Curahan Hati Putri Antasari Azhar: Saya Dipaksa Kehilangan Ayah

Curahan Hati Putri Antasari Azhar: Saya Dipaksa Kehilangan Ayah

Setelah menjalani masa tahanan 7,6 tahun mantan Ketua KPK Antasari Azhar menghirup udara kebebasan. Kepulangannya disambut suka cita oleh keluarga, terutama putri bungsunya, Ajeng Oktafrika Antasari Putri.

 

Pahitnya hidup di balik terali penjara selama 7,6 tahun tak hanya dirasakan Antasari Azhar seorang. Keluarga, terutama istri dan kedua anaknya, Andita Dianoctora Antasari dan Ajeng Oktafrika Antasari Putri.

Maka, ketika 10 November 2016 lalu Antasari mendapat kebebasan bersyarat setelah mendapat remisi 53 bulan 10 hari, keluarga menyambutnya penuh haru. Bahkan Ajeng tak mampu menutupi emosinya yang meluap-luap.

Ingatan peristiwa 4 Mei 2009 seolah kembali menari-nari di kepala Ajeng. Ketika dia mendengar kabar sang ayahnya ditangkap atas dugaan sebagai otak pembunuhan Direktur PT Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen.

Ajeng pun menuliskan curahan hatinya dan diunggah ke akun facebook miliknya menjelang hari kebebasan Antasari.

 

Assalamualaikum Wr. Wb

4 Mei 2009.. itulah untuk pertama kalinya dalam hidup "dipaksa" menghadapi persoalan yang tidak ada seorang pun siap menghadapinya. Ketika Papa dituduh sebagai otak kasus pembunuhan. It's only a dream. A very bad one. That's what I thought. Tapi sayangnya itu bukan mimpi.

Tuduhan tak berdasar yang pasti disasarkan oleh orang-orang sama sekali tidak mengenal Papa. Orang-orang tidak bertanggung jawab. Sebentar saja bersama Papa orang akan tahu bahwa Beliau tidak mungkin melakukan itu semua. Di balik penampakannya yang dingin sesungguhnya dia adalah orang yang berhati lembut. Tidak saya bukan sekadar mengagung-agungkan seorang ayah, tapi itu juga pendapat banyak orang yang mengenal Beliau dengan baik. Teman sekolah, anak buah di tempat kerja, pekerja di rumah, bahkan para mantan atasan Beliau.

Berbagai macam cara dan usaha kami lakukan untuk mengungkap kebenaran guna mencari keadilan. Tetapi apa daya, "suara" kami hanyalah sebatas angin sepoi yang sebentar ada lalu hilang di telan pusaran angin yang lebih besar.

Tidak terasa bagi banyak orang, tapi sangat terasa bagi kami. Terutama saya. "Dipaksa" kehilangan sosok Ayah di dalam kehidupan saya. Terlalu banyak momen atau kenangan dalam hidup kami yang tidak akan pernah mungkin dapat ditukar dengan apapun, karena waktu tidak akan pernah bisa terulang. Marahkah saya? Sudah pasti. Itu manusiawi. Ingin membalaskah saya? Tidak. Papa selalu mengatakan tidak perlu kita membalas apa-apa. Ikhlaskan saja. Kita punya Allah Yang Maha Segalanya. Biar Allah yang lebih berhak mengadili dan "membalas mereka". Kalau tidak di dunia, nanti di akhirat. Tapi itu pasti terjadi. Karena Allah tidak tidur. Kita jalani saja hidup dengan sebaik-baiknya.

22 tahun usia saya waktu itu. Sedang berusaha mengejar mimpi saya mengambil Master di benua Kanguru. Tapi mimpi itu saya simpan terlebih dahulu demi berada di samping Papa dan tidak sedetikpun saya sesali. Hampir 2 bulan sejak kasus ini muncul baru saya dan kakak saya "diperbolehkan" untuk bertemu Papa (don't ask why). Saya ingat kami bertiga berpelukan seolah tak ingin lepas.

Pada tanggal 11 Februari 2010 hakim menjatuhkan hukuman 18 tahun untuk Papa. Usai sidang saya dan kakak saya melompati kursi untuk bisa menuju ke pelukan Papa yang mencari kami. Masih teringat dengan jelas pertanyaan Papa kala itu dengan suara bergetar: "Mbak kuat? Adek kuat?" Kami menjawab, "Insya Allah kuat Pa". Papa pun berkata "Kalo mbak dan adek kuat pasti papa juga kuat". Dan kami pun kembali saling memeluk untuk menguatkan.

Pada periode waktu tersulit dalam hidup saya ini saya akhirnya bisa memilih dan memilah mana teman, mana sahabat, mana saudara dan mana lawan. Ada kawan yang tiba-tiba jadi lawan. Ada lawan yang akhirnya justru membela layaknya kawan. Ada pepatah yang mengatakan "berhati-hatilah terhadap teman yang memelukmu dengan sangat erat. Bisa jadi dia melakukannya untuk menancapkan pisau lebih dalam di punggungmu". And sadly, it happens!

7,5 tahun berlalu, insya Allah besok pada tanggal 10 November 2016 pukul 10.10 saya bisa kembali memeluk Papa untuk kembali pulang ke rumah. Ke tempat seharusnya Beliau berada bersama kami selama ini. Merajut kembali mimpi yang pernah terputus, menorehkan kembali kenangan manis yang sempat terlupa. Mengenal lebih jauh lagi menantu-menantu dan cucu-cucunya yang selama ini terbatasi jeruji besi.

Banyak kisah yang ingin saya ceritakan tapi terlalu panjang untuk saya tulis di sini. Kiranya boleh saya ingin meminta keikhlasan hati teman-teman, saudara-saudara sekalian untuk mendoakan kelancaran dan kemudahan proses pembebasan bersyarat Papa besok.

Semoga Allah selalu meridhoi, memberkahi dan melindungi niat baik kita semua. Aamiin

Wassalamualaikum Wr. Wb

Tangsel, 9 November 2016
Ajeng Oktarifka Antasariputri

 

Mata Ajeng berkaca-kaca. Air mata haru dan bahagia pun jatuh. Penantian panjang akhirnya terwujud. ”Buat saya ini sebuah kelegaan. Akhirnya kebebasan itu bisa didapat papa,” ungkap Ajeng di sela acara syukuran kecil di rumah orang tuanya, di Tangerang, Banten.

Tentang curahan hatinya yang diunggah ke media sosial, Ajeng mengatakan untuk meluapkan perasaannya. Bahagia sekaligus jeritan hatinya yang selama bertahun-tahun terpendam.

”Waktu itu usia saya baru 22 tahun. Dulu saat menjalani ya berat banget. Tapi saya cuma menjalani hari demi hari untuk berusaha ikhlas, ikhlas dan ikhlas supaya enteng menjalaninya,” ucapnya.

Ajeng yang saat itu bersiap menempuh kuliah di Australia harus mengubur mimpinya meraih gelar master. Setelah ayahnya ditahan, dia pulang ke tanah air.

”Padahal waktu itu baru mau mulai kuliah, baru empat bulan di sana. Karena buat saya waktu untuk mendampingi papa lebih penting. Karena saya berpikir waktu untuk papa itu nggak akan ada gantinya. Dan saya nggak menyesal sama sekali. Saya melanjutkan di Trisakti, ambil jurusan Ekonomi,” urai Ajeng.

Berat Sekali

Keinginan Ajeng pulang agar bisa mendampingi Antasari tak bisa terwujud mudah. Dia terhalang sejumlah prosedur dan baru bisa bertemu setelah ayahnya dua bulan menjalani masa tahanan di Polda Metro Jaya.

”Apalagi saya terakhir ketemu papa sebulan sebelum kasus itu. Papa mengunjungi saya ke Australia. Waktu itu papa datang untuk memastikan bahwa saya bisa ditinggal sekaligus menjemput mama pulang,” tutur Ajeng.

Setelah itu Ajeng merasa waktu berjalan begitu lambat. ”Tiba-tiba papa nggak ada lagi di rumah. Selama dua bulan aku dan kakakku nggak bisa ketemu papa. Itu berat sekali,” akunya.

”Mama setiap hari antar makanan. Setiap mama pulang, kita tanya, Apakah kita sudah dapat izin menjenguk papa? Belum bisa, belum bisa. Kami  sedih bukan main. Kenapa susah banget untuk ketemu? Kalau kami yang ketemu, apa sih yang dibicarakan? Pasti cuma obrolan antara ayah dan anak pada umumnya kok,” sesal Ajeng.

Meski berat menjalani, toh tidak membuat Ajeng depresi. Dia bersyukur dikelilingi keluarga dan sahabat yang begitu mencintainya.

Ajeng sendiri berusaha mengembalikan persoalan itu kepada Tuhan Yang Maha menguatkan segalanya. Di saat sedang down, dia berwudhu, kemudian bersimpuh di atas sajadah sambil berdoa untuk kebaikan ayahnya.

”Alhamdulillah nggak sampai depresi karena ada Allah swt yang menguatkan. Ada mama dan kakak yang beusaha menenangkan. Lingkungan juga menguatkan, teman-teman dari kecil sampai SMA menguatkan. Mereka bilang nggak percaya dengan semua yang dituduhkan ke papa. Mereka minta saya untuk sementara waktu nggak usah nonton televisi,” ungkap Ajeng.

Memang, berita di televisi dirasakan Ajeng menyakitkan. ”Banyak orang yang berkomentar seolah-olah nggak kenal papa. Ini orang asal ngomong aja kayaknya. Papa juga nasihatnya begitu. Stop nonton televisi, nggak usah datang ke persidangan. Kami disuruh tinggal di rumah,” ujarnya mengenang.

Sebagai anak penegak hukum, Ajeng mengaku sudah tahu konsekuensi yang harus dihadapi. Kalau sekadar teror, sudah biasa dia rasakan. Namun dia tak pernah menyangka justru teror terbesar adalah ayahnya mendekam di penjara.

”Waduh kalau sinetron sudah berapa episode tuh? Belum lagi waktu dengar ada wacana akan dihukum mati. Kalau cuma mau papa nggak jadi ketua KPK lagi, kenapa harus sampai dihukum mati? Kok sepicik itu ya? Saya sampai mikir, apa tidak memiliki hati nurani, apa mereka nggak punya Tuhan? Saya sebut mereka, karena memang ada yang mengatur semua ini, kan?” tandas Ajeng.

Kecewa pada hukum? Ajeng menggeleng. Menurutnya rasa kecewa bukan harus berbuah jadi benci. Namun dia berharap semestinya hukum harus diperbaiki. Harus ada orang-orang yang berani memperbaiki. Jika tidak, maka hukum akan selalu seperti itu.

Oleh karena itulah, Ajeng tak akan melarang ketika ayahnya akhirnya memutuskan untuk kembali berkiprah di dunia hukum. ”Cuma porsinya diperbesar untuk keluarga. Kalau keluarga memanggil, papa tolong dengar,” katanya.

”Saya nggak akan melarang papa. Kalau bisa memberikan manfaat positif untuk banyak orang, kenapa nggak? Itu akan jadi pahala yang tidak akan berhenti mengalir buat beliau,” sambung Ajeng.

Ajeng juga menegaskan, dia sama sekali tidak trauma. ”Risiko kerja dimana saja akan sama. Namanya hidup,tapi kita kan punya perlindungan yang sangat amat besar dari Allah. Kalau Allah katakan tidak, ya pasti tidak. Ketika Allah katakan ya kamu masuk penjara, ya dijalani saja. Semua pasti ada hikmahnya,” tutup ibunda Agria Wimala Antasariputri Cipto, 9 bulan ini. *

Teks: Dewi Muchtar   I   Foto: Zulham, Dok.Pri