Demi BPJS Kesehatan, Antre dari Subuh hingga Malam

    14 November 2016
Demi BPJS Kesehatan, Antre dari Subuh hingga Malam

Untuk cepat sembuh dukungan dari keluarga sangat diperlukan dan itu sangat berarti buat keluarga kita yang sakit. Termasuk ketika harus antre dalam memanfaatkan BPJS Kesehatan.

 

Nasib baik memang tidak selamanya menyapa kita sebagai peserta BPJS. Dari hampir 100 juta masyarakat Indonesia yang menjadi peserta, memang tidak semuanya mendapat pelayanan baik ketika berobat.

Salah satu keluhan terbanyak adalah antrean panjang pada saat berobat. Begitu panjangnya terkadang membuat si pasien yang ingin berobat sudah kelelahan dulu.

Seperti dialami Ir. Sriyono, 51 tahun. ”Tapi harus bagaimana lagi? Ini memang risiko ingin sembuh tapi dibayar oleh negara. Yang penting kan kita bisa berobat, penyakitnya sembuh dan tidak perlu stress karena mahalnya biaya berobat,” katanya.

Pria pemegang kartu BPJS mandiri satu keluarga ini memang tidak pernah lelah setiap minggu harus mengantre dari subuh hingga jam 9 atau jam 10 pagi. Semua ini dilakukannya demi mendukung istrinya yang terkena pembengkakan jantung.

”Satu tahun ini istri saya terdiagnosa mengalami pembengkakan di jantungnya. Ini efek dari infeksi di paru yang pernah dialaminya tiga tahun lalu. Jadi ketika infeksi tersebut sembuh, setahun ini justru jantung istri saya sering mengalami pembengkakan. Karena istri saya tidak bisa capek, maka saya yang harus antri untuk dapat jadwal ketemu dokter spesialisnya,” ungkap pria penyuka batik ini, ketika ditemui di rumah sakit jantung Harapan Kita.

Biasanya setelah subuh bapak dua orang anak ini sudah mulai jalan dari rumah. Ia berusaha sepagi mungkin untuk ngantri agar bisa dapat jadwal dokter tidak terlalu siang.

”Kalau kesiangan saya juga bisa antre obat sampai malam dan ini sangat menyita waktu kerja saya sehingga bolos atau izin dari kantor. Pokoknya saya hanya berbuat yang terbaik agar istri saya tidak kelelahan. Jadi istri saya pun nyaman untuk berobat dan terpacu untuk sembuh. Sakit seperti ini memang perlu dukungan kuat keluarga,” ujar karyawan sebuah perusahaan swasta di Jakarta ini.

Kalau sangat terpaksa tidak bisa mengantar istrinya, pria yang suka traveling ini biasanya akan mempercayakan ke salah satu kerabatnya. Ini Sriyono lakukan lagi-lagi demi istrinya agar tidak capek. ”Dari antre jadwal dokter, ngurus administrasi sampai ngantri obat itu sangat melelahkan,” tambahnya.

Menjadi peserta BPJS memang sangat dirasakan manfaatnya oleh pria asal Solo, Jawa Tengah ini. Ia mengaku pada awal istrinya terdiagnosa infeksi paru lalu ber efek pada pembengkakan jantung, mereka berobat pakai umum. Untuk sekali jadwal pertemuan dengan dokter spesialis saja ratusan ribu uang yang harus dikeluarkan. Itu belum termasuk biaya obat dan tindakan.

Jadi bisa dibayangkan sendiri berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk sekali berobat. Tetapi kini ia merasa lega karena biaya berobat istrinya dibayarkan oleh BPJS.

Teks: Kiki Kesturi   I   Foto: M Nur Ridho, Zulham

Aktual, BPJS Kesehatan, Biaya Kesehatan Mahal, Layanan Kesehatan, Kecewa BPJS Kesehatan, Antre BPJS Kesehatan

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments