. Mulai dari menjadi stylist, penulis fesyen, bagian traffic yang berurusan kesana ke mari, mendampingi desainer, jadi model, mengikuti kelas fashion photographer, membuat karya baju recycle dan mengikuti pameran baju recycle, hingga mengambil kelas make up fashion.

”Apa hasilnya? Ternyata tidak seperti yang dia bayangkan diawal. Jadi dunia ini bukan area yang tepat untuk Chelsea mengembangkan talentanya,” simpul Samantha.

Kesimpulan ini mengantar Samantha dan Chelsea berdiskusi lagi untuk melihat kemungkinan-kemungkinan lainnya. Chelsea sempat mengatakan ingin menjadi pengacara atau psikolog, namun Samantha melihat ketertarikannya lebih besar pada hal-hal menyangkut dunia kreatif. Begitulah kemudian Chelsea memasuki dunia hiburan.

”Tentunya semuanya ini proses, dan proses inilah yang mematangkan hubungan kita dengan anak kita. Dalam proses itu kami juga melihat kendala-kendalanya, kami perhitungkan opportunity yang ada, dan kemudian kami serahkan kepada Chelsea untuk memutuskan. Karena dia yang akan melakukan dan dia harus mencintai apa yang dia lakukan. Dengan demikian setiap detiknya berharga dan menyenangkan,” imbuh Samantha mengurai rahasia didikannya.

Menularkan Semangat Kebaikan

Hal lain yang selalu Samantha tularkan pada Chelsea adalah memaknai segala pengalaman sebagai pembelajaran. ”Makanya buat kami setiap hari adalah pembelajaran. Setiap hari ada progress yang terjadi dan tentunya kami memilih fokus pada hal-hal yang positif. Hal dimana Chelsea bisa memberikan dampak kepada orang lain juga,” katanya bijak.

Tak ketinggalan, Samantha juga mengingatkan agar Chelsea melakukan sesuatu yang dia cintai dan mencintai yang dia lakukan, meski itu hal kecil. Bukan karena disuruh orang tua, bukan pula karena orang lain.

Dengan semua hal yang ia terapkan itu, Samantha mensyukuri segala hal yang dia lewati bersama putri dan keluarganya. Termasuk ketika dirinya divonis dokter menderita kanker payudara. Vonis yang kini mengantarnya aktif di organisasi sosial kanker payudara, LOVEPINK.

”Organisasi ini digagas oleh dua orang sahabat saya, dan sekarang saya memang fokus dan komit 100% di sini. Saya belajar banyak dari teman-teman sesama survivor yang saya temui di komunitas support group ini. Demikian juga Chelsea saya ajak untuk berkontribusi dalam kampanye ’Pentingnya deteksi dini kanker payudara’ untuk anak-anak muda. Ini penting supaya generasi muda tidak mengulang pengalaman kami,” tegas Samantha.

Melibatkan Chelsea dalam aksi sosial memang menjadi salah satu cara Samantha menularkan semangat kebaikan. ”Seperti saya dari kecil diajarkan keluarga dan ayah saya untuk selalu berbagi dan respek sama alam. Dari hal-hal kecil seperti belajar naik gunung, kamping, memelihara ayam, kucing, anjing, burung dan kelinci, juga menghormati manusia di sekitar kita. Jadi turun termurun kamipun melalukan hal ini dengan natural. Demikian juga saya tularkan hal-hal ini kepada Chelsea,” tuturnya.

Seiring waktu Chelsea semakin dewasa dan Samantha tak mau terlalu ’cerewet’ lagi. Salah satu penandanya, saat Chelsea mulai tertarik pada lawan jenis.

It is a sure sign that your little angel is growing up (Ini sungguh pertanda bahwa malaikat kecilmu beranjak dewasa, red.),” ujar Samantha sembari tersenyum.

Sebagaimana dalam hal pekerjaannya di dunia hiburan, Samantha juga tak ingin terlalu campur tangan dalam urusan asmara Chelsea. Ia tak mau memaksakan kehendak, meski juga bukan berarti cuek. Sesekali ia memberi wejangan dan tetap memasang mata.

”Kami memberikan wejangan mengenai arti relationship dan memberitahu bahwa the role of women is not to be taken advantage of. Kami membantu dia untuk melalui proses tersebut supaya perlahan anak-anak dapat memperoleh kemandirian, bagaimana menghadapi dan mencari cara yang terbaik dalam mengahadapi pacarnya. Saat ini, di era beyond borders, teknologi yang serba cepat; maka sebagai orang tua kami harus lebih terbuka dengan anak-anak. Kami menjadi teman dekat mereka, hangout bareng, mencoba hal-hal baru bersama,” cerita Samantha.

Dengan berbagai cara itu, ia berharap Chelsea tetap pada jalurnya dan bisa terus berkarya serta menginspirasi anak-anak muda lainnya. ”Juga memberikan kontribusi yang lebih dalam untuk industri kreatif maupun perfilman Indonesia. Karenanya semoga dia sehat terus,” pungkas Samantha berdoa.*

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Dok Pri.

Seleb Indonesia, Inspiratif, Artis Wanita Paling Bersinar 2016, Karier, Wanita, Wanita Indonesia, Samantha Barbara, Kanker Payudara, LOVEPINK

Artikel Terkait

Comments